Manusia yang Tak Pernah Puas

Wolter Robert van Hoëvell, yang hidup di sekitar abad ke-19, tahu banyak soal manusia dan keluhan-keluhannya. Sebagai seorang pendeta, ia mengerti bagaimana rasa tidak puas menjalari lapis demi lapis hasrat manusia.

Sebagai anggota Partai Liberal Belanda sekaligus penentang kolonialisme, ia juga paham bagaimana wajah ketamakan dalam citra terbesarnya. Pun sebagai prosais, dengan nama pena Jeronymus, ia piawai menyusun alegori tentang itu semua lewat sebuah cerita pendek. Judulnya Japanse SteenhowerPemecah Batu Jepang.

Saya membaca cerpen tersebut dalam versi yang diceritakan kembali oleh Eduard Douwes Dekker alias Multatuli dalam novel Max Havelaar. Dahulu kala, hiduplah seorang kuli pemecah batu Jepang yang tak bernama. Si pemecah batu adalah seorang pekerja keras, tetapi di suatu titik ia mendadak tak puas. Ia merasa kuli pemecah batu adalah jenis pekerjaan yang rendah. Ia ingin menjadi orang kaya yang bisa hidup santai tanpa kerja keras.

Sesosok Malaikat lantas turun dari surga, memenuhi permintaan si Pemecah Batu. Namun kemudian, menjadi kaya tidak bisa menyelamatkannya dari perasaan tidak puas. Seorang Raja lewat di depan kediamannya, lengkap dengan pengawal berkuda, kereta dan payung emas. Orang kaya yang dahulu pemecah batu itu lalu ingin jadi raja yang lebih berkuasa.

Malaikat yang sama kembali memenuhi keinginannya. Namun, ketika ia melihat payungnya tak benar-benar bisa melindunginya dari sengatan matahari, Si Pemecah Batu kembali mengeluh, kali ini ingin jadi matahari. Setelah jadi matahari, segumpal awan lewat menghalangi sinarnya dan ia mengeluh lagi. Ia ingin jadi awan. Awan menjadi hujan besar, hujan besar jadi banjir yang memporak-porandakan semua benda di muka bumi, kecuali sebongkah batu. Dan secercah awan itu jengkel karena lagi-lagi kekuasaannya ternyata begitu terbatas. Ia kemudian ingin jadi batu.

Ketika ia telah menjadi batu, seorang lelaki kekar datang membawa beliung. Si batu akhirnya sadar, bahwa sesungguhnya seorang pemecah batu adalah sosok yang punya secuil kuasa, setidaknya pada sebongkah batu yang keras dan ngotot. Untuk terakhir kalinya ia meminta, ingin dikembalikan wujudnya menjadi pemecah batu. Permintaan kembali dikabulkan oleh malaikat. Dan pada akhirnya, Si Pemecah Batu Jepang itu pun merasa puas.

Cerita pendek ini terbit pertama kali dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (Jurnal Hindia Belanda), majalah yang didirikan oleh Hoëvell sendiri, terutama untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan moralitas politiknya. Boleh jadi, Japanse Steenhower adalah sebuah satire politik tentang ketamakan pejabat-pejabat Belanda dan Hindia Belanda, atau ketamakan imperialisme itu sendiri.

Ketamakan, sebagaimana yang digambarkan lewat tokoh Si Pemecah Batu, selalu berawal dari ketidakpuasan. Dan ketidakpuasan bekerja dalam benak manusia dengan memperlihatkan apa yang tidak ia punya, bukan apa yang ia butuhkan.

Dalam cerita Pemecah Batu Jepang, perjalanan hasrat membentuk suatu jalur tempuh yang sirkuler. Sifat-sifat unggul suatu kondisi akan melampaui kondisi sebelumnya, sehingga rangkaian ketidakpuasan itu akan membawa seseorang ke awal lagi. Untuk memutus lingkaran ini, hal yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan urusan dengan diri sendiri.

Tak Selalu Buruk

Ketidakpuasan manusia, bagi beberapa orang, tidak selalu buruk. “Discontent is the first necessity of progress,” kata Thomas Alva Edison. Ketidakpuasan adalah hal pertama yang diperlukan untuk sebuah kemajuan. Dan, Alva Edison membuktikan kata-katanya sendiri. Konon, ia akhirnya berhasil menciptakan bola lampu pijar setelah 10.083 kali tak puas pada percobaan demi percobaan yang gagal.

Namun ‘kemajuan’, istilah yang digunakan Edison ini, bukannya tanpa masalah. Adalah ‘kemajuan’, sebagai bagian dari proyek revolusi industri dan modernitas, yang mengubah manusia dari yang sebelumnya mengandalkan pengolahan tanah, menjadi pekerja-pekerja yang berhimpitan dalam ruang-ruang sempit pabrik dan perkantoran.

Kebutuhan-kebutuhan manusia semakin bertambah, begitu pula perasaan tidak puasnya. Proyek-proyek modernitas dan industri menyerbu urat nadi pedesaan, menggerus lahan pertanian dan hutan. Pabrik-pabrik, hutan tanaman industri, pertambangan, pemukiman dan pusat-pusat perbelanjaan memakan ruang dan membuat petani kehilangan mata pencaharian utama.

Kebijakan pemerintah pun dinilai membatasi akses petani untuk memiliki lahan. Dalam sebuah penelitian pada 2014 terungkap bahwa petani Indonesia rata-rata hanya menggarap sawah seluas 0,3 hektar, jauh dari ideal yakni dua hektar. Hal ini diperparah sistem pendidikan kita yang, mengutip Dandhy Dwi Laksono, tidak didesain untuk mendekatkan anak pada potensi maksimalnya beradaptasi dengan konteks sosial dan lingkungan, melainkan untuk menghamba pada kepentingan industri dan birokrasi.

Dalam keadaan yang segenting itu, orang-orang kota pulang ke kampung-kampung halamannya, memamerkan baju baru, oleh-oleh, mobil dan pelbagai parade kemubaziran lainnya. Secara langsung dan tidak langsung mendiktekan lagi definisi kemakmuran, dan merayu pemuda-pemuda desa yang sudah terjepit dan kehabisan lahan itu untuk pindah ke kota, tempat sekelumit kekejaman sistemik menanti mereka yang tak mampu berkompetisi.

Mengolah tanah dan pekerjaan-pekerjaan lain yang berkaitan dengan penyediaan pangan terlihat melelahkan, kotor, dan tidak menjanjikan kemakmuran. Kampung-kampung semakin kosong, dan akhirnya itu menjadi alasan bagi pemerintah daerah setempat untuk mengalihfungsikan tanah-tanah tak tergarap menjadi pabrik, mal, ruko, dan pemukiman.

Sebaliknya, di kota, sejumlah orang kemudian mempraktikkan urban farming. Yakni, gerakan bertani di kota yang bermula dari tidak puasnya masyarakat kota akan atmosfer lingkungannya yang polutif. Ada pula kecemasan akan ancaman krisis pangan yang oleh LIPI diprediksikan akan menghantam Indonesia pada 2025.

Ruang hidup yang semakin menyempit di kota diakali hingga muat untuk berkebun atau pertanian mandiri. Sistem hidroponik dan bercocok tanam secara vertikal semakin ngetren. Tanamannya mulai dari bumbu-bumbu dapur, buah-buahan, sampai bunga-bunga pengusir nyamuk. Mulai dari yang digelar pada sepetak kecil pekarangan sampai atap gedung.

Di Kanada dan Inggris, urban farming disisipkan sebagai bagian dari perencanaan dan penataan ruang kota. Sementara di Jepang, bercocok tanam dilakukan sampai di lobi-lobi perkantoran. Saya kemudian sedikit berandai-andai, jika saja model pertanian semacam ini dilakukan dengan skala yang lebih luas dan terorganisasikan, mungkin dampaknya akan lebih besar.

Dr. Petrus Natalivan, seorang peneliti ITB mengatakan, konsep urban farming belum cukup untuk menjawab persoalan ketahanan pangan. Ia menyampaikan hasil penelitiannya bahwa pertanian yang dilakukan di perkotaan masih bersifat terbatas, hanya dilakukan oleh komunitas-komunitas tertentu. Juga lahan garapan tidak banyak tersedia, beberapa komunitas menggunakan tanah privat yang dikontrak dalam jangka waktu tertentu.

Andaikan tren berkebun di urban ini dipindahkan ke udik, sehingga orang-orang kota yang ingin bercocok tanam pindah ke desa, sistem ketahanan pangan kita mungkin bisa lebih kuat. Jika awalnya bertani hanya sebagai pengisi waktu luang atau untuk memenuhi kebutuhan pangan harian semata, maka di kampung pertanian bisa menjadi sebuah jalan hidup. Udara bersih, makanan sehat hasil produksi sendiri, dan ritme kehidupan yang relatif tenang; bukankah ini semua adalah impian sebagian besar orang kota?

Mungkin perdebatannya akan panjang, tentang apakah desa memang butuh orang-orang berpendidikan tinggi, yang sadar akan isu ketahanan pangan, lingkungan, agrikultural, serta memahami persoalan-persoalan pascaproduksi untuk mengolah tanahnya. Namun, melihat betapa ganasnya alih fungsi lahan di desa-desa, baik yang dilakukan dengan rayuan halus maupun kekerasan, pertukaran posisi ini bisa menjadi solusi paling putus asa.

Defisit penduduk berikut pertambahan perkebunan beton bisa semakin ditekan. Lalu banyak orang bisa selamat dari kiamat ekosistem dan kelaparan global sebagaimana yang digambarkan dalam film Interstellar. Namun, mengingat manusia lagi-lagi adalah makhluk yang susah sekali terpuaskan, andai-andai saya itu mungkin terlalu muluk.

Desa bagi orang desa, dan kota bagi orang kota adalah batu bagi Si Pemecah Batu Jepang; membosankan, tapi selalu jadi tempat pulang. Orang kota akan kembali ke kota ketika ia tak mampu beradaptasi dengan desa. Orang desa akan kembali ke desa saat ia gagal di kota. Bahkan, orang desa yang jadi mapan di kota sekalipun tetap tergerak hatinya untuk balik ke desa, minimal setahun sekali, dengan berbagai rupa motivasi.

Hanya sedikit yang bisa betah meninggalkan pola hidup lama, lalu puas menjalani gaya hidup mereka yang baru. Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *