Kampus harus Lahirkan Ahli Keuangan Syariah

Yogyakarta Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan problem yang sering dihadapi bankbank syariah di Indonesia saat ini adalah kurangnya sosialisasi bank syariah. Sementara banyak orang belum paham sistem ekonomi syariah, bahkan para pegawai bank syariah sendiri.

“Banyak orang yang belum memahami sistem ekonomi syariah, termasuk para pegawainya,” kata Lukman di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (8/8/2017).

Menurutnya orang yang berkecimpung di bank syariah saat ini lebih banyak yang berlatar belakang pendidikan bank konvensional. Dengan demikian banyak yang belum mengerti dan bisa menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan ekonomi syariah.

“Banyak yang belum mengerti secara baik istilah mudharabah, takaful, musyarakah, aqad,” paparnya.

Padahal kata Lukman, sekitar 90 persen pegawai bank syariah juga tidak berlatarbelakang pendidikan ekonomi syariah. Kondisi ini menjadi peluang besar, karena industri perbankan syariah yang masih membutuhkan 6 ribuan tenaga profesional.

Oleh sebab itu, dia berharap dengan diresmikannya gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bisa melahirkan akademisi yang unggul dibidang keuangan syariah. Peluang industri industri perbankan syariah bisa ditangkap masyarakat.

“Saya mengimbau, sudah saatnya kita betulbetul mengajak dan melibatkan para praktisi ekonomi yang mengajar di kampus. Sebab, mereka itu sangat dibutuhkan untuk pengembangan dan pengayaan teori yang selama ini dikuliahkan di kampus,” tutupnya.

Dia menambahkan Indonesia yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun pangsa pasar bank syariah di negeri ini jauh tertinggal dari bankbank konvensional. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia baru mencapai 14 persen.

“Bankbank syariah baru mengelola dana sekitar Rp 240 triliun dari dana Rp 2.000 triliun. Jauh tertinggal dibandingkan bank konvensional,” kata Lukman.