Imigrasi: Pemerintah Tak Akan Biayai Bule yang Kehabisan Ongkos

Bule-bule seringkali dipandang sambil mendongak oleh orang Indonesia. Bukan karena kebanyakan orang kulit putih itu punya postur lebih tinggi, melainkan karena bule dipandang relatif lebih makmur dan sejahtera ketimbang orang Indonesia.

Mindset masyarakat kita itu ‘londo itu sugih (bule itu kaya)’. Ini yang perlu diubah,” kata Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno, kepada detikcom, Rabu (28/2/2018).

Agung paham betul jenis-jenis bule yang datang tanpa kejelasan dana. Bukannya rasis, tapi memang banyak bule yang ditolak masuk gara-gara gagal meyakinkan pihak Imigrasi di bandara bahwa mereka benar-benar punya sangu yang cukup selama di Indonesia.

“Tahun lalu (2017) ada 6.000 orang kita tolak masuk ke Indonesia. Salah satu sebabnya saat kita wawancarai, mereka tidak bisa menunjukkan tiket kepulangan dan tidak bisa menunjukkan jumlah uang untuk biaya hidup dia (di Indonesia),” kata Agung.

Untuk masyarakat di kawasan pariwisata, pemandangan bule yang keleleran sudah bukan hal langka. Di Bali, banyak bule backpacker yang memang senang berpergian dengan ongkos cekak. Ada pula yang memang bergaya hidup hippie, keliling negara-negara Asia, namun tanpa bekal materi yang memadai.

“Yang paling sering kita temukan itu dari Eropa Timur, hippies, dia motifnya keliling Asia. Bahkan dari negara maju juga. Menurut mereka sensasi traveling-nya berbeda dengan yang tinggal di hotel. Modelnya traveler ngemper,” kata Agung.

Namun bila sudah dipastikan bahwa bule itu terlantar, Imigrasi akan tegas untuk meneruskan informasi keberadaan warga negara asing tersebut ke kedutaan besar negara bule yang bersangkutan. Pihak Imigrasi-lah yang memutuskan bule itu dipulangkan. Bisakah bule yang bersangkutan menolak dipulangkan?

“Nggak bisa. Yang memutuskan adalah Imigrasi,” kata Agung.

Namun pihak imigrasi akan terlebih dahulu memastikan bahwa bule ini benar-benar terlantar atau tidak. Soalnya tidak pasti juga bule yang berpenampilan kumal adalah bule yang terlantar. Ada turis yang penampilannya kumal namun pakai kartu kredit tanpa batas.

“Ketika teridentifikasi terlantar dan tak mampu pulang, maka SOP (Standar Operasi Prosedur)-nya adalah melapor ke perwakilan negara yang bersangkutan. Perwakilan itulah yang akan merencanakan kepulangannya. Keputusan memulangkan yang bersangkutan adalah keputusan Imigrasi, bukan keputusan negara perwakilan,” tutur Agung.

Dia menjelaskan, ada konvensi internasional yang mengatur suatu negara melaporkan ke perwakilan negara lain apabila ada warga negara lain yang terlantar. Namun Agung menegaskan pemulangan bule terlantar tak akan dibiayai pemerintah Indonesia, melainkan dibiayai oleh perwakilan negara yang bule yang bersangkutan.

“Mereka tidak dipulangkan pakai uang negara kita. Yang membiayai pemulangannya adalah perwakilan negara yang bersangkutan,” kata Agung.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *