Heboh Bom Hidrogen, Korsel Akan Kembali Latihan Militer dengan AS

Seoul Otoritas Korea Selatan (Korsel) bersiap untuk kembali melakukan latihan militer bersama sekutunya, Amerika Serikat. Ini dilakukan menyusul uji coba bom hidrogen yang dilakukan Korea Utara (Korut) pada Minggu (3/9).

Angkatan Udara dan Angkatan Darat Korsel hari ini melakukan latihan yang melibatkan rudalrudal udarakedarat jarak jauh dan rudalrudal balistik. Kepala staf gabungan Korsel menyatakan seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (4/9/2017), latihanlatihan berikutnya dengan pasukan AS saat ini sedang dipersiapkan di Korsel.

Sebelumnya, militer Korsel dan AS telah menggelar latihan gabungan tahunan yang diberi nama Ulchi Freedom Guardian Drill. Latihan militer gabungan ASKorsel tersebut berlangsung pada 21 Agustus hingga 31 Agustus lalu. Tak kurang dari 17.500 tentara AS dan 50.000 tentara Korsel turut serta dalam latihan gabungan itu. Latihan bersama yang digelar tiap tahunnya pada bulan Agustus atau September ini telah dilakukan sejak 1976.

Kementerian Lingkungan Hidup Korsel hari ini juga akan mengumumkan persetujuannya atas laporan penilaian lingkungan hidup untuk pengerahan sistem pertahanan antirudal buatan AS, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Sebelumnya pada Juni lalu, pemerintah Korsel menyatakan akan menunda pemasangan unitunit terakhir sistem THAAD sebelum pihaknya menyelesaikan penilaian dampaknya pada lingkungan hidup.

Pada Minggu (3/9), Pyongyang mengumumkan keberhasilan uji coba bom hidrogen, yang memicu peringatan soal respons militer yang masiv dari Amerika Serikat.

“Kami tidak mencari pemusnahan total sebuah negara, yakni Korut,” kata Menteri Pertahanan AS Jim Mattis usai bertemu Trump dan tim keamanan nasionalnya. “Namun seperti yang kami katakan, kami punya banyak opsi untuk dilakukan,” imbuhnya.

Trump sebelumnya bersumpah akan mencegah Korut mengembangkan senjata nuklir dan mengancam akan membalas dengan “api dan kemarahan” jika Korut mengancam wilayah AS. Ancaman tersebut direspons Korut dengan mengancam akan menembakkan rudalrudal ke Guam, wilayah AS di Pasifik.