Korut Tawarkan Tur Menanam Padi dan Memetik Buah Bagi Turis Asing

Pyongyang Korea Utara (Korut) menawarkan paket tur khusus untuk menjadi buruh selama berkunjung ke negaranya. Dalam tur ini, para turis asing bisa menanam padi dan melakukan serangkaian aktivitas bertani secara langsung di lapangan.

Seperti dilansir news.com.au, Jumat (15/9/2017), situs pariwisata yang diluncurkan oleh Badan Pariwisata Nasional Korut, DPR Korea Tour, menyebut paket tur itu sangat menarik dan sedang populer di kalangan turis asing.

“Para turis melebur dalam kehidupan buruh yang berbeda menanam padi secara manual, dan memetik buahbuahan di ladang atau kebun bersama di negara ini,” demikian penjelasan DPR Korea Tour. DPR Korea merupakan kependekan dari nama resmi Korut yakni Republik Demokratik Rakyat Korea.

“Melalui tur ini, mereka bisa mendapatkan pemahaman soal kebijakan pertanian dan budaya bertani di negara ini dan merasakan aktivitas buruh yang ceria dan penuh ketekunan yang biasa dilakukan warga setempat,” imbuh pernyataan itu.

Penawaran tur semacam ini menimbulkan keheranan jika mengingat Korut yang terisolasi dikenal akan pelanggaran HAM secara sistematis. Salah satu hal yang banyak diketahui dunia luar adalah keberadaan kamp kerja paksa bagi para tahanan di negara komunis itu.

Dunia masih ingat momen mengerikan saat mahasiswa Amerika Serikat (AS), Otto Warmbier yang divonis 15 tahun kerja paksa, akhirnya meninggal dunia setelah dipulangkan ke AS. Warmbier dipulangkan dalam kondisi koma setelah 17 bulan menjalani masa hukuman kerja paksa. Namun Korut menyangkal seluruh tudingan yang menyebut Warmbier tewas karena disiksa dan dipukuli selama dalam tahanan mereka.

Selain Warmbier, beberapa warga AS dan Kanada juga dijatuhi hukuman kerja paksa oleh Korut. Namun diketahui tidak hanya warga negara asing maupun tahanan yang menjalani kerja paksa. Pemerintah Korut secara sistematis memberlakukan kerja paksa terhadap warga negaranya untuk mengendalikan mereka dan menyokong perekonomian.

Menurut laporan Human Rights Watch (HRW), sejumlah besar warga Korut harus menjalani kerja buruh tanpa dibayar. Beberapa mantan mahasiswa Korut yang berhasil keluar dari negara itu menuturkan kepada HRW, sekolahsekolah memaksa mereka bekerja di lahan pertanian setidaknya dua kali dalam setahun, tanpa dibayar. Mereka harus bekerja untuk jangka waktu 1 bulan setiap waktu. Perintah kerja paksa semacam ini biasanya marak pada momenmomen pembajakan lahan dan penanaman benih, serta saat masa panen.

Tak hanya itu, setiap keluarga di Korut juga harus mengirimkan setidaknya satu anggota keluarga untuk membantu proyek pemerintah. Mereka memiliki jam kerja sekitar dua jam per hari, selama enam hari dalam seminggu. Proyekproyek yang dimaksud seperti membangun gedung, memperbaiki jalanan, mengumpulkan material mentah seperti memecah batu atau membersihkan area publik.

Korut menjadi salah satu dari beberapa negara di dunia ini yang tidak bergabung dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO), yang berarti Korut tidak mengakui kebebasan berasosiasi dan hak untuk berorganisasi dan melakukan penawaran secara kolektif. Namun seperti kebanyakan industri pariwisata di Korut, kecil kemungkinan para turis akan melihat kebrutalan kerja paksa di Korut selama kunjungan mereka.