“Hallyu” dan Keberpihakan Kaum Muda

Beberapa waktu yang lalu, fans K-Pop (Korean Pop) Indonesia digemparkan dengan berita bunuh diri seorang penyanyi asal Korea Selatan di apartemennya. Dengan cepat, pelbagai media sosial dipenuhi dengan berita duka dan tagar tertentu untuk menyatakan duka mereka sebagai penggemar musik K-Pop. Bisa jadi, Indonesia adalah negara dengan jumlah pecinta segala sesuatu berbau Korea Selatan terbesar di dunia. Tak tanggung-tanggung, segala ornamen Korea bisa kita temui dengan mudah dalam bentuk ornamen di kafe-kafe, di serial TV, di playlist tangga lagu, dan sebagainya.

Tampaknya, Korea Selatan memang sudah sangat melekat di hati sebagian masyarakat Indonesia, terutama kaum mudanya. Gejala gelombang Korea (Korean Wave) atau Hallyu di dalam bahasa Korea tampaknya tidak bisa dibendung di era keterbukaan internet seperti saat ini. Terlepas dari itu semua, menarik untuk kita pikir bersama bagaimana negara seperti Korea Selatan mampu menancapkan “akarnya” begitu kuat melalui industri kreatifnya baik berupa sinetron, film, musik maupun kulinernya kepada generasi muda Indonesia, serta mampukah kita melakukan hal yang sama?

Terminologi Hallyu pertama kali diperkenalkan ke publik sejak pertengahan 1990. Pasar pertama industri kreatif Korea Selatan adalah rakyat China. Keberhasilan industri ini diterima di kalangan masyarakat China, kemudian menjalar ke pelbagai negara tetangga seperti Jepang pada 2003, dan beberapa negara Asia lainnya. Puncak keberterimaan Hallyu di seluruh dunia barangkali terjadi pada akhir 2012 ketika penyanyi Psy membawakan sebuah lagu serta gerakan yang sangat fenomenal yang sudah ditonton oleh lebih dari 3 miliar penonton di kanal Youtube: Gangnam Style! Sejak saat itu, Hallyu merambah tidak hanya untuk kalangan Asia, namun juga Eropa, Amerika Serikat hingga Australia.

Di balik kesuksesan Korea Selatan dalam menyebarkan industri kreatif mereka ke seluruh penjuru dunia, setidaknya ini berkat partisipasi beberapa pihak di pelbagai lini dan sektor. Pihak yang paling sentral dalam perkembangan Hallyu ini adalah pemerintah Korea Selatan melalui diplomasi kulturalnya. Hal ini diperkuat dengan pidato resmi Presiden Kim Dae-Jung dalam Third Conference of Tourism Promotion yang menyatakan bahwa strategi melalui kultural diperlukan untuk mengembangkan Korea Selatan melalui industri kreatif.

Tidak hanya menyasar dunia perfilman dan musik, pemerintah Korea Selatan juga gencar memperkenalkan budaya melalui busana dan kuliner. Hal ini dapat dilihat dengan banyak diperkenalkannya makanan dan pakaian khas Korea di berbagai serial drama seperti Kimchi, Ramyun, atau Bibimbap. Anggaran pemerintah melalui Kementerian Budaya, Olahraga dan Turisme juga terus ditambah untuk memastikan hegemoni mereka di kancah internasional.

Selain pemerintah, peranan masyarakat terutama kaum muda Korea Selatan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika kita mengunjungi Korea Selatan, baik itu di pusat perbelanjaan maupun di pusat keramaian lainnya, kita bisa dapati lagu-lagu K-Pop yang diputar dengan mudahnya. Beberapa waktu yang lalu ketika saya bertemu dan berdiskusi dengan putra-putri delegasi Korea Selatan dalam program pertukaran pemuda, mereka dengan fasih mengajari kami lagu dan cara menari ala K-Pop. Mereka mengajarkannya dengan bangga! Mereka juga mengerti dengan detail ragam gerakan K-Pop, dan segala ornamen yang digunakan oleh artis-artis K-Pop.

Sederhananya, mereka bangga dengan budaya dan musik mereka dan mereka mengapresiasi apa yang telah dikerjakan oleh para seniman mereka. Apresiasi yang mereka tunjukkan tergambar dari pengetahuan mereka, dan rasa bangga yang mereka tunjukkan di hadapan masyarakat internasional seperti kami saat itu.

Melihat pengaruh K-Pop dan segala industri kreatif Korea Selatan di muka bumi ini, maka kita tidak bisa memisahkan peranan kaum muda mereka. Sikap saling hormat dan apresiatif mereka tunjukkan kepada para seniman mereka, bukannya sebaliknya: saling ejek dan menjelekkan. Sikap ini patut ditiru oleh kaum muda Indonesia. Memang saat ini pemerintah seolah belum memiliki cetak biru yang jelas mengenai arah industri kreatif Indonesia ke depannya. Namun, semangat dan rasa saling menghargai dan apresiatif sudah dapat kita berikan kepada seniman-seniman tanah air kita.

Jika anak muda Korea bangga menggunakan baju tradisional mereka, kita harus lebih bangga dengan baju adat kita yang jumlahnya ratusan itu! Kalau saja anak muda Korea bisa mengajarkan masyarakat internasional akan gerakan K-Pop, kita juga harus lebih mampu mengajarkan tarian-tarian tradisional yang kompleks tersebut ke masyarakat internasional. Semangat mencintai budaya dan hasil karya sendiri akan mengajarkan kita rasa memiliki dan bangga, bukan sebaliknya, seolah memuji kekayaan dan kreativitas bangsa asing namun di saat yang sama memandang remeh karya anak bangsa.

Maka, tidak bisa dipungkiri bahwa kesuksesan sebuah bangsa tidak bisa dipisahkan dari dukungan dan keberpihakan kaum mudanya. Karena perilaku dan pola pikir anak muda menunjukkan seperti apa negara ini akan dipandang ke depannya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *