Ketika Bung Hatta Jadi Korban Hoax

Hoax alias kabar bohong bukanlah fenomena baru. Meski istilah hoax baru dikenal beberapa tahun ini, dan menjadi marak di zaman digital, namun sejak komunikasi melalui media berkembang beberapa abad lalu dengan kehadiran penerbitan buku, pamflet dan suratkabar hingga kemunculan radio, film, dan televisi di abad ke20, penyebaran informasi palsu telah menemukan salurannya ke masyarakat luas agar mempercayai isi pesan yang dikemas pembuatnya.

Bung Hatta juga pernah menjadi korban informasi palsu. Tak tanggungtanggung, sumbernya adalah buku autobiografi Bung Karno berjudul Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gunung Agung (1966). Buku aslinya yang berjudul Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams diterbitkan di Amerika Serikat setahun sebelumnya. Buku itu bersumber dari penuturan langsung Bung Karno kepada penulis berkebangsaan Amerika Serikat, Cindy Adams yang ditugaskan mencatat secara intensif sejak 1961 hingga 1964.

Buku edisi Bahasa Indonesia menyebutkan penuturan Bung Karno yang melecehkan keberadaan Bung Hatta, dan juga Sutan Sjahrir, dalam peristiwa proklamasi Kemerdekaan Indonesia:

Tidak ada orang jang berteriak Kami menghendaki Bung Hatta. Aku tidak memerlukannja. Sama seperti djuga aku tidak memerlukan Sjahrir jang menolak untuk memperlihatkan diri disaat pembatjaan Proklamasi. Sebenarnya aku dapat melakukannja seorang diri, dan memang aku melakukannja sendirian. Didalam dua hari jang memetjahkan uratsjaraf itu maka peranan Hatta dalam sedjarah tidak ada.

Peranannja jang tersendiri selama masa perjoangan kami tidak ada. Hanja Sukarnolah jang tetap mendorongnja kedepan. Aku memerlukan orang jang dinamakan pemimpin ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannja oleh karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra dan diharihari jang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah djalan jang paling baik untuk mendjamin sokongan dari rakjat pulau jang nomor dua terbesar di Indonesia. (h.332)

Bung Hatta pun bereaksi keras. Dalam bukunya berjudul Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 (Jakarta: Tinta Mas, 1969) ia menanggapi pernyataan itu dengan menyebutnya “dongeng Soekarno”.

“Inilah ucapan seorang diktator Soekarno, yang mengagungkan dirinya dan lupa daratan, berlainan dari Soekarno dulu, pemimpin rakyat di masa proklamasi dan sebelumnya,” kata Hatta.

Buku autobiografi Bung Karno edisi Bahasa Indonesia itu diterbitkan saat ia sudah berada di senjakala kekuasaan pasca terbitnya Supersemar 1966. Dalam buku tersebut, Menteri/Panglima Angkatan Darat (AD) Letjen Soeharto memberikan kata sambutannya tertanggal 6 Juni 1966. Alih bahasa ke edisi Bahasa Indonesia tersebut juga dikerjakan oleh seorang tentara AD, Mayor Abdul Bar Salim yang menjalankan tugasnya, menurut penerbit Gunung Agung dalam kata pengantar buku, atas restu Soeharto.

Ternyata dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris, dua paragraf yang mengecilkan peran Hatta dan Sjahrir dalam Proklamasi Kemerdekaan sama sekali tidak ada.

Bahkan, Cindy Adams sang penulis buku kelahiran 1930 itu baru tahu belakangan bahwa ada selipan dua paragraf di buku edisi Bahasa Indonesia setelah wartawan Majalah Tempo menanyakannya pada akhir 2014.

“Saya tidak mungkin menulis itu. Hatta ada di sana ketika saya mewawancarai Bapak (Bung Karno),” kata Cindy (Majalah Tempo, 4 Januari 2015).

Menelusuri Dua Paragraf Misterius

Ada tuduhan mengarah ke Mayor Abdul Bar Salim sebagai pihak penerjemah yang menambah dua paragraf itu. Sayang, untuk memastikan kebenarannya, sang mayor sudah meninggal dunia. Keluarganya pun membantah hal tersebut.

“Bapak saya bukan intelijen, sama sekali tak pernah berdinas intelijen. Bapak saya sebelumnya, tahun 1961, mengalihbahasakan buku Ktut Tantri, Revolt in Paradise, yang diterbitkan Gunung Agung. Semenjak itu, bapak saya kenal Haji Masagung, pemilik Gunung Agung,” kata Erwin Salim, anak Abdul Bar Salim, sebagaimana dikutip Majalah Tempo edisi yang sama.

Keluarga Bung Karno sendiri tidak yakin dua paragraf itu bersumber dari penuturan Bung Karno. Bahkan Guntur Soekarno Putra pernah menceritakan kemarahan Bung Karno ketika di masa jayanya ada pihak yang membacakan teks Proklamasi yang di bagian penutupnya hanya menyebut nama “Soekarno” tanpa “Hatta”.

“Aku kadangkadang saling gebug dengan Hatta! Tapi menghilangkan Hatta dari teks Proklamasi, itu perbuatan pengecut!” kata Guntur mengutip ucapan sang ayah saat makan siang bersamanya (Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan. Jakarta: Penerbit Sinar HarapanPenerbit UI, 1980).

Pada 2007 Yayasan Bung Karno yang diketuai Guruh Soekarno Putra menerbitkan edisi revisi buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dengan menerjemahkan ulang langsung dari buku asli edisi Bahasa Inggris. Hasilnya, tidak ada lagi dua paragraf kontroversial itu, dan beberapa bagian yang terjemahannya dianggap kurang tepat juga dikoreksi.

Dalam kata pengantar buku edisi revisi tersebut, Yayasan Bung Karno menyatakan tidak ingin menyalahkan atau melakukan upaya untuk membongkar siapa yang merekayasa tambahan paragraf itu. Hingga kini siapa yang memasukkan dua paragraf tersebut menjadi misteri.

Dwitunggal Sejati

Bung Hatta mungkin bisa dianggap tergesagesa mengkritik keras Bung Karno melalui bukunya yang terbit pada 1969 tanpa mengecek terlebih dulu kebenarannya. Namun, hal itu dapat dipahami mengingat situasi dan kondisi politik saat itu. Bung Karno kala itu diisolasi, dan belakangan dikenakan tahanan rumah sehingga sulit untuk menemuinya, apalagi mengonfirmasi langsung soal tersebut. Suasana “desukarnoisasi” juga sedang melingkupi masyarakat Indonesia.

Namun, meski sedang diterpa informasi hoax tentang perkataan Bung Karno yang mendiskreditkan dirinya, Bung Hatta tidak pernah memutuskan hubungan pribadinya dengan Bung Karno. Pada 1970, Bung Hatta menjadi wali pernikahan Guntur Soekarno Putra.

Dua hari menjelang Bung Karno wafat, di tengah ketatnya perizinan oleh pihak aparat, Bung Hatta berkesempatan membesuk Bung Karno yang sudah sekarat di RSPAD. Dua sahabat lama ini bertemu dalam balutan suasana haru. Dengan perasaan sedih yang sangat dalam, Hatta menggenggam tangan Bung Karno. Hatta tak kuasa menahan air matanya.

Menahan rasa sakit, Bung Karno berkata lirih di pembaringan, “Hatta, kau di sini?” Seolah Bung Karno tidak ingin ajal menjemput sebelum Hatta datang.

Kejadian itu mengingatkan peristiwa Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Di tengah sakit demam Bung Karno juga menunggu Hatta di pembaringan rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Padahal lautan massa rakyat sudah berjejal tak sabar menantikan peristiwa bersejarah.

“Hatta belum datang. Aku tidak mau membacakan proklamasi tanpa Hatta,” kata Bung Karno (Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Edisi Revisi. Yayasan Bung KarnoMedia Pressindo, 2007).