Kisah Geng Motor di Sukabumi Mulai Hijrah

Beragam aksi kekerasan geng motor kerap terjadi hingga menciptakan pandangan stigma dari masyarakat terhadap mereka. Terbaru ada aksi penjarahan toko pakaian oleh Geng ‘Jepang’ di Depok dan kepemilikan senjata tajam oleh belasan anggota geng motor di Sukabumi.

Masyarakat kadung mencap negatif keberadaan kelompok tersebut, padahal di sisi lain sejumlah anggota geng motor tengah berjuang menuju aktivitas positif. Di Kota Sukabumi, rupanya sejumlah kelompok yang selama ini dicap geng motor ikut mencontoh Kota Bandung melalui kegiatan Pemuda Hijrah.

“Sebenarnya besar keinginan kami untuk berhijrah, bukan sekadar topeng pelindung dari cap jelek anggapan masyarakat, tapi benar-benar hijrah. Kami sudah bosan ketika nongkrong kemudian terjadi pertikaian berujung pada situasi yang tidak aman dan kondusif,” kata Dimas Muharam (24), salah seorang anggota Moonraker, kepada  di Yayasan Pendidikan Quran Adz- Dzakiroh, Jalan RA Kosasih, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (27/12/2017).

Dimas yang akrab disapa Komeng ini bukan sosok sembarangan. Dia memiliki jabatan strategis di Moonraker sebagai wakil ketua. Bergabung sejak 2008, Komeng sempat terlibat aksi-aksi kekerasan hingga bentrokan dengan geng motor lainnya di Kota Sukabumi.

“Sempat tahun 2011 lalu, saat itu saudara saya meninggal dunia. Kita konvoi cari geng motor lain yang memicu bentrok, kalau dibilang mencekam saat itu Kota Sukabumi benar-benar mencekam,” tuturnya lagi.

Beberapa tahun berlalu, Komeng berharap menemukan situasi kondusif. Hingga akhirnya dia bergabung dalam gerakan pemuda hijrah dan rutin mengikuti pengajian atau ceramah-ceramah agama.

Kabita ku (tertarik dengan) Kota Bandung, saya ajak anggota yang lain sampai ke lapisan paling bawah, saya ingin damai dan tidak ada lagi anggapan jelek dengan aktivitas kami. Karena kami sendiri hanya ingin berorganisasi dan berbuat hal-hal yang positif,” ujar Komeng.

Tonggak gerakan pemuda hijrah di Sukabumi sendiri digagas Ustaz Nana Wijana (32). Nana mengajak para anggota geng motor atau klub motor untuk rutin mengikuti pengajian.

“Berawal dari pengajian Ustaz Evie Effendie pada Minggu 17 Desember lalu, saat itu saya kaget melihat ada anak-anak klub motor bisa berdampingan bahkan pakai atribut. Meski pun ada stigma di masyarakat, saat itu saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka bisa berdampingan,” kata Nana.

Nana saat itu tergerak untuk membuat komunitas mengaji bagi kalangan mereka. Gayung bersambut, ajakan Nana mendapat respons positif. Mereka lalu bergabung dalam grup WhatsApp Silaturahmi Klub Motor Sukabumi.

“Di situ ada anak GBR, Brigez, Moonraker, XTC, anak-anak komunitas Sukabumi Tiger Club (STC) dan berbagai komunitas otomotif lainnya. Tiap-tiap perwakilan mereka ada di situ,” ujar Nana.

Nana mengaku kecewa saat kemudian beberapa anggota geng motor Brigez tertangkap oleh polisi. Sementara rekan-rekannya berjuang untuk berhijrah.

“Sebetulnya motivasi mereka melihat daerah lain akur, mereka selalu bilang, ‘ah saya ingin berhijrah’. Mereka juga terbuka saat diminta untuk curhat, kenapa membawa senjata tajam itu karena mereka selalu merasa tidak tenang saat nongkrong. Mereka krisis kepercayaan diri karena minimnya dukungan dari masyarakat, ketika mereka berniat baik malah berbuah stigma,” tutur Nana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *