Kuat di Survei, Oded Masih Belum Aman di Pilwalkot Bandung

CiGMark Research and Consulting merilis hasil survei Pilwalkot Bandung. Hasilnya calon petahana Oded M Danial masih diunggulkan sebagai bakal calon wali kota sementara M Farhan unggul sebagai bakal calon wakil wali kota.

CEO CiGMark Research and Consulting Panca Pratama mengatakan dalam survei yang dilakukan terhadap 440 responden pada 1-12 Desember 2017, masih banyak yang secara spontan menyebut nama Ridwan Kamil dengan perolehan 23,6 persen.

Sementara saat survei dilakukan tanpa memasukkan Ridwan Kamil, nama Oded menduduki posisi teratas dengan 27,2 persen. Kemudian di posisi kedua Ayi Vivananda 8,1 persen, M Farhan 7,9 persen, Nurul Arifin 5,2 persen dan kelima Yossi Irianto 4,2 persen.

“Dalam pengujian 15 nama, sosok Oded merupakan figur yang lebih dipilih,” ujar Panca saat rilis hasil survei di salah satu hotel di Kota Bandung, Rabu (20/12/2017).

Sementara dari sosok calon wakil wali kota, M Farhan unggul dengan perolehan suara 10,2 persen, disusul Yossi Irianto 9,2 persen, Gatot Tjahyono 7,3 persen, Fiki Satari 4,6 persen dan Dandan Riza Wardana 3,2 persen.

“Nama Dandan bisa menjadi kuda hitam karena dia birokrat tulen dan mempunyai nama besar bapaknya yang mantan wali kota (Ateng Wahyudi),” katanya.

Panca menilai meski unggul dalam survei, posisi Oded di Pilwalkot Bandung belum aman lantaran ada tiga faktor yang mempengaruhinya. Pertama adalah jumlah swing voter yang tinggi mencapai 77,3 persen, sementara jumlah pemilih loyal hanya 10,4 persen.

Kedua, kata Panca, pertarungan politik masih sangat dinamis sehingga masih memungkinkan potensi perpindahan pemilih masih cukup besar. Selain itu belum adanya calon yang pasti akan maju masih membuat bingung pemilih.

“Ketiga masih ada kemungkinan Oded gagal maju jika tidak mendapat dukungan dari partai lain. Dalam pertarungan politik terkadang bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan di luar prediksi,” ujarnya.

Selain melakukan survei terhadap calon, pihaknya juga melakukan penilaian terhadap sosok yang pantas sebagai pemimpin Kota Bandung. Hasilnya para responden berharap pemimpin yang jujur 45 persen, mampu memecahkan masalah 13,3 persen, perhatian pada rakyat 13 persen, mampu mengambil keputusan 11,8 persen dan taat beragama 7,8 persen. Sementara sisanya sosok yang berwawasan luas, berwibawa, pintar, dermawan dan menyenangkan hanya di bawah 3 persen.

Tidak hanya itu 48,8 persen responden berharap sosok pemimpin adalah warga asli Kota Bandung. Meski begitu 50,4 persen responden merasa cukup menerima jika kenyataannya pemimpin masa depan mereka bukan asli Kota Bandung.

Soal isu money politics 82,1 persen responden sangat tidak membenarkan praktik tersebut terjadi. Bahkan sebanyak 66,8 persen responden akan menolak jika nantinya menjadi objek dalam money politics.

“Money politics yang kerap mewarnai proses Pilkada ternyata tidak memiliki tempat di Kota Bandung,” tandas Panca.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *