Ini Kata Gubernur Ganjar tentang Pintu Penumbang Pejabat di Kudus

Semarang Pintu menuju Kompleks Masjid Menara Kudus dipercaya dipasangi rajah yang bisa membuat karir pejabat yang melewatinya jatuh. Namun Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, akhir pekan lalu berani datang ke sana menghadiri acara buka luwur. Apa kesan dia?

Foto keberanian Ganjar datang ke lokasi tersebut tersebar di media sosial. Ganjar mengikuti prosesi buka luwur untuk mengganti kelambu makam Sunan Kudus yang rutin digelar 10 Muharam yang tahun ini jatuh pada 30 September lalu.

Ganjar mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kepercayaan yang sudah menjadi rahasia umum itu. Dirinya datang karena diundang dan memang berniat bertemu ulama serta masyarakat dalam tradisi itu.

“Dikabari orangorang (soal kepecayaan di Menara Kudus). Saya diundang, tidak pernah mikir yang seperti itu,” kata Ganjar saat dihubungi detikcom, Jumat (6/10/2017).

Ganjar memang diundang oleh pengurus masjid dan diberitahu terkait adanya kepercayaan pejabat akan lengser jika ke sana. Namun ada informasi juga Sri Sultan Hamengku Buwono IX pernah ke sana, namun juga tidak terjadi apaapa.

Syarat pejabat datang dengan harus menanggalkan atribut pejabatnya pun sudah diketahui Ganjar. Oleh sebab itu dia datang dengan baju putih biasa dan berniat datang sebagai rakyat. Ganjar juga datang hanya ditemani ajudan dan staf khusus..

Ganjar Pranowo di kompleks makam Sunan Kudus.
Acara demi acara pun dijalani mulai dari berdoa hingga bagibagi nasi jangkrik, hidangan khas acara tersebut. Politisi PDIP itu juga tidak memiliki kesan lain selain kagum dengan prosesi tradisi yang dijaga oleh warga di sana.

“Tidak ada kerasa apaapa, hanya ziarah. Ada acara tradisi yang bagus dari masyarakat, bagaimana merawat makam, bagaimana mendoakan, bagaimana mereka berbagi, ada potong kerbau, ada nasi yang dibungkus daun jati. Membangun solidaritas,” jelas Ganjar.

Pengurus Komunitas Menara Kudus, Abdul Jalil mengatakan saat itu Ganjar datang lewat pintu samping, bukan pintu gerbang bertuah yang dipasangi doa Sunan Kudus. Menanggapi hal itu, Ganjar mengaku memang ada yang mengarahkan. Ia lewat pintu samping dan perkampungan untuk bertemu warga yang menerima pembagian nasi bungkus.

“Ya saya kan tidak tahu sampingnya mana. Diarahkan lewatnya sana,” kata Ganjar.

Menurutnya, masyarakat saat ini berpikir rasional meski tetap haru menghormati adat yang ada. Sebagai pejabat dirinya harus mengesampingkan halhal irasional untuk bertemu warganya.

“Rasional saja, kita berketuhanan, punya agama. Di Pati katanya juga seperti itu, saat banjir kalau kita tidak ke sana bagaimana. Lagi pula tidak ada orang yang mencegah juga,” pungkasnya.