Islamic Cultural Festival 2017 Jepang, Memperkenalkan Islam Melalui Pertukaran Budaya

Ramadan, bulan suci bagi umat islam, tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas iman pribadi muslim, namun juga syiar islam untuk masyarakat sekitar khususnya yang non-muslim.

Untuk menyemarakkan syiar islam di bumi Sakura khususnya pada bulan ramadhan, Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) dengan didukung oleh KBRI Tokyo, PMIJ, FGA, DKM MIT, dan Komunitas negara muslim di Jepang, menyelenggarakan Islamic Cultural Festival (ICF) 2017 pada 17 Juni 2017, di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT).

Sebuah acara untuk memperkenalkan Islam melalui pertukaran budaya, khususnya untuk masyarakat Jepang.

“Budaya Jepang dan ajaran Islam memiliki banyak kesamaan. Sedikitnya ada tiga yaitu menghargai waktu, kebersihan dan penghormatan kepada orang tua. Melalui acara ini, semoga masyarakat Jepang yang hadir dapat mengenal budaya negara-negara Islam dan memahami ajaran Islam dengan baik,” ungkap Harun, ketua bidang dakwah KMII pada sambutan acara ini.

Acara yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya semenjak tahun 2015, mengambil tema “Satu hari, menjadi muslim”. Lebih dari 140 orang mengikuti acara ini, baik orang Jepang muslim maupun non-muslim.

Di awal acara peserta diajak mencoba pakaian khas negara muslim, seperti hijab, baju abaya/kurung untuk perempuan.

Untuk laki-laki, disediakan taqiyah (topi khas arab), dan tidak ketinggalan peci dan baju koko khas Indonesia.

Peserta terlihat sangat antusias mencoba pakaian muslim yang beragam jenisnya. Selain itu, tersedia juga stan kaligrafi, di mana peserta belajar teknik menulis kaligrafi yang menggunakan bambu dan tinta sebagai alatnya.

Peserta juga mendapat penjelasan tentang proses pembangunan Masjid Indonesia Tokyo, dan khusus non-muslim diajak untuk melihat ke dalam masjid yang baru saja diresmikan.

“Festival ini sebenarnya memang sudah lama. Sebelumnya dengan nama Nihonjin. Berubah nama sejak Mei 2017 menjadi festival budaya Islam,” papar Wilopo Ketua KMII khusus kepada Tribunnews.com Jumat ini (23/6/2017).

Peserta semakin tertarik dengan Islam, ketika seminar dan diskusi tentang “Islam sebagai jalan hidup” diadakan dengan mengundang pembicara dari orang Jepang, yaitu Ustadz Maeno dan Ustadzah Miwa. Ustadz Maeno menjelaskan ISLAM dengan singkatan Islam itu sendiri Internasional, Spritual, Love, Awesome, dan Moderate.

Ustadzah Miwa menceritakan perjalanan hidupnya bagaimana beliau tertarik dengan islam dari kepribadian muslim ketika sedang belajar di Amerika.

Kedua pembicara sepakat bahwa menjadi muslim tidaklah sulit karena banyak budaya Jepang yang sesuai dengan ajaran Islam, tinggal meninggalkan apa yang dilarang secara bertahap.

Menjelang berbuka puasa, peserta dibuat kagum dengan penampilan tari piring dan tari padupa oleh siswa/i Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Tidak ketinggalan Nasyid Jepang yang berjudul “Kamisama (Tuhan)” dan “Mantsuki Nobotta (Tala Al Badru Alayna)” oleh ustad Maeno dan Meguro Voice, mengetuk hati para peserta.

Azab Magrib pun berkumandang dan tiba saatnya berbuka. Pengunjung diajak mencicipi makanan tradisional dari berbagai Negara muslim, seperti Roti jala khas Malaysia, “Fatteh” khas Syria, “Biyari, Pakora dan Chai” dari Pakistan, makanan khas Turki, dan tidak ketinggalan Indonesia dengan menu khas tradisionalnya seperti nasi uduk, tempe, ayam goreng yang disajikan apik dengan daun pisang.

“Acara ini selalu kami nantikan. Senang bisa mencoba makanan dari berbagai negara yang menunya selalu berganti, bisa melihat dalam masjid dan bisa belajar banyak tentang Islam,” kesan Tamura dan istrinya yang non muslim. Mereka sudah mengikuti acara ini untuk ketiga kalinya.

Selain Islamic Cultural Festival, KMII juga mengadakan IslamZemi, seminar bulanan untuk orang Jepang yang mengajarkan Islam dari dasar dan tematis. Acara ini juga banyak dihadiri oleh non-muslim Jepang yang tertarik dengan Islam. Acara-acara seperti ini menambah semarak syiar agama Islam di bumi sakura.

“Pada hakekatnya acara tahunan ini untuk meningkatkan jumlah orang Jepang agar bisa masuk lebvih banyak lagi yang menjadi Muslim,” tambah Wilopo lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *