Kontroversi Putra Mahkota Saudi: Alkohol dan Bikini di Laut Merah

Status Pangeran Mohammed bin Salman masih sebatas putra mahkota Arab Saudi. Belum jelas kapan pria kelahiran Jeddah, 31 Agustus 1985 itu akan dinobatkan sebagai raja menggantikan sang ayah, Salman bin Abdulaziz Al Saud. Beredar kabar bahwa dia akan dinobatkan sebagai Raja Arab Saudi pada akhir tahun ini.

Meski baru putra mahkota, Pangeran Mohammed sudah dianggap sebagai penguasa de facto Arab Saudi. Dia berwenang mengendalikan sejumlah kebijakan pemerintah. Beberapa pemikirannya tentang masa depan Arab Saudi juga sudah dimasukkan dalam visi Arab Saudi 2030 (vision 2030).

Pemikiran sang Pangeran tersebut antara lain: membawa Arab Saudi menjadi lebih moderat, mengizinkan perempuan mengemudikan mobil dan menonton konser, hingga membangun kota NEOM yang akan menjadi pusat bisnis. Kota pusat bisnis akan dibangun di pinggir kota Riyadh di pesisir Laut Merah dekat dengan Yordania dan Mesir.

Di NEON nantinya, pelaku bisnis baik dari Arab Saudi mapun asing bisa menanamkan modalnya. Di kota ini juga akan disediakan berbagai pusat hiburan. Mimpi Pangeran Mohammed akan menjadikan kota ini sebagai pusat bisnis seperti di Dubai dan Qatar.

Awalnya Pangeran Mohammed mengizinkan pusat hiburan di NEOM menyediakan alkohol. Namun setelah mendapat tentangan dari kaum ulama, dia mengurungkan. Alkohol tetap dilarang di Arab Saudi. “Orang asing yang ingin Alkohol bisa pergi ke Mesir atau Yordania,” kata Pangeran Mohammed saat diwawancara Bloomberg pada Sabtu, 28 Oktober 2017 pekan lalu.

“Jadi saya kira ini akan memberikan investor dan apa yang investor asing butuhkan tanpa melanggar peraturan,” tambah sang pangeran.

Sang Putra Mahkota juga berencana mengizinkan perempuan mengenakan bikini di wilayah NEOM nantinya. Ini akan diberlakukan pada 2022. Rencana Pangeran Mohammed ini pun menuai kontroversi.