Jean-Michel Basquiat: Siapa Jenius yang Disia-siakan Ini?

Sudah hampir 30 tahun sejak JeanMichel Basquiat meninggal di New York. Meninggal saat usianya baru berusia 27 tahun, dia dikenal sebagai seorang seniman besar seni visual yang berakar pada grafiti jalanan.

Kini, sebuah pameran besar yang menampilkan karyanya dibuka di Barbican, London. sahabatnya, Jennifer Stein mengenang kembali awalawal perjumpaan dan kerja sama dengan Basquiat di masamasa awal, yang menurutnya adalah masamasa paling membahagiakan bagi Basquiat.

Jennifer von Holstein atau yang juga dikenal dengan nama Jennifer Steinmasih mengalami jetlag setelah menempuh penerbangan panjang dari Seattle. Dia berada di London untuk pameran baru Basquiat: Boom for Real. Dia masih kelelahan, namun sangat senang saat membicarakan survei komprehensif di Barbican tentang karir singkat dan brilian sahabatnya, Basquiat.

Saat ini dia tinggal di kawasan pedesaan di Pacific Northwest, negara bagian Washington, AS. Suaminya adalah pembuat organ untuk gereja. Dia memiliki tiga anak, yang ia tekankan kesemuanya kini berusia lebih tua dari Basquiat ketika dia meninggal karena overdosis pada tahun 1988. Dia mengatakan semuanya tampak sebagai dunia yang berbeda, namun dia mengenang Basquiat dengan penuh kasih.

“Saya pikir membesarkan keluarga saya sendiri berarti saya melihat kembali harihari itu dengan wawasan yang tidak saya miliki sebelumnya. Dan saya melihat lebih jelas apa yang salah dengan JeanMichel.”

Pada tahun 1979 dia bertemu Basquiat di sebuah pesta di sebuah loteng di Canal Street di Manhattan, tempat dia tinggal.

“Orangorang yang bekerja di bidang seni saat itu tengah membicarakan seorang seniman grafiti baru yang misterius bernama SAMO, yang menandai berbagai tempat di New York. Lalu JeanMichel menyemprotkan lukisan di dinding loteng dan saya sontak berlari menghampirinya dan mengatakan, Saya sudah lama mencarimu. Kemudian dia menatap saya dan tersenyum lebar. Dia bertanya mengapa saya ada di sana dan saya katakan saya memang tinggal di sini. Dari situlah kami memulai persahabatan yang indah ini.

Terkadang Basquiat dikisahkan sebagai orang yang berhasil lolos dari kemiskinan. Namun pada kenyataannya, dia merupakan seorang terpelajar dari keluarga kelas menengah berdarah HaitiPuerto Rio, yang berkeinginan untuk berkarir di bidang seni.

Titik penting karirnya adalah bertemu dan kemudian berteman dengan Andy Warhol beberapa bulan setelah bertemu Jennifer Stein.

“JeanMichel benarbenar senang, bahwa di kamar saya di Canal Street, dia menemukan banyak kartu bergambar bintangbintang bisbol yang saya lukis pada wajahnya. Dia tertawa terbahakbahak, lalu dia mengambil cairan penghapus yang saya gunakan dan menulis namanama di kartukartu itu.”

Jennifer pun berpikir bahwa kontribusi artistik mereka bersama membuat kartukartu itu menjadi tidak biasa dan menarik, bahkan mungkin laku untuk dijual.

“Kami tak lebih seperti anakanak dan kami memang tidak punya uang. Jadi kami perbanyak kartu warnawarni itu dan menjualnya di jalan. Lalu kami memasang poster di tempat kami berjualan dan berteriak menjajakan kartu pos seharga US$1 (Rp13.000).

“Kami melakukannya sepanjang hari dan terkadang kartu kami hanya menghasilkan US$5 (sekitar Rp66.000), dan pernah juga mencapai $20 (Rp266.000) dan itu penghasilan yang besar. Kebanyakan orang melihat cara kami berjualan dan dengan kartukartu artistik dan gila ini kemudian mengacuhkan kami. Tapi saya rasa orangorang yang memiliki selera humor, senang dengan caracara yang JeanMichel dan saya lakukan untuk membuat kartu itu dan saya senang melihat koleksinya dipamerkan di London. “

Stein mengatakan kartukartu itu sebagian besar tersembunyikan selama bertahuntahun.

“Tapi saya bisa melihat bagaimana kurator Eleanor Nairne di Barbican mengumpulkan koleksi Basquiat untuk dipamerkan dan dia sangat berhasil, sehingga saya bisa tahu bahwa dunia seni ingin melihat karyakarya JeanMichel ini, sebelum seluruh uang dan ketenaran itu. “

Umur Basquiat bahkan belum 20 tahun, ketika para pekerja seni mulai memperhatikan karyakaryanya yang berwarna cerah, yang berkembang pesat, berakar dari lukisan grafiti. Tak lama kemudian, dia pun tak perlu lagi menjelajahi jalanan untuk berjualan kartu pos senilai Rp13.000. Stein pun menyaksikan pencapaian temannya yang secepat kilat masuk stratosfer artistik.

“Saya mengerti bagaimana hal itu terjadi dan saya menyaksikan kejadiannya, tapi semuanya tampak tidak nyata. Saya pikir itu juga tampak tidak nyata baginya. Saya rasa dalam banyak hal dia seharusnya lebih banyak dipupuk oleh orangorang yang memberinya kesuksesan. Ini dimulai seperti kilat semalaman, suatu ledakan. Karir JeanMichel baru saja berlangsung sekitar 10 tahun, sebelum kematiannya di usia 27 tahun. “

Stein mengatakan menjadi seorang ibu telah memberinya perspektif ekstra pada karir temannya itu dan kematiannya di usia yang masih muda.

“Saya melihat sekarang ini umur bukan menjadi faktor untuk bisa menghadapi kekayaan, ketenaran dan perhatian. Mungkin seharusnya dia masih bersama kita hari ini, jika orangorang yang memfasilitasi karirnya menyadari bahwa kendati dia seorang jenius di dunia artistik, jauh di dalam batinnya dia adalah seorang yang benarbenar masih muda. Mereka seharusnya tahu itu.”

Kematian pelukis ini akibat overdosis heroin terjadi saat dia berusia 27 tahun, yang memperkuat citranya di yang bagai bintang rock di dunia seni rupa. Stein mengatakan perbandingan itu memang benar adanya.

“Dalam banyak hal dia adalah seorang bintang rock. Dan semakin banyak yang saya menyaksikan jalan hidupnya, semakin saya menyadari bahwa pada tahun 1980an JeanMichel tidak dihiraukan oleh orangorang yang semestinya memperhatikannya. “

Stein menyaksikan bagaimana karier Basquiat melesat, ternyata tanpa batas.

“Tapi saya saya pikir itu bukanlah bagian yang paling membahagiakannya. Saat yang membahagiakan bagi JeanMichel adalah sejak saya bertemu dengannya hingga sekitar tahun 1982 atau 1983. Itu adalah era pembuatan kartukartu pos. Masa sebelum narkoba, sebelum uang, sebelum ketenaran. Bebas dan gila itulah yang disukai JeanMichel.”

Related Post