Halal Bihalal, ‘Bidah’ yang Mendamaikan

Saya heran, masih ada umat Islam yang menanyakan hukum halal bihalal. Pada hari pertama Lebaran Idulfitri 1438 H, saya menerima pesan lewat WhatsApp dari teman kuliah dulu. Isi pesan selain minta maaf, juga menanyakan hukum halalbihalal. Belum saya jawab, pihaknya menjustifikasi halal bihalal hukumnya bidah karena tidak pernah dilakukan Nabi Muhammad Saw.

Saya pun membalasnya, “kamu meminta maaf lewat WhatsApp ini juga bidah lho. Sebab, tidak ada satu pun nabi maupun rasul memakai WhatsApp untuk meminta maaf saat Lebaran”. Ia tak membalas, mungkin kesal karena bertanya hal konyol itu pada saya.

Perlu dipertegas, bid’ah atau bidah itu ada tempatnya. Harus diingat, Islam di Indonesia sangat beda dengan di Arab Saudi, Mesir, dan daerah di Timur Tengah. Sebab, Islam di Indonesia itu bisa dipastikan 75 persen tradisi agamanya bidah. Tak hanya halal bihalal, namun tahlilan, yasinan, kenduri, ziarah kubur bahkan Salat Tarawih 20 rakaat selama bulan Ramadan berjemaah juga bidah.

Mengapa? Nabi Muhammad hanya sekali saja melakukan Salat Tarawih berjemaah selama Ramadan dan selanjutnya dilaksanakan sendiri di rumah. Jika antibidah, Anda harus berhenti Salat Tarawih berjemaah saat Ramadan. Lalu bagaimana dengan halal bihalal?

Setop Membidahkan

Bagi Anda yang suka membidahkan, mengafirkan, coba buktikan kecintaan pada Nabi Muhammad setotal-totalnya. Jangan bidahkan tradisi Islam di Nusantara yang jelas itu menjadi alat bagi sebagian muslim untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama manusia. Ironis, jika membidahkan halal bihalal, namun di wilayah lain justru melakukan bidah sendiri.

Lihat saja, Nabi Muhammad pergi haji naik unta, namun mereka naik pesawat. Nabi ketika salat tak pernah di masjid yang azannya pakai speaker (pengeras suara), namun kini hampir semua masjid memakai speaker. Nabi juga tak pernah melakukan pengajian lewat Youtube. Namun mengapa mereka berdakwah di Youtube? Lalu, mengapa hanya tahlilan, yasinan, halal bihalal yang dibidahkan?

Jika itu semua bidah, seumpama memang bidah, maka harus dipetakan tempatnya. Islam tak akan maju jika disibukkan perdebatan cara berpikir seperti ini. Islam itu dinamis, menyesuaikan zaman dan tidak uthakuthek masalah fikih dan ibadah mahzah saja. Islam juga berhubungan dengan ibadah muamalah.

Nabi Muhammad itu “maksum” (dijaga dari dosa), tidak “neko-neko”. Sekolah PAUD saja tidak pernah. Nabi juga tidak pernah main medsos, menonton film, membaca artikel di gadget, apalagi main Pokemon Go.

Kita hidup di zaman milenial yang tentu jauh dari Nabi Muhammad. Dulu, orang hidup zaman Nabi Muhammad disebut “sahabat”. Lalu, pewaris ilmu sahabat adalah “tabiin”. Selanjutnya, tabiin mewariskan ilmu Nabi Muhammad pada umat setelahnya, yang disebut “tabi’ut tabiin” atau pengikut tabiin.

Lalu, generasi setelah “tabi’ut tabiin” adalah para alim ulama yang diikuti umat Islam sekarang. Sudah jelas, Nabi Muhammad berpesan lewat hadisnya bahwa “ulama adalah pewaris nabi”. Di era milenial, kita bisa belajar dari ulama yang benar-benar ulama karena mereka pewaris nabi. Kecuali masalah ibadah mahzah yang memang sudah baku dan tak bisa diubah syarat dan rukunnya. Namun jika ibadah muamalah, maka fleksibel, sesuai illat (sebab) dan konteksnya.

Sangat mustahil jika kita belajar langsung pada Nabi Muhammad. Jika ingin mengikuti apa yang dilakukan nabi, maka harus mencari “sanad ilmu” yang jelas. Sebab, secara budaya dan konteks waktu jelas beda antara era nabi dengan sekarang. Adanya muslim yang mudah membidahkan, karena mereka termasuk “generasi korslet” dalam berislam. Mereka tak bertahap dan tak memiliki “sanad ilmu” dan hukum yang jelas karena ingin “seperti nabi” setotal-totalnya.

Kebanyakan, mereka hanya riset di Google. Belajar Islam dengan cara mengunduh ilegal kitab-kitab kuning di internet dan juga menyadur referensi dari ceramah di Youtube. Mereka tak pernah belajar langsung pada ulama, kiai, guru yang jelas sanad ilmunya.

Hakikat Bidah

Bidah secara umum terbagi atas bidah hasanah (bidah baik) dan bidah sayiah (bidah buruk). Hadis yang digunakan untuk menyalahkan para pelaku bidah juga hanya satu, yaitu “kullu bid’atin zolalah, wakullu zolalatin finnar” (setiap bidah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka).

Secara kaidah Bahasa Arab, bidah bukan fi’il (kata kerja) melainkan isim (kata benda). Dalam ilmu Nahwu, isim terbagi dua, yaitu marifat (tertentu/khusus) dan nakirah (umum). Posisi bidah dalam hadis itu adalah “nakirah”, sehingga zolalah bermakna umum. Di sini, bidah hanya berlaku pada ibadah mahzah dan tak bisa di-gebyah-uyah di wilayah ibadah muamalah.

Imam Nawawi dalam Sahih Muslim Juz 6 juga menjelaskan, bahwa kullu bid’atin zolalah, merupakan kalimat umum yang dibatasi wilayahnya. Artinya, semua bidah adalah sesat, adalah sebagian besar bidah itu sesat, tidak seluruhnya. Jika tak bisa memetakan wilayah bidah, kita akan dihadapkan contoh-contoh konyol seperti di atas.

Ada dua pelurusan cara berpikir dan berfikih dalam konteks bidah. Meski bidah diartikan sebagai inovasi, kreativitas, dan juga penambahan, kita harus memahami bidah berlaku hanya di wilayah ibadah mahzah saja. Ibadah mahzah hanya ada lima dalam Islam, yaitu Rukun Islam (syahadat, salat, zakat, puasa dan haji).

Harap diingat dan silakan diteliti, Alquran sebanyak 30 juz itu, perintah melakukan ibadah mahzah hanya 3,5 persen saja. Contohnya, sehari semalam ada 24 jam, namun perintah salat hanya lima waktu. Jika satu waktu salat memakan lima menit, maka lima waktu berarti sekitar 25 menit. Dalam setahun ada 12 bulan dan kewajiban puasa hanya sebulan.

Sama seperti haji yang diwajibkan sekali seumur hidup, itu pun bagi yang mampu. Rumus ibadah mahzah yaitu “jangan lakukan apa saja kecuali yang diperintahkan”.

Kedua, bidah tak berlaku di wilayah ibadah muamalah dan perintah melakukan ibadah muamalah di Alquran sekitar 96,5 persen. Ibadah muamalah bisa berupa apa saja kecuali Rukun Islam tadi. Mulai dari jual beli, nikah, halal bihalal dan lainnya yang lebih berhubungan dengan manusia. Rumusnya, “apa saja boleh, kecuali yang dilarang”.

Halal bihalal jelas tak ada perintah, namun tak ada satu pun ayat Alquran dan hadis melarangnya. Jadi, silakan lakukan hahal bihalal dengan konsep open house, temu kangen, reuni maupun pengajian.

Mendamaikan

Halal bihalal yang dibidahkan teman saya di atas menjadi perhatian khusus. Saya yakin, banyak muslim di luar sana yang membidahkan halal bihalal. Silakan saja, itu hak! Halal bihalal hanya ada di Indonesia dan tak ada dalam literatur Bahasa Arab.

Halal bihalal merupakan budaya Islam di Indonesia yang menggabungkan Bahasa Arab, halal dan halal. Simpelnya, hahal dan halalridha dan ridha, boleh dan boleh, maaf dan memaafkan. Itu hakikatnya.

Secara historis, kurun 1946-1948, Indonesia digegerkan berbagai konflik politik dan juga keberagaman ideologi bangsa. Kala itu, Presiden Sukarno ingin menyatukan, mendamaikan keberagaman itu. Namun, Sukarno ingin istilah beda selain silaturahmi, karena sudah biasa. Kemudian, atas usul KH Wahab Chasbullah tokoh NU, silaturahmi itu menjadi “hahal bihalal”. Apakah itu bidah? Wong ini urusannya ibadah muamalah, persaudaraan, bukan ibadah mahzah.

Gus Dur pada tahun 2000 juga menggelar halal bihalal dengan konsep “Lebaran Rakyat”. Saat itu, rakyat boleh masuk istana, bahkan di ruang utama yang biasanya hanya tamu negara yang boleh masuk. Namun, berkat halal bihalal yang digelar Gus Dur, tukang sol sepatu, tunanetra, orang kampung, semua bisa menikmati “istana rakyat” yang sebenarnya. Apakah ini bidah?

Lebaran 2017 pada Minggu (25/6) lalu, Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla juga menggelar halal bihalal dengan konsep open house yang dihadiri berbagai tokoh politik. Halal bihalal itu menjadikan nuansa adem dan mendamaikan. Sebab, dihadiri Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono dan Baskoro (Ibas) Yudhoyono, dan tokoh lain yang menjadi “dalang” perang politik pada Pilkada DKI Jakarta kemarin.

Uniknya, Bachtiar Nasir dan Tim Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang belakangan disinyalir berseberangan dengan pemerintah juga hadir. Jika dedengkot pihak kontra pemerintah saja ikut halal bihalal, apakah pantas anak buahnya menyebut bidah?

Berbagai media massa juga mengesampingkan isu kepentingan dan agenda politik menjelang Pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019. Jadi, halal bihalal di istana yang digelar Jokowi-JK memang beda dan harus menjadi awal perdamaian bangsa.

Kita patut bersyukur, karena banyak media yang mendukung agenda Jokowi-JK itu dengan framing pemberitaan positif. Sudah seharusnya bangsa ini “move on” dari pertikaian, patah hati dan bangkit dari intrik politik berkepanjangan. Lewat halal bihalal, semoga bisa menjadi awal untuk merajut kembali persatuan dan perdamaian. Jadi, apakah halal bihalal masih bidah?

Hamidulloh Ibda Pengajar pada Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *