Kasus Putus Sekolah Tinggi, Bupati Brebes Blusukan ajak Anak Sekolah

Tingginya jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak. Sebuah program yang dicanangkan oleh Pemkab Brebes, agar anak putus sekolah bisa kembali mengikuti kegiatan belajar sesuai jenjangnya.

Program itu dinamai Gerakan Kembali Sekolah (GBS). Tidak hanya unsur pemerintahan, program ini juga melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama serta komponen masyarakat lainnya.

Untuk menyukseskan program Gerakan Kembali Bersekolah, Bupati Brebes Idza Priyanti dan jajarannya melakukan road show ke 17 Kecamatan di Kabupaten Brebes.

Kegiatan maraton tersebut dimulai hari Senin (2/10) dengan menyusuri daerah daerah di wilayah Pantura. Berikutnya, blusukan dilanjutkan di wilayah Kecamatan Tanjung, Losari dan Kersana.

Hari ini, Kamis (5/10/2017), mereka menjelajah wilayah Brebes selatan yang meliputi Kecamatan Bumiayu, Bantarkawung, dan Salem.

Di setiap desa dan kecamatan yang disinggahi, Idza meminta kepada seluruh pihak terutama kepala desa dan camat untuk ikut serta mendorong dan menyukseskan program gerakan kembali bersekolah.

“Seluruh kepala desa dan camat saya tekankan untuk ikut melakukan pendataan siapa saja yang putus sekolah dan tidak bersekolah di usia sekolah, dan mendorong mereka untuk bisa kembali bersekolah,” kata Idza.

Menurutnya Kepala Desa merupakan garda terdepan dalam menyukseskan program ini karena lebih dekat dengan masyarakat. Desa dianggap lebih tahu data akurat tentang jumlah anak tidak sekolah.

“Dengan mereka bersekolah, optimis seluruh anak di Brebes dapat sekolah dan bisa lulus minimal SMA/ SMK. Sehingga jumlah pengangguran di Brebes akan berkurang, saat ini perusahaan memperkerjakan lulusan SMA/ SMK,” jelasnya.

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Baperlitbangda) Kabupaten Brebes, Angkatno menambahkan anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diperkirakan mencapai puluhan ribu. Mereka tersebar di 17 kecamatan dan 297 desa/kelurahan.

“Kalau angka pastinya tidak hafal, Tapi jika satu kecamatan saja jumlah ATSnya lebih dari dua ribu, pasti ada puluhan ribu ATS seKabupaten Brebes,” ucapnya.

Salah satu contoh wilayah kecamatan yang memiliki jumlah tidak sekolah tinggi adalah Losari.

Dengan program GKB ini, minimal ditargetkan dapat mengembalikan 1.000 anak kembali bersekolah. Mereka akan dibantu biaya untuk pembelian seragam sekolah, tas sekolah, sepatu anak, alat tulis sekolah, dan biaya transport bagi keluarga yang miskin.

Sasaran yang dikembalikan adalah mereka yang usia sekolah umur 715 tahun dengan kriteria belum sekolah, putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah.

Menurut data pada Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM), faktor yang menyebabkan mereka tidak sekolah adalah faktor ekonomi keluarga, budaya, motivasi anak itu sendiri, dan jarak sekolah.

Baperlitbangda dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga sudah melakukan pendataan lewat SIPBM di 16 Desa di 5 Kecamatan pada tahun 2017. Data yang dihasilkan sebanyak 3.454 anak tidak sekolah dengan berbagai alasan tersebut.

Related Post