Indonesia Pertanyakan Pemantauan Teroris yang Dilakukan Australia

Canberra

Wakil kepala bidang kerjasama internasional Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Hamidin mempertanyakan keberadaan teroris asal Australia yang telah menjalani hukuman, Jack Roche. Dia juga mengkritik pendekatan Australia berkenaan dengan pemantauan jaringan bekas anggota kelompok seperti Jemaah Islamiah (JI).

Irjen Hamidin mengatakan dia yakin adanya sel terorisme lama yang sekarang masih aktif di Australia.

Dalam wawancara dengan ABC, Hamidin mengatakan prihatin karena dalam pertemuan barubaru ini membahas penanganan tindak ekstremisme yang dilangsungkan di Sydney dan Canberra, para pejabat Australia tidak mengetahui dimana keberadaan Roche.

“Saya ingin tahu di mana dia sekarang. Namun tidak seorang pun yang tahu,” kata Hamidin.

“Ada yang mengatakan dia sudah kembali ke Indonesia. Sementara kita di Indonesia, menyangkut keberadaan eks teroris, selalu memiliki komunikasi dengan mereka,” jelasnya.

Hamidin mengatakan pihak berwenang Indonesia sedang mencari Roche.

ABC mendapat laporan bahwa Roche meninggalkan Australia bulan Oktober tahun lalu, dan belum kembali. Dia mungkin bepergian ke Indonesia bersama istrinya yang asal Indonesia, Afifah.

Roche menjalani hukuman empat setengah tahun di Penjara Casuarina di Perth setelah dinyatakan bersalah berkomplot hendak meledakkan kedutaan Israel di Canberra.

Dia dibebaskan bulan Mei 2007, setelah menjalani hukuman hanya setengah dari hukuman maksimal sembilan tahun yang dijatuhkan terhadapnya.

ABC mendapat laporan bahwa dia tidak dianggap sebagai ancaman atau berbahaya oleh kepolisian Australia.

Mantan teroris JI ini tidak mendapat larangan untuk melakukan perjalanan di Australia dan tidak melanggar aturan apapun dengan meninggalkan Australia.

Tidak mendukungISIS

Quinton Temby, pakar mengenai Islam radikal dari Murdoch University di Perth mengatakan bahwa Roche tidak pernah menyampaikan simpati terhadap apa yang dilakukan ISIS di masa lalu.

“Istrinya berasal dari Indonesia. Jadi dia masih memiliki hubungan dengan Indonesia. Dia mungkin masih memiliki hubungan dengan jaringan JI lama,” kata Temby.

Temby mengatakan tahu bahwa Roche menghabiskan waktunya antara Jakarta dan Perth.

Irjen Hamidin kepada ABC mengatakan bahwa Indonesia terus memantau keberadaan mantan teroris, karena beberapa di antara mereka bisa aktif berhubungan dengan ISIS.

Aman Abdurrahman, yang pertama kali dijatuhi hukuman di tahun 2004 karena membuat bom, kemudian menggerakkan serangan teroris di Jakarta di tahun 2016 dari balik jeruji penjara di Nusa Kambangan.

“Selsel lama ini, yang kami sebut sel tidur, meskipun mereka sekarang tidak aktif, bisa bangkit kembali bila ada pemicunya,” kata Hamidin.

“Saya bisa mengatakan bahwa ada beberapa sel itu yang masih hidup di Australia.”

“Di Indonesia, kami tetap melakukan kontak dengan para eks teroris. Kami memantau mereka. Namun yang saya jelaskan untuk anda sekarang adalah pertanyaan mengapa pemerintah Australia tidak memantau keberadaan Jack Roche.”

Disebut oleh Pentagon

Roche dan hubungannya dengan Jemaah Islamiah disebut dalam tuduhan yang dikeluarkan barubaru ini oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon), berkenaan dengan tuduhan terhadap Hambali.

Hambali disebut sebagai tokoh utama dalam peledakan bom Bali tahun 2002, dan sekarang ditahan di Teluk Guantanamo.

Pentagon merinci hubungan Roche dengan Hambali, termasuk pertemuan di tahun 2000 di mana keduanya mendiskusikan sasaran Israel dan Amerika Serikat di Australia.

Menurut dokumen tersebut, Hambali juga membiayai perjalanan Roche ke Afghanistan, dimana Roche bertemu dengan Osama bin Laden di sana.

Roche yang kelahiran Inggris dan kemudian masuk Islam tersebut sekarang berusia 63 tahun, dan menjalani kehidupan di Perth sejak dibebaskan, dan kemudian meninggalkan Australia tahun lalu.

Inspektur Jenderal Hamidin mengatakan dia barubaru ini mencari Roche di kampung istrinya di Sumatera Barat, namun keluarganya mengatakan tidak tahu di mana keberadaan pria tersebut.

“Kami menggunakan pendekatan lunak namun saya bisa mengatakan bahwa Australia tidak melakukan hal pendekatan yang memadai dalam soal ini.” katanya mempertanyakan metode pemantauan yang dilakukan Australia.

Juru bicara Kepolisian Federal Australia (AFP) mengatakan mereka tidak memberikan komentar mengenai masalah intelejen.

Diterjemahkan pukul 14:20 AEST 4/8/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini