Kota di Australia Siapkan Pekuburan Bagi Satu-satunya Keluarga Muslim

Jameel Qureshi sangat mencintai kota kecil Blayney di pedalaman New South Wales (NSW) Australia. Dia dibesarkan di kampung halamannya ini dan kelak ingin dimakamkan di sini pula.

Keluarga Qureshi diyakini sebagai satu-satunya keluarga Muslim di Blayney yang berpenduduk sekitar 7.000 jiwa.

Keluarga ini mengajukan permohonan ke pemerintah setempat untuk penyediaan kapling kubur Islam di Pekuburan Blayney.

“Kota ini selama ini merupakan kampung halamanku. Saya sudah tinggal di Blayney sepanjang hidupku,” kata Jameel kepada ABC Australia.

“Saya masih tinggal di rumah yang sama tempatku dibesarkan. Saya tidak ingin berada di tempat lain. Itulah alasannya,” ujarnya.

Ketika membicarakan Blayney, keluarga, dan permainan kriket, pria ini tampak penuh semangat.

“Warga Blayney sangat baik, begitu juga warga di sekitarnya,” kata Jameel. “Saya menganggap Blayney sebagai kampung halaman dan warganya sebagai keluarga besar.”

Ayah Jameel yang tiba di kota ini tahun 1979, suatu ketika menyampaikan keinginannya untuk kelak dimakamkan di sini. Itulah yang mendorong Jameel mengajukan permohonan ke pemkot setempat.

Dalam rapat belum lama ini, Pemkot menyetujui permohonan tersebut. Mereka mendukung penyediaan kapling Muslim di perbukitan dekat kapling Katolik, Anglikan, Presbiterian dan Metodis.

Komite urusan pekuburan pemkot mencatat sejumlah tata-cara penguburan bagi seorang Muslim, termasuk syarat harus disegerakan pemakamannya, serta jenazah yang dikubur menghadap kiblat.

Warga mendukung

Walikota Blayney Scott Ferguson mengatakan sama sekali tak ada keengganan untuk menyediakan kapling pekuburan Muslim.

“Keluarga tersebut sangat berkomitmen dan mendukung masyarakat kami. Begitu pula sebaliknya,” kata Councillor Ferguson.

“Mereka keluarga yang luar biasa. Mereka tumbuh dalam masyarakat kami. Kota Blayney sangat inklusif,” ujarnya.

“Kami senang sekali jika keluarga Qureshi merasa nyaman dan mendapat dukungan dengan baik di kota kami ini,” tambah walikota.

Jameel mengatakan tidak pernah merasa berbeda dari warga lainnya. Teman-temannya telah lama menerima bahwa dia mengkonsumsi alkohol, dan pergi beribadah ke masjid.

Mengingat hidup dan mati

Ketika berusia 29 tahun, Jameel sudah berkeluarga dan menjalankan usaha akuntansi bersama adiknya. Meskipun begitu, ingatan pada kehidupan dan kematian tidak pernah lepas dari pikirannya. Ingatan seperti itu penting dalam ajaran agamanya.

Ketika menunaikan haji ke Mekah tahun lalu, bersama umat Islam lainnya Jameel melantunkan doa-doa yang mengingatkan tujuan hidup mereka.

“Suatu hari kita akan dibawa ke kuburan, dan kita tidak bisa menghakimi siapa pun. Yang bisa kita lakukan adalah yang terbaik yang kita bisa selama waktu singkat kita di muka Bumi,” kata Jameel lagi.

Dia juga sering mengingat seorang anak miskin yang ditemuinya ketika bersama keluarganya mengunjungi Pakistan saat berusia 10 tahun.

“Saya beruntung bisa kuliah. Saya beruntung menjadi akuntan. Bermain kriket dengan baik, melakukan perjalanan, berkeluarga, dan tetap memiliki ayah dan ibu,” katanya.

“Namun apa yang dimiliki anak itu? Apakah dia mendapatkan kesempatan yang saya miliki? Saya kira dia tidak mendapatkannya,” tambahnya.

“Kita hanya bersyukur betapa beruntungnya kita tinggal di Australia,” ujar Jameel Qureshi.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *