Kebun Hidroponik, Destinasi Agrowisata Baru di Jember

Bisnis tanaman hidroponik dapat mendukung potensi agrowisata baru di Kabupaten Jember. Selain hasil tanaman bisa memberi manfaat secara finansial, kebun tanaman hidroponik bisa menjadi tempat hiburan untuk refreshing serta edukasi bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember Arif Tjahyono mengungkapkan, agrobisnis, edukasi, dan pola perkembangan wisatawan saat ini, dapat dijadikan satu sebagai potensi agrowisata baru di Jember.

“Sebab dengan dikembangkan dalam satu tempat, agrobisnisnya dapat, wisatanya dapat, edukasinya juga dapat,” kata Arif kepada wartawan di Kebun Edukasi Hidroponik (KEH) di Taman Botani Kecamatan Sukorambi, Minggu (19/11/2017).

Arif menjelaskan, dengan penataan tanaman yang sesuai, maka kebun hidroponik bisa menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung. Sebab memiliki nilainilai estetika yang bisa dinikmati.

“Jadi tetap ada nilai pariwisatanya, dan tidak asalasalan. Jadi dari segi pewarnaan (jenis tanaman hidroponik yang dibudidayakan), tidak sembarangan. Tetap mengedepankan tiga manfaat itu. Yakni manfaat edukasi, refeshing, dan juga hasil dari tanaman hidroponik juga bisa dijual,” jelasnya.

Pengunjung, sambung Arif, juga bisa menikmati manfaat kesehatan dari tanaman hidroponik tersebut. “Karena sayuran dari hidroponik ini segar, dan sehat. Tidak ada pestisidanya dan lain sebagainya. Jadi ini yang langka, dan saya berharap ini bisa dikembangkan lebih baik,” tuturnya.

Foto: Yakub MulyonoKebun hidroponik yang dikembangkan di Taman Botani ini, menurut Arif sesuai dengan pola pengembangan wisata di Kabupaten Jember. Pola tersebut yakni pariwisata berbasis masyarakat atau komunitas. Ini agar pariwisatanya maju dan masyarakatnya tidak tertinggal.

“Sehingga yang saat ini dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Jember adalah CBT (Community Base Tourism), yakni pariwisata yang berbasis kepada masyarakat atau berbasis kepada komunitas,” ulasnya.

Salah satu konsep wisata agrowisata yang dikembangkan oleh Taman Botani Sukorambi tersebut, merupakan aplikasi yang diharapkan dari konsep pengembangan wisata yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Jember.

Sementara itu, pemilik Taman Botani Sukorambi, Febrian Ananta Kahar menyampaikan, untuk konsep agrowisata kebun tanaman hidroponik di tempatnya, mengacu pada pengembangan konsep pariwisata yang diambil dari salah satu tempat wisata di Jakarta.

“Jadi kami punya konsep taman wisata alam yang terdekat dengan pusat kota Jember, yang mengedepankan edukasi dan wisata. Saya juga sebagai pelaku wisata Jember, ingin mencari sesuatu yang unik terkait pola pengembangan agrowisata ini. Sehingga kita menggandeng komunitas hidroponik yang ada di Jember,” jelasnya.

Dari konsep tersebut, Febrian bahkan sampai jauhjauh ke Jakarta untuk mempelajari detail terkait konsep agrowisata yang memanfaatkan media tanaman hidroponik.

“Gak salah dong kalau kita copy paste tetapi kita kembangkan di daerah kita sendiri. Jadi nantinya wisata ini gratis, bisa menjadi percontohan siapa pun pengunjung yang ada di sini. Bisa belajar di sini, bisa berfoto di sini, dan bahkan juga bisa membeli secara langsung sayurannya yang ada di sini,” tandasnya.

Selain itu, dengan berinvestasi dalam kegiatan berkebun tanaman hidroponik, juga memberikan manfaat finansial. Tanaman hidroponik sangat laris diperjualbelikan di masyarakat. Sebab masyarakat luas saat ini sangat dominan untuk lebih beralih mengkonsumsi bahanbahan organik dari hasil tanaman hidroponik untuk tren pola hidup sehat.