Linkin Park, Musik, dan Spiritualitas

Tell me what Ive gotta do
Theres no getting through to you
The lights are on but nobodys home
You say I cant understand
But youre not giving me a chance
When you leave me, where do you go?

Lirik tersebut barangkali menjadi salam perpisahan terakhir dari Chester Bennington (41), vokalis Linkin Park. Satu jam setelah lagu berjudul Talking to Myself di atas diunggah oleh band rock asal California itu, Chester dikabarkan meninggal dunia karena bunuh diri (20/7/17).

Apa yang dilihat di atas panggung kemudian menjadi derita pahit dalam kehidupan nyata. Sorak sorai penonton, gemerlap lampu, loncatan dan gerakan tubuh seirama derap musik, tawa dan suka cita di bawah sorot kamera menjelaskan tentang peristiwa yang penuh kepurapuraan.

Ada segumpal masalah yang seringkali tidak terbaca di wilayah pubik. Musisimusisi menjadi pelayan musikal yang memuaskan dahaga penggemar, namun gagal dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Depresi, stres, ketergantungan pada obatobatan menjadi hal jamak. Pada akhirnya, mereka tidak kuat menahan beban hidup dan bunuh diri adalah sebuah penyelesaian final.

Kematian Chester Bennington menambah deretan musisi dunia (Kurt Cobain, Amy Winehouse, Chris Cornell, Whitney Houston, Tommy Page) yang mengakhiri hidupnya secara tragis. Dunia musik berada pada garis demarkasi yang abuabu, antara menyuarakan realitas dan upaya pelarian diri.

Dengan bermusik, musisi dapat menjadi katalisator dalam menyampaikan berbagai misi kemanusiaan dan perdamaian. Mengisahkan tentang kehidupan yang ideal dan kritik terhadap ketidakmapanan sebuah rezim. Namun, musik juga seringkali menjadi ajang pelarian diri dari berbagai persoalan. Bermusik untuk sekadar menggapai popularitas serta ekstase kesenangan diri, sejenak melupakan bebanbeban persoalan hidup yang dihadapi. Panggung tak ubahnya area sandiwara tempat pemeranan harus dimainkan.

Tentu tidak ada yang menyangka jika Chester Bennington yang dalam beberapa waktu belakangan mengungkapkan bahwa dirinya telah bebas dari pengaruh obatobatan terlarang, dan hidupnya yang semakin baik serta bahagia, justru harus mati karena bunuh diri tepat di hari ulang tahun sahabatnya Chris Cornell, vokalis Soundgarden (yang juga mati dengan jalan yang sama beberapa bulan sebelumnya).

Spiritual dan Musik

Saat berita kematian itu diunggah dan menjadi viral di media sosial, hampir kebanyakan masyarakat kita mengutuk dan menghujat tindakan itu dengan menyebut Chester Bennington tak memiliki iman kuat dalam nalar spiritualitas ketuhanan. Akan tetapi, jika kita renungkan dengan lebih dalam, bukankah spiritualitas yang digelorakan sebagai tiang utama penjaga harkat manusia agar tetap teguh, tak putus asa, tetap tegar menjalani hidup atas nama iman, dalam beberapa waktu belakangan mulai dipertanyakan?

Di hari ini kita justru banyak menjumpai pembunuhan, pertengkaranpertengkaran, kekerasan, dan pelecehan pada manusia yang lain dilakukan atas nama agama. Dengan berbekal keyakinan yang kita anggap benar, kita dapat semenamena menghakimi orang lain. Apa yang tak sesuai dengan keyakinan dengan seketika dianggap salah dan keliru.

Perkembangan teknologi komunikasi dan hadirnya media sosial kemudian nampak mengekalkan laku itu. Cemoohan dan hujatan menghiasi kolom komentar hanya karena persoalanpersoalan yang berkaitan dengan perbedaan iman. Karena itu, spiritualitas yang idealnya dapat digunakan sebagai pegangan untuk tak bertindak layaknya Chester menjadi semakin tak menemukan esensinya. Manusia semakin jauh dari nilainilai religius yang hakiki.

Chester bukan mati bunuh diri, namun mati untuk mengakhiri “sakit” yang dideranya. Sakit itu bukan lagi fisik, namun hati, perasaan dan pemikiran.

Sementara musik yang idealnya dapat menjadi jembatan dalam meluapkan gejolak jiwa terdalam manusia, dewasa ini bias dengan berbagai kepentingan kapitalistik. Tolok ukur keberhasilan musik tidak dilihat dalam konteks nilainilai yang dikandungnya, namun semata berdasar atas kalkulasi hitunghitungan untung rugi. Karena itu apabila seorang musisi kehilangan legitimasi popularitas, ia akan merasa tak lagi berharga, hidupnya hancur, stres berkepanjangan dan depresi berat.

Bermusik tak lagi sebentuk upaya membangun spiritualitas, rasa empati, kemanusiaan, kepedulian terhadap diri dan sesama. Chester dengan lirikliriknya yang seringkali berisi keprihatinan dan suarasuara dari yang kalah, justru menjadi cermin atau kisah atas dirinya. Liriknya tak semata berisi pemberontakan terhadap kemapanan, tapi juga perasaan terdalam yang selama ini dirasakannya. Ia menjerit dalam musik, ia curahkan rasa pilu itu dalam baitbait lirik.

Sementara penonton atau audiens semata melagukan musiknya sambil jingkrakjingkrak, tak sepenuhnya menyadari bahwa itu adalah sebuah pesan yang patut untuk diresapi dan dikontemplasikan.

Di balik kebisingan bunyi, riuh ramai suara penonton, dan jutaan bidik lensa kamera, justru ia merasa sendiri, tak punya teman dan tak ada pegangan iman yang kuat. Bagaimanapun musisi adalah manusia biasa yang butuh perhatian dan sentuhan nilainilai religiusspritual yang mapan. Ironisnya, nilai spiritual itu semakin sulit didapatkan saat pertengkaran dan umpatan justru mengatasnamakan agama dan beralas iman.

Linkin Park setidaknya menjadi contoh ideal, di mana gaya musik rock (underground) yang seringkali dianggap sebagai sebuah simbol pemberontakan, justru menjadi gamang di tangan musisinya sendiri. Kata “you” (kamu) dalam lirik di atas menunjukkan bagaimana kegamangan hidup itu terjadi. Bagi Chester, semua orang telah pergi dengan kepentingannya masingmasing, tak lagi menghiraukan satu dan yang lain, tidak ada kesempatan bagi yang salah untuk berubah.

Pada akhirnya kita hanya bisa bicara pada diri sendiri (talking to myself). Kesendirian menjadi teman di antara tumpukan beban hidup. Chester Bennington dan Linkin Park adalah narasi tentang dualisme hidup, gemerlap yang sunyi, serta keramaian yang sepi. Ia hidup dalam dua dimensi itu; terlihat tawa di atas panggung namun ada tangis di baliknya.

Selamat jalan, Chester Bennington! Suaramu akan terus bergema dalam belantara musik di dunia ini.