Industri Gula Tumbu di Jepara Mulai Meredup

Kudus Produksi gula tumbu di Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara mulai meredup. Penyebabnya selain stok tebu yang kian berkurang, juga lahan pengolahan beralih fungsi menjadi pabrik modern.

Gula tumbu adalah gula merah berbahan dasar tebu dengan proses olahan tradisional. Mulai proses peras, masak dengan kuali, pengendapan hingga pencetakan dilakukan dengan alat tradisional.

Produksi gula tumbu di Desa Gemulung pernah ramai hingga tahun 1990an dengan puluhan tempat produksi. Tempat produksi di brak atau tempat pembuatan gula di lahan persawahan. Namun kini, hanya menyisakan belasan brak yang masih beroperasi.

Norkhan (54), salah satu pengrajin gula tumbu mengaku usaha pembuatan gula tumbu miliknya adalah peninggalan ayahnya yang beroperasi sejak 1980an. Sampai tahun itu, gula tumbu dimintai pasar sehingga permintaan meningkat. Namun, akhirakhir ini mulai berkurang.

“Saya mewarisi usaha ini dari ayah yang berusaha sekitar awal tahun 1980an. Lalu saya teruskan pada pertengahan tahun 1990an,” katanya.

Menurutnya dulu ada sekitar 22 brak atau gudang pembuat gula tumbu. Namun saat ini kalau dihitung tinggal 11 buah yang masih berproduksi. “Tinggal sedikit, sekitar 11an buah,” katanya.

Menyusutnya jumlah brak diakibatkan banyaknya lahan persawahan yang beralih fungsi menjadi pabrikpabrik. Salah satunya adalah ekspansi pabrikpabrik tekstil yang mencaplok lahan tebu. Ia mengatakan, lahan tebu yang digunakan oleh pabrik sekitar 40 hektar lebih.

“Hal itu tentu saja berpengaruh ke petani. Karena bahan produksinya pasti berkurang,” kata dia.

Ia sendiri telah melepas enam kotak lahan tebu miliknya untuk pendirian pabrik modern.

“Saya tidak tahu kalau akibatnya sampai seperti ini. Bukan hanya tebu (bahan dasar) yang sulit dicari, karyawan juga mulai sulit memilih kerja yang lain,” keluh dia.

Seorang pekerja brak lain Joko menambahkan, saat ini proses penggilingan paling lama memerlukan waktu tiga bulan. Hal itu berbeda dengan beberapa tahun silam.

Menurutnya dulu proses penggilingan itu sampai tiga bulan lebih. Namun kini hanya sampai dua setengah hingga maksimal tiga bulan. Setelah itu, proses produksi sudah berhenti. Sebabnya bahan baku tebu sudah berkurang karena lahannya sudah berubah fungsi. “Selain itu juga banyak brak tua sudah tak berproduksi lagi,” ungkapnya.

Dia menambahkan harga gula tumbu saat ini untuk satu tumbu (1,6 kuintal) berkisar sekitar Rp 600 ribu lebih. Gulagula itu kebanyakan dibeli oleh pedagang asal Gebog Kabupaten Kudus. Adapun gula tumbu kebanyakan digunakan sebagai bahan baku pembuatan kecap, roti tradisional, bumbu, sambal dan sebagainya.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah supaya tetap bisa memproduksi gula tumbu,” tandasnya.