Ini Jejak Sejarah Peradaban Islam di Lamongan

Lamongan menyimpan beragam peninggalan sejarah, tak terkecuali sejarah penyebaran Islam. Bahkan, dari sebaran benda-benda sejarah tersebut, Islam di Lamongan sudah jauh ada sebelum masa Walisongo.

Pemerhati budaya dari Lamongan, Supriyo mengatakan, dari jejak sejarah yang ada, Islam di Lamongan lebih tua jika dibandingkan dengan jejak sejarah yang ada di Leran, Gresik, makam Fatimah binti Maimun.

Beberapa jejak sejarah tersebut, kata Priyo, di antaranya kompleks makam Mbah Mbarang yang ada di Desa Pendowo Limo, Kecamatan Karangbinangun. Selain itu, kata Priyo, juga ada kompleks makam Sunan Hisyamudin atau Sunan Deket di Desa/Kecamatan Deket yang juga punya jejak sejarah tua.

“Dari dua kompleks makam ini, jejak sejarahnya terlihat lebih tua, yaitu sekitar abad ke 10 atau 11,” kata Priyo, Selasa (24/10/2017).

Dikatakan oleh Priyo, di Situs Mbah Barang selain ditemukan kompleks makam, juga ditemukan Gentong Batu yang terletak di komplek cungkup makam Mbok Rondo Mbarang. Di sekitar komplek makam dan masjid, lanjut Priyo, setidaknya 3 makam tokoh yang disakralkan, yaitu Makam Mbah Gadung, Kedua adalah Makam Mbok Rondo Barang, dan yang ketiga tanpa cungkup adalah Makam Sayid Wisnu.

“Dari ketiga makam tersebut hanya makam Sayid Wisnu yg masih terlihat kekunoannya yang ditunjukkan dengan keberadaan nisan batu Andesit dengan motif suluran,” terang Priyo yang mengungkapkan 2 makam lainnya sudah mengalami pemugaran.

Priyo menuturkan, terkait nisan makam Sayid Wisnu yang terbuat dari bahan batu andesit cukup menarik perhatian mengingat biasanya nisan-nisan makam kuno di Lamongan rata-rata terbuat dari batu kapur. Seperti di komplek makam sunan Drajat maupun Sendang duwur ataupun makam kuno lainnya di Lamongan. Kekunoan lainnya, lanjut Priyo, adalah keberadaan gentong Batu yang biasanya merupakan produk kebudayaan masa Majapahit.

“Hal unik lainnya juga adalah keberadaan kubah masjid yang dihiasi dengan panah kuno yang konon adalah milik dari Mbah Gadung,” akunya.

Sebaran bekas keramik yang ada di kompleks makam ini, terang Priyo, juga menunjukkan keramik dari abad 10 atau 11. Saat itu masih masa Majapahit dan jauh sebelum masa Walisongo. Priyo menegaskan, temuan yang sama juga terlihat di makam Sunan Deket, pecahan keramik asing di makam Mbah Hisyamudin dan sebaran reruntuhan batubata kunonya juga padat dan luas.

“Ini menunjukkan kalau sebenarnya Islam sudah berkembang di Lamongan jauh sebelum masa Walisongo,” tutur Priyo yang juga menyebut kalau dimungkinkan makam-makam tersebut adalah makam para tokoh penyebar Islam dan pedagang Islam.

Dengan temuan-temuan ini, Priyo berharap agar masyarakat Lamongan lebih bisa menjaga dan merawat benda-benda sejarah tersebut. “Agar jejak-jejak sejarah ini tidak hilang dan kita bisa ikut menikmati sejarah tersebut,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *