Laporan PBB: Pakar Nuklir Korut Pernah ke Suriah 2016 dan 2017

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Korea Utara (Korut) pernah mengirimkan suplai bahan-bahan ke Suriah, yang bisa digunakan untuk memproduksi senjata kimia. Laporan ini juga menyebut para pakar rudal Korut pernah berkunjung ke Suriah.

Dituturkan seorang diplomat Dewan Keamanan PBB yang enggan disebut namanya kepada CNN, Rabu (28/2/2018), Korut telah mengirimkan ubin antiasam (acid-resistant tiles), katup (valves) dan alat ukur suhu (termometer) ke Suriah. Diplomat ini mengutip laporan panel pakar PBB soal Korut. Laporan ini muncul saat gempuran rezim Suriah di Ghouta Timur terus berlanjut.

Laporan yang sama menyebut bahwa para pakar rudal Korut telah mengunjungi Suriah pada tahun 2016 dan 2017 lalu. Kunjungan dilakukan setelah suplai bahan-bahan untuk memproduksi senjata kimia itu dikirimkan dari Korut ke Suriah.

Dalam salah satu kunjungan itu, pakar-pakar rudal Korut dilaporkan tinggal di sejumlah fasilitas militer Suriah. Laporan PBB itu menyebut salah satu negara anggota PBB memberitahukan panel PBB bahwa para pakar Korut mungkin masih beroperasi di Barzeh, Adra dan Hama.

Rincian laporan ini diungkapkan dua hari setelah rezim Suriah dituding melancarkan serangan gas klorin di Ghouta Timur. Rezim Presiden Bashar al-Assad telah berulang kali membantah tudingan menggunakan senjata kimia. Meskipun pada praktiknya, banyak kelompok kemanusiaan di Suriah yang mengaku secara rutin merawat korban serangan kimia.

Laporan PBB itu juga menyebut bahwa pemerintah Suriah secara spesifik menyangkal tudingan keberadaan pakar rudal Korut di wilayahnya. Suriah menyebut mereka hanyalah para pelatih olahraga.

Seorang juru bicara PBB yang mengaku belum melihat laporan ini, mengingatkan negara-negara anggota soal larangan berdagang dengan Korut sementara menekankan bahaya membantu peningkatan kemampuan nuklir Suriah. “Hal terakhir yang kita butuhkan di Suriah adalah lebih banyak senjata … Tuhan melarang senjata kimia,” ucapnya.

Sementara itu, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menolak mengomentari laporan PBB itu karena sifatnya yang rahasia. Diketahui bahwa PBB merilis laporan soal Korut setidaknya dua kali setahun dan tidak biasanya mempublikasi temuannya. Diplomat Dewan Keamanan PBB yang membeberkan isi laporan ini, menyebut versi terbaru dari laporan ini akan dirilis ke publik pada 16 Maret mendatang.

New York Times menjadi yang pertama yang menyoroti keterkaitan Suriah dengan Korut. Awal bulan ini, seorang diplomat menuturkan kepada CNNbahwa Korut meraup US$ 200 juta (Rp 2,7 triliun) dari ekspor batu bara dan komoditas terlarang lainnya sepanjang tahun 2017. Hal ini jelas melanggar sanksi PBB.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *