Kiprah Pasutri Daur Ulang Sampah Hingga Meraih Penghargaan

Tidak semua barang dianggap tak berguna dan harus dibuang begitu saja. Ada cara untuk memanfaatkan sebagai sesuatu yang berharga. Berawal dari mengikuti lomba ‘Merdeka Dari Sampah’ di tahun 2006, pasutri asal Jambangan, Surabaya, ini mencetuskan ide membuat souvenir dari bahan daur ulang.

Sutrisno (43) dan Lusiana pun mengajak warga sekitar untuk membuat karya sampah plastik diubah menjadi topi, ikat rambut, tas dan lain-lain. Bahkan pemilik Tris Flower ini membuka usaha penyewaan kerajinan daur ulang di rumahnya. Beragam kerajinan, mulai dari kostum, topi, ikat rambut, tas, hingga lampion warna warni terpampang di ruang tamu.

“Awal mula idenya muncul ketika kami mengikuti lomba ‘Merdeka Dari Sampah’ di tahun 2006. Kenapa kita tidak membuat souvenir saja? Lalu saya dan istri mencoba mengajak beberapa warga sekitar untuk gabung dan istri saya sendiri yang ngajarin mereka. Tak disangka, kami menang. Dari situ kami semakin rajin memproduksi karya-karya dari sampah plastik,” jelas bapak dua anak ini kepada detikcom di rumahnya, Kamis (31/8/2017).

Usaha daur ulang sampah Sutrisno rupanya menarik perhatian beberapa pihak. Hingga, Sutrisno dan istri meraih sebuah penghargaan.

“Paling baru penghargaan Kalpataru tingkat Kota Surabaya, 30 November 2016 lalu untuk istri, karena dia yang mengelola. Lalu kemarin ini baru diseleksi tingkat provinsi, tapi hasilnya belum tahu,” katanya.

Kiprah Sutrisno turut membawa lingkungannya terangkat. Sebuah penghargaan Pengelolaan Lingkungan Paling Berbunga Green and Clean Kategori Maju dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diterimanya.

Bagi dia, menjalani bisnis daur ulang sampah bukan sekadar mencari untung. Akan tetapi, sejak awal memang ingin memberdayakan lingkungan dan warga sekitar.

“Kecintaan kami terhadap lingkungan, mendorong untuk membuka usaha ini. Selain itu, memberdayakan warga sekitar. Sampah-sampah rumah tangga yang dipakai, dapat dibentuk jadi aneka kerajinan. Ada tas, kostum, topi, ikat rambut, macam-macam,” tuturnya.

Hari-hari sibuk kini dilalui Sutrisno, banyak tamu datang untuk menyewa hasil kerajinannya. Beragam orang, mulai dari guru sekolah hingga organisasi masyarakat dilayaninya.

Faridah, salah satu warga Blitar yang datang untuk mengembalikan kostum sewaan milik Sutrisno. Dia mengungkapkan, kostum yang disewanya telah masuk nominasi kostum terbaik dari sebuah festival yang diikutinya di Blitar.

“Kostumnya bagus dan kami menang,” kata Farida seraya menceritakan kepada Sutrisno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *