Kisah Saliha Osmanovic, Korban Kejahatan Ratko Mladic

Bagi Saliha Osmanovic, vonis bersalah terhadap Ratko Mladic telah lama ditunggutunggu.

Pasukan pembunuh Serbia Bosnia yang beroperasi di bawah komando Mladic telah menyapu bersih seluruh anggota keluarga perempuan Muslim Bosnia ini.

“Setelah semua yang dia lakukan,” kata Saliha, “akhirnya hari ini tiba, detik ini tiba, menit ini tiba untuk menegaskan bahwa hal itu pernah terjadi. Dia bersembunyi bertahuntahun, tapi dia tidak dapat tersembunyi terus.”

Pada tanggal 6 Juli 1995, Saliha menguburkan putra bungsunya Edin.

Lima hari kemudian suaminya Ramo bersama anak mereka yang lain Nermin menghilang.

Sebuah video mengerikan yang dibuat pasukan pembunuh dari milisi Serbia Bosnia menunjukkan bukti terakhir keberadaan suaminya itu.

Skip YouTube Video

Dalam cuplikan video yang kini beredar luas, Ramo terlihat memanggil anaknya yang sedang bersembunyi di pegunungan.

“Nermin, datang kemari, saya di sini!” teriaknya. “Jangan takut pada orang Serbia!”

Ramo dan Nermin dibunuh tak lama setelah itu.

Butuh waktu 13 tahun sebelum jasad mereka teridentifikasi dan Saliha bisa menguburkan mereka di taman makan Memorial Center yang berisi lebih dari 6.000 kuburan korban.

Vonis bersalah terhadap Ratko Mladic sudah begitu lama ditunggutunggu oleh Saliha. 

Saliha hadir memberi kesaksian dalam persidangan kejahatan perang terhadap Mladic.

Dia melihat dan mendengar kebohongan mantan jenderal tersebut kepada warga Srebrenica pada tahun 1995. Saat itu Mladic mengatakan bahwa para warga itu akan dilindungi.

“Itu penting bagi saya. Begitu penting. Sebab dia berada di sini di Potocari, karena dia mengatakan bahwa kami bisa tinggal atau musnah, bahwa Alija (Presiden Bosnia waktu itu) tidak menginginkan kami, dan tidak seorang pun akan membahayakan kami,” katanya.

Sedikitnya 6.000 korban dimakamkan di Taman Makam Srebrenica.

“Dia membagibagikan roti dan coklat untuk menunjukkan kepada dunia betapa baiknya dia. Kemudian dia membunuh mereka semua,” ujar Saliha.

“Begitu penting bagiku dia berada di persidangan saat saya memberi kesaksian,” tambahnya.

Dalam persidangan itu Saliha ditawari status sebagai saksi yang dilindungi.

Pengadilan kejahatan perang menyatakan bahwa dia sebenarnya bisa bersaksi dengan identitas yang disembunyikan.

Namun Saliha memilih untuk tidak mengambil tawaran itu.

“Saya tidak takut. Mereka telah membunuh kedua anakku dan suamiku. Saya sendirian sekarang. Saya tidak memiliki cucu. Tidak ada. Mengapa saya harus bersembunyi? Dari siapa? Mengapa?” katanya.

“Saya sampaikan kepada mereka, Saya tidak akan pergi ke Den Haag jika saya sebagai saksi dalam perlindungan,” tutur Saliha.

“Mengapa saya harus bersembunyi? Saya berjalan dengan kepala tegak! Tidak mau tunduk. Saya sangat sadar,” katanya.

“Yang menyakitkan bagi saya adalah luka di hatiku. Karena kehilangan orang yang saya cintai. Berapa banyak ibu yang seperti saya. Yang tak memiliki apaapa,” ujar Saliha.

Saliha menolak namanya disamarkan dalam peradilan kejahatan perang terhadap Radko Mladic.