Konsekuensi Tindakan Militer Atas Korut Terlalu Mengerikan

Sekjen Perserikatan BangsaBangsa (PBB) Antonio Guterres mengingatkan untuk tidak menggunakan retorika konfrontasi terhadap Korea Utara (Korut). Menurutnya, negaranegara besar harus memiliki strategi tunggal untuk menangani masalah Korut.

“Retorika konfrontasi bisa menyebabkan konsekuensikonsekuensi yang tidak diinginkan. Solusinya harus bersifat politik,” kata Guterres kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (6/9/2017).

“Konsekuensi potensial dari tindakan militer terlalu mengerikan,” imbuhnya.

Komentar tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea usai uji coba nuklir yang dilakukan Korut beberapa hari lalu. Pemimpin Korut Kim JongUn dan Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali melontarkan retorika konfrontasi satu sama lain. Trump bahkan pernah mengancam Korut akan menghadapi “api dan kemarahan” jika terus mengancam AS.

Guterres menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk menunjukkan persatuan dan menyepakati langkahlangkah yang akan diambil terkait krisis nuklir Korut. Pemerintah AS telah mendesak adanya sanksisanksi PBB yang lebih berat terhadap Korut. Namun Rusia dan China menyerukan untuk melakukan dialog dengan Pyongyang mengenai denuklirisasi Semenanjung Korea.

Pemerintah Rusia bersikeras bahwa sanksisanksi baru tak akan menyelesaikan krisis Korut. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin, sanksisanksi baru tak ada gunanya. “Sanksi dalam bentuk apapun sekarang tidak akan berguna dan tidak efektif,” tutur Putin.

“Mereka (Korut) akan lebih suka makan rumput daripada menghentikan program (senjata nuklir) mereka kecuali mereka merasa aman. Dan apa yang bisa memapankan keamanan? Pemulihan hukum internasional. Kita harus mendukung dialog di antara pihakpihak yang berkepentingan,” imbuhnya.

Putin pun menegaskan, solusi militer tak akan mengarah ke hal yang baik dan malah akan bisa memicu bencana global.