Melihat Bak Tempat Produksi Garam yang Mangkrak di Bantul

Bantul Pimpinan DPRD Bantul melakukan sidak ke fasilitas bak penampung air laut di Pantai Samas. Diketahui bahwa bak penampungan yang dibangun oleh pemerintah ini mangkrak.

“Kami prihatin, karena kami melihat Bantul punya Pantai Selatan, yang berpotensi menjadi sentra produksi garam,” ujar Wakil Ketua DPRD Bantul Mahmud Ardi Widanto saat meninjau bak penampung air laut di Pantai Samas, Jumat (4/8/2017).

Ardi menyayangkan fasilitas yang dibangun pemerintah ini tak terawat, tidak dimanfaatkan secara optimal oleh warga setempat. Untuk itu kalangan dewan disebut dia, siap menganggarkan pembangunan fasilitas serupa di Pantai Samas.

“Kami siap untuk menganggarkan infrastruktur maupun (memberikan) pendampingan ke warga,” paparnya.

“Kendalanya versi dinas (Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul), bak penampung air laut ini kewenangannya provinsi (Dinas Kelautan dan Perikanan DIY). Tapi Pemkab (Bantul) jangan lepas tangan dong,” tegasnya.

Namun Ardi menyebut pihaknya masih menunggu pengajuan dari dinas terkait. Bila sudah ada pengajuan, pihaknya berjanji bakal menindaklanjuti.

“Prosedurnya harus ada pengajuan dari dinas. Kami jelas mendorong revitalisasi (produksi garam),” ungkapnya.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Diperpautkan) Bantul, Istriyani mengakui dulunya para nelayan di Pantai Samas banyak mendapatkan bantuan alat pembuatan garam. Namun fasilitas tersebut akhirnya mangkrak.

“Banyak, ada terpal, blong, banyak yang belum dimanfaatkan, makanya harus dimanfaatkan kembali,” sebutnya.

“Sebenarnya di Pantai Samas bagus sekali potensinya (pembuatan garam). Tapi kami (Diperpautkan Bantul) harus merumuskan program kegiatan yang tepat dulu seperti apa. Kalau masyarakatnya siap, kenapa tidak (dihidupkan kembali)?” imbuhnya.

Ketua Nelayan Pantai Samas Sadino (65) menambahkan, fasilitas bak penampung air laut di Pantai Samas dulunya merupakan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Tapi karena cuaca tak mendukung, aktivitas produksi garam akhirnya berhenti.

“Dulu bak ini dikelola satu kelompok, satu kelompok berisi 50 orang, jadi bergantian mengelolanya. Cara produksinya pas sore hari ambil air laut, di bak lalu dikontrol kadar garamnya. Kalau sudah standar (kadar garamnya) dialirkan ke terpal. Di terpal satu hari sudah mengering bisa diambil garamnya,” tuturnya.

Bak penampungan air laut di Pantai Samas, Bantul. Foto: Usman HadiSadino mengatakan, bak penampung air laut tersebut sehari bisa memproduksi 5060 kilogram garam krosok.

“Kalau cuaca bagus per hari bisa memproduksi 50 sampai 60 kg garam krosok. Tapi sejak tahun 2016 produksi berhenti, penyebabnya karena kemarau basah,” pungkasnya.