Korban Tewas Serangan di Rakhine Myanmar Bertambah Jadi 32 Orang

Yangon Jumlah korban jiwa akibat serangan militan di Rakhine, Myanmar telah bertambah. Setidaknya 10 polisi dan 1 tentara, serta 21 militan tewas ketika para militan melancarkan serangan serentak ke 24 pos polisi dan sebuah pangkalan militer hari ini.

Militer Myanmar menyatakan, hingga saat ini baku tembak antara pasukan Myanmar dengan para militan masih berlangsung di sejumlah wilayah. Insiden ini menandai eskalasi dramatis dalam konflik di negara bagian Rakhine sejak Oktober 2016 lalu, ketika seranganserangan serupa menewaskan 9 polisi. Saat itu serangan tersebut memicu operasi militer besarbesaran.

Kelompok Tentara Keselamatan Rohingya Arakan, ARSA, mengklaim bertanggung jawab atas seranganserangan pada Jumat dini hari waktu setempat tersebut. Kelompok tersebut bahkan mengancam akan adanya seranganserangan berikut. ARSA, kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Harakah alYaqin juga melakukan seranganserangan di Rakhine pada Oktober 2016.

Militer Myanmar menyatakan seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (25/8/2017), seorang tentara, 10 polisi dan 21 pemberontak telah tewas dalam seranganserangan di Rakhine. Menurut sumbersumber militer, kemungkinan jumlah korban tewas masih akan bertambah.

Menurut Kelompok Krisis Internasional, kelompok ARSA dibentuk oleh warga Rohingya yang tinggal di Arab Saudi menyusul serangkaian kekerasan masyarakat di Myanmar pada tahun 2012.

Pemimpin ARSA, Ata Ullah, mengatakan bahwa ratusan pria muda Rohingya telah bergabung ke kelompok tersebut. ARSA mengklaim pihaknya melakukan perlawanan sah terhadap militer Myanmar dan demi membela HAM warga Rohingya.

Situasi di Rakhine kembali memburuk awal bulan ini ketika aparat keamanan kembali melakukan “operasi pembersihan”, dengan ketegangan bergeser ke kota Rathetaung, di mana komunitas Buddha Rakhine dan Rohingya hidup berdampingan.

“Informasi awal adalah bahwa setidaknya lima polisi tewas, dua senjata telah diambil dari polisi dan tujuh jasad pemberontak ekstremis Bengali telah ditemukan,” demikian disampaikan komisi informasi yang berafiliasi dengan kantor pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Otoritas Myanmar menggunakan kata “Bengali” untuk menyebut warga Rohingya, yang selama ini dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

“Para pemberontak ekstremis Bengali menyerang sebuah kantor polisi di wilayah Maungdaw, di bagian utara negara bagian Rakhine dengan sebuah bahan peledak rakitan dan melancarkan seranganserangan serentak ke sejumlah pos polisi pada pukul 01.00 waktu setempat,” demikian disampaikan komisi informasi tersebut.

Komisi tersebut juga mencatat 24 pos polisi yang telah diserang. Juga disebutkan bahwa sekitar 150 pria Rohingya mencoba menerobos ke sebuah pangkalan militer, yang mendorong militer untuk melakukan perlawanan.