Generasi Milenial dan Tantangan Kebhinekaan

Kabar penuh guncangan hadir dari riset Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dirilis pertengahan Januari 2018, hasil riset itu mengabarkan bahwa generasi milenial banyak yang tertarik literatur keislaman yang bercorak radikal.

Ada lima corak literatur keislaman yang umumnya diakses generasi milenial, yaitu literatur bercorak jihadi, tahriri, salafi, tarbawi, dan islamisme popular. Kelima corak tersebut berpola piramida terbalik. Artinya, dari atas (puncak) ke bawah semakin banyak peminatnya. Dalam hal ini, literatur jihadi paling sedikit peminatnya, sedangkan islamisme popular paling banyak diminati.

Literatur jihadi menggambarkan dunia saat ini berada dalam situasi perang sehingga menekankan keharusan umat Islam mengobarkan jihad. Literatur tahriri menekankan gagasan revitalisasi khilafah sebagai jalan mengembalikan kejayaan Islam. Literatur salafi menawarkan landasan klaim identitas dan otentisitas yang merujuk langsung terhadap sumber-sumber utama Islam.

Sedangkan, literatur tarbawi menyebarkan misi ideologi Ikhwanul Muslimin yang berhasrat mengubah tatanan politik saat ini. Terakhir, literatur islamisme popular mengusung tema-tema keseharian dan menawarkan berbagai tuntunan praktis dalam kehidupan yang dikemas dengan renyah, trendy, dengan corak fiksi, popular, dan komik.

Penelitian yang dilakukan di 16 kota di Indonesia itu harus menjadi perhatian serius bagi bangsa Indonesia. Ini sangat membahayakan, karena ketertarikan generasi milenal terhadap literatur keislaman tidak dibarengi proses belajar yang mendalam. Generasi milenial lebih cenderung membaca pada literatur yang instan, mudah, dan cepat. Padahal, pembacaan atas literatur keagamaan yang instan bisa melahirkan salah paham, bahkan gagal paham, terhadap makna ajaran agama itu sendiri.

Dalam konteks kebhinekaan, jebakan literatur jihadi sangat membahayakan, karena bisa memunculkan berbagai tragedi kekerasan, bahkan aksi teror antarsesama anak bangsa.

Tantangan Pendidikan

Hasil riset tersebut menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Generasi milenial adalah generasi yang merasakan nikmatnya teknologi. Apa saja kebutuhannya bisa dipenuhi dengan smartphone yang ada dalam genggamannya. Kalau salah menggunakannya, maka bisa menyebak anak-anak dalam sisi negatif.

Hasil suvei dari The Asian Parent Insight pada awal 2014 menegaskan bahwa 98 persen anak sudah menggunakan smartphone yang dimiliki orangtuanya. Survei ini melibatkan 2.500 orangtua di Singapura, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Kebanyakan orangtua dalam survei tersebut berpendapat bahwa smartphone mempunyai makna positif bagi orang dewasa, karena membantu dalam komunikasi, kerja, dan lainnya. Tapi, kebanyakan orangtua juga berpendapat bahwa smartphone berdampak negatif bagi anak-anak. Kebanyakan anak yang menggunakan smartphone lebih asyik bermain game daripada belajar dan bersosialisasi dengan temannya.

Fakta tersebut menambah tantangan serius bagi lembaga pendidikan. Anak-anak yang sibuk dengan smartphone ini selain terancam dalam proses pembelajaran, juga sangat berbahaya ketika menerima keanekaragaman di sekelilingnya. Kebinekaan yang sudah melekat dalam kehidupan bisa sulit diterima, karena smartphone membuat anak kurang pergaulan dan gagap melihat kondisi sekitar.

Padahal, pendidikan kebinekaan harus dipraktikkan dalam keseharian. Kalau anak gagap melihat kebinekaan, maka sangat berbahaya melihat kondisi sebagian masyarakat yang mulai tidak ramah dengan keanekaragaman suku, budaya, ras, bahasa, dan agama yang melekat di Indonesia.

Arah Pendidikan Kita

Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cetek, bangsa yang tidak mempunyai levensdiepte sama sekali.”

Pernyataan Bung Karno itu sangat tepat untuk menjadi refleksi lembaga pendidikan dalam menjawab kegelisahan (terhadap) generasi milenial. Bung Karno mewanti-wanti agar semua elemen bangsa serius dalam membangun “isi-hidup” dan “arah-hidup” bagi anak bangsa. Lembaga pendidikan mempunyai tugas paling depan untuk membangun “isi-hidup” dan “arah-hidup” tersebut. Dari rahim lembaga pendidikan, bangsa ini bisa keluar dari jebakan kedangkalan.

Zaman Bung Karno dan zaman sekarang tentu saja berbeda. Tapi, spirit dalam membangun “isi-hidup” dan “arah-hidup” tetaplah sama. Untuk itu, laju perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk menguatkan “isi-hidup” dan “arah-hidup” setiap anak bangsa. Harus ada kerja keras dan kerja cerdas, karena tidak bisa hanya dilalui dengan tumpukan administrasi saja. Taruhannya sangat besar: masa depan peradaban bangsa.

Dalam konteks kebinekaan, guru menjadi salah satu yang terdepan dalam kesuksesan pendidikan karakter anak dalam memahami dan mempraktikkan kebinekaan. Guru dituntut mampu mengolah situasi agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan analitis (critical thinking), kreatif dan inovatif (creativity), kolaboratif (collaboration), serta komunikatif (communication). Untuk itu pembelajaran tidak hanya mengandalkan kelas.

Dalam problem kebinekaan, guru harus bisa mengajak siswa lebih aktif, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, saling menghormati dan menghargai, dan tentu konten utamanya adalah nilai-nilai Pancasila. Di sini, seorang guru harus melekat dengan anak didiknya.

Dengan pemahaman demikian, guru dan orangtua juga akan berperan besar dalam mengajarkan anak ihwal kebinekaan. Perangkat teknologi harus diarahkan untuk menguatkan karakter anak dalam mempraktikkan kehidupan sehari-hari di tengah kebinekaan Indonesia. Asupan ilmu dan kasih sayang dari orangtua dan guru sangat bermanfaat bagi masa depan anak, daripada memberikan anak dengan aneka fasilitas dan harta.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *