Korban Keracunan Massal di Kudus Pulih, 16 Warga Masih Dirawat

Kondisi warga yang mengalami keracunan massal dari makanan hajatan di Kudus hingga Rabu siang kondisinya membaik. Ada 16 orang warga yang dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus. Sampel sisa makanan juga sudah diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Jumlah warga yang dirawat sudah berkurang karena kondisinya sudah pulih sehingga sudah diperbolehkan pulang dan hanya rawat jalan. Sebelunya hingga Selasa (20/3/2018) malam jumlah warga yang dirawat mencapai 27 orang.

Aris Jukisno, Kabid Pelayanan RSUD dr Loekmono Hadi, Kudus mengatakan, hasil medis menyatakan saat kondisi warga yang jadi korban telah lebih baik dari sebelumnya. Sebelumnya mereka sampai muntah-muntah saat pertama masuk ke rumah sakit.

“Sebanyak 16 orang opname,11 pasien rawat jalan. Total yang masuk RSUD ada 27 orang. Yang opname, di antaranya ada satu orang yang dirawat di ICU (Intensive Care Unit). Kondisinya pun telah membaik,” kata Jukisno ditemui wartawan di RSUD dr Loekmono Hadi, Rabu, (21/3/2018).

Kendati ada 11 orang yang dirawat jalan, namun mereka tetap dalam pantauan rumah sakit.

Salah seorang keluarga pasien Erna (30) mengatakan, putranya berusia 8 tahun, bernama Nazriel, saat ini masih dirawat karena masih mengalami diare.

“Saat ini masih diare. Tapi mulai membaik,” kata Erna kepada wartawan.

Anaknya keracunan sejak Senin (19/3/2018) sore. Nazriel sempat dibawa ke dokter. Hasilnya, dokter menyatakan jika diagonasnya karena keracunan makanan.

“Kata dokter, anak saya itu didiagnosa mengalami keracunan. Setelah dibawa ke dokter, kondisinya semakin memburuk, kemudian saya bawa ke rumah sakit tadi malam (Selasa, 20/3/2018),” ungkap dia.

Sementara itu, Hikari Widodo Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kudus mengatakan, pihaknya telah ambil sampel makanan. Sampel makanan yang diambil yaitu mie dan tempe yang telah dikirim ke laboratorium di Semarang.

“Sampelnya dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang. Hasilnya akan diketahui dalam kurun seminggu hingga paling lama sebulan,” kata Hikari.

Hikari melihat terdapat keanehan pada kasus keracunan ini. Mereka memakan nasi berkat (makanan hajatan) pada Minggu (18/3/2018) petang. Hanya, baru dua hari kemudian, keluhan keracunan muncul.

“Pada hari pertama (Minggu) hanya ada satu orang yang masuk rumah sakit, namun tidak tahu kalau itu keracunan. Senin juga ada lagi yang masuk ke rumah sakit. Selasa malah banyak orang yang masuk ke rumah sakit,” ujarnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *