Kenapa Sejumlah Muslim Asal Uzbekistan Jadi Radikal?

Sayfullo Saipov melakukan serangan teror dengan menggunakan truk di New York yang menewaskan delapan orang, atas nama apa yang disebut Negara Islam atau ISIS, kata seorang jurubicara polisi. Saipov berasal dari Uzbekistan, sebuah negara Asia Tengah yang warga negaranya terlibat dalam sejumlah serangan teror besar akhirakhir ini. Apa yang ada di balik ini semua?

Warga asal Uzbekistan terlibat dalam beberapa serangan berikut:

Seranganserangan teror itu menyebabkan banyak orang memandang Uzbekistan sebagai sarang radikalisme Islam. Sebagai bukti, mereka mencontohkan juga para petarung dari Uzbekistan yang bergabung dengan militan di Suriah, Irak dan Pakistan.

Memang, ada kelompok milisi yang relatif besar dari Uzbekistan di negaranegara tersebut. Menurut perkiraan dari Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik Internasional (International Centre for the Study of Radicalisation and Political Violence), 500 warga Uzbek telah bergabung dengan militan di Suriah dan Irak pada tahun 2015.

Tapi merupakan hal yang keliru untuk menyebut bahwa Uzbekistan, dan Asia Tengah secara keseluruhan, menjadi sumber utama radikalisme dan ekstremisme Islam.

Tingkat terorisme di Asia Tengah tergolong sangat rendah. Menurut Global Terrorism Database, dari 85.000 serangan terorisme yang tercatat antara 20012016, hanya ada 10 yang terjadi di Uzbekistan dan 70 terjadi di Asia Tengah secara keseluruhan.

Peran Islam di Uzbekistan dan di kawasan ini memang terus berkembang namun hal ini seharusnya tidak dipandang sebagai indikasi radikalisasi. Jika tidak, akibatnya setiap ada Muslim yang mulai datang ke masjid bisa diperlakukan sebagai ekstremis.

Retorika resmi di Uzbekistan adalah bahwa kelompok Islamis merupakan ancaman keamanan yang utama. Namun para pengamat menganggap hal ini lebih banyak digunakan sebagai dalih represi terhadap orangorang yang mengkritik rezim.

Di masa kekuasaan mantan presiden Islam Karimov, rakyat Ubekistan yang secara aktif melakukan ibadah menghadapi risiko penganiayaan. Human Rights Watch mengatakan bahwa 12.000 orang di Uzbekistan saat ini dipenjarakan dengan tuduhan terlibat ekstremisme.

Pemimpin baru negeri itu, Shavkat Mirziyoyev, barubaru ini mengumumkan bahwa di bawah kekuasaan Karimov, 17.000 orang masuk dalam daftar hitam keamanan sebagai ekstremis agama. Mirziyoyev barubaru ini mencoret 16.000 dari daftar tersebut.

Jika kita melihat profil penyerang Uzbekistan dan Asia Tengah di Stockholm, St Petersburg dan tempat lain kebanyakan mereka meninggalkan negara asal mereka jauh sebelumnya. Sayfullo Saipov, misalnya, dilaporkan sudah pindah ke AS sejak tahun 2010.

Dr John Heathershaw dari Universitas Exeter berpendapat bahwa untuk memahami mengapa begitu banyak warga Uzbek dan orang Asia Tengah beralih ke radikalisme dan melakukan serangan semacam itu, kita perlu melihat pengalaman mereka sebagai migran.

“Kita tidak dapat berasumsi bahwa pada tujuh atau delapan tahun yang lalu orang meninggalkan negara asalnya sudah dengan tujuan bergabung dengan kelompok militan dan melancarkan serangan,” katanya.

“Saya pikir tempat kita perlu mencari penjelasan adalah sejumlah jaringan rekrutmen tertentu yang menyasar komunitas migran Asia Tengah dan masyarakat diaspora. Jelas ada sesuatu yang terjadi di sana.”

Presiden Uzbekistan yang baru Shavkat Mirziyoyev mencoret 16.000 orang dari daftar hitam ekstremis agama. 

Memang, para milisi Uzbekistan dan Asia Tengah yang bergabung dengan kelompok militan cenderung direkrut dari luar negeri. Ketika migran dari Uzbekistan mengalami stigmatisasi di negara mereka yang baru, padahal mereka telah kehilangan lingkungan keluarga yang dulu mereka miliki, maka mereka merupakan sasaran empuk untuk direkrut oleh kelompok militan.

Jadi, barangkali saat kita memandang kasus Sayfullo Saipov, maka pengalamannya hidup di AS dan bukan hidupnya di Uzbekistan yang bisa memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana dia mengalami radikalisasi.