ISIS Kian Terdesak di Suriah, Bagaimana Nasib Milisi Indonesia?

Damaskus Militer Suriah menyatakan semua milisi kelompokISIS diusir dariDeir alZour, kota besar di Suriah timur, yang selama beberapa tahun terakhir berada di bawah kekuasaan kelompok militan tersebut.

Jatuhnya kota Deir alZour pada pekan pertama November 2017 menandai kemunduran besar ISIS di Suriah dan Irak setelah beberapa waktu lalu kehilangan Raqqa, kota yang sempat diklaim sebagai ibu kota kekhalifahan Islam.

Lantas, bagaimana nasib milisi atau petempur ISIS asing, termasuk dari Indonesia, yang saat ini masih berada di Suriah atau Irak?

Jumlah pasti warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS tak diketahui. Pemerintah Indonesia hanya mengatakan mungkin jumlahnya ratusan.

Data yang dihimpun lembaga kajian yang berpusat di New York, The Soufan Center, yang dirilis pada Oktober 2017 menyebutkan bahwa ada sekitar 600 petempur ISIS asal Indonesia, dan 384 orang diyakini masih berada di Suriah atau Irak.

Masih menurut The Soufan Center, terdapat pula sekitar 113 perempuan asal Indonesia yang berada di daerahdaerah yang dikuasai atau pernah dikuasai ISIS.

Secara keseluruhan terdapat sekitar 30.000 hingga 40.000 warga asing dari 110 negara yang masuk ke Suriah dan Irak setelah ISIS mengumumkan pendirian negara Islam pada Juni 2014.

Setelah ISIS terdesak, muncul seruanseruan agar para milisinya dihabisi saja.

ISIS kehilangan banyak daerah kekuasaan, termasuk Raqqa, Suriah, yang sekarang hancur akibat pertempuran. (Reuters)

Seruan tersebut antara lain dikeluarkan pejabat senior Amerika Serikat, Brett McGurk, yang mengatakan pihaknya ingin memastikan semua petempur asing yang berperang untuk ISIS mati di Suriah.

Komentar senada disampaikan oleh pejabat Inggris dan Prancis.

Jalani program diBNPT

Tapi Wakil Direktur Palang Merah Internasional untuk wilayah Timur Tengah, Patrick Hamilton, menolak seruan tersebut dan menyatakan para petempur ISIS yang ditangkap mestinya diperlukan secara manusiawi sesuai dengan hukum internasional.

Hamilton mengatakan kejahatan luar biasa yang dilakukan ISIS tak bisa menjustifikasi pelanggaran atas hukum internasional saat menghadapi petempurpetempur ISIS yang tertangkap.

Sementara utusan khusus PBB, Agnes Callamard, menggarisbawahi bahwa kejahatan serius dilakukan oleh semua pihak di Suriah dan Irak.

“Mengapa hanya menyalahkan satu pihak saja,” tanyanya.

Beberapa WNI pernah tinggal di Raqqa. Beberapa di antaranya memutuskan meninggalkan kota tersebut. (AFP)

Aliansi antiISIS di Suriah, Syrian Democratic Forces (SDF), mengatakan semua milisi ISIS yang ditangkap akan diadili. Namun tak disebutkan bagaimana penanganan setelah proses hukum selesai, apakah mereka akan dipenjara di Suriah atau dipulangkan ke negara asal masingmasing.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah menerima kembali deportan, baik yang ditahan di Turki negara yang dipakai sebagai pintu masuk ke kawasan ISIS maupun yang memutuskan meninggalkan daerah kekuasaan ISIS.

Termasuk di antaranya 18 orang yang kembali pada pertengahan tahun, yang menjalani program deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

BNPT mengatakan selama menjalani program ini para deportan antara lain mendapatkan materi tentang wawasan kebangsaan dan agama.

Dari 18 warga tersebut, 15 orang diizinkan untuk kembali ke masyarakat pada pertengahan November.