Gelar Ritual Minta Hujan, Warga Blitar Saling Sabetkan Cemeti

Blitar Dua lelaki masingmasing memegang cemeti dari dahan aren. Diiiringi gamelan tradisional, mereka berdiri di atas panggung bambu setinggi 3 meter dengan luas 12 meter persegi.

Dengan dada terbuka mereka bergantian menyabetkan cemetinya ke arah lawan. Lukapun menganga di punggung dan tangan mereka. Darah segar menetes di antara keringat yang membasahi tubuh mereka.

Namun tak ada dendam atau marah diantara keduanya. Jika masingmasing pemain telah menyabetkan cemeti sebanyak tiga kali, maka permainan usai. Kedua pemain lalu bersalaman sambil saling memeluk hangat. Berganti dengan pemain lain yang telah menunggu gilirannya.

Tampak ceceran darah di atas papan kayu sebagai alas panggung. Semakin banyak darah yang keluar dari pemain, diyakini hujan akan segera datang.

Foto: Erliana RiadyItulah gambaran ritual meminta hujan yang digelar warga Blitar, Senin (4/9/2017) siang. Mereka menamakan dengan Tiban. Ritual yang masih dilaksanakan sampai saat ini, diyakini warga akan mendatangkan berkah bagi warga masyarakat yang telah lama menantikan datangnya curah hujan.

“Dengan darah yang keluar dari kulit pemain, diyakini akan membuka sumber air yang mendatangkan hujan bagi bumi,” jelas Ketua Panitia Paguyuban Pelestari Seni Tiban Dusun Centong, Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, Faturachman (42) ditemui disela acara.

Acara ini rutin digelar setiap musim kemarau panjang. Menurut beberapa sesepuh desa itu, ritual ini peninggalan nenek moyang yang telah diajarkan sejak jaman Wali Songo untuk mempererat tali silaturahmi.

“Motivasi menggelar Seni Tiban yang pertama nguringuri (melestarikan) kebudayaan. Kedua untuk mempererat tali silaturahmi dengan daerah lain yang juga mengalami kemarau panjang. Dengan menggelar ritual ini bersama dengan warga desa lainnya, kami berharap Tuhan segera menurunkan berkah berupa air hujan hingga tidak terjadi lagi kekeringan,” jelas perwakilan Kepala Dusun Centong, Budiono (54).

Foto: Erliana RiadyPermainan Tiban di Dusun Centong ini digelar mulai tanggal 2 hingga 23 September 2017. Selain diikuti pendekar Tiban dari Desa Sawentar, kegiatan ini juga diikuti oleh pendekar lain dari berbagai wilayah Blitar diantaranya Maliran, Srengat, Gambar, Binangun dan Lodoyo.

Rupanya, seni Tiban ini tak hanya diminati kaum tua saja. Banyak diantara pemain yang berusia muda. Seperti Duta (21) warga Kecamatan Garum. Duta mengaku baru pertama kali mengikuti Seni Tiban.

“Tertantang nyoba mbak, soalnya lihat orang tuatua punggungnya berdarah gitu kok asyik saja. Seperti gak kesakitan sama sekali,” katanya.

Setelah usai bermain Tiban, bagaimana kesan Duta? “Gemetar sih pas pegang cemeti, tapi seperti ada keberanian untuk mencambuk lawan main. Amazing permainannya, tapi punggung saya terasa perih juga,” katanya sambil menunjukkan punggung dan tangganya yang terluka.

Foto: Erliana RiadyBerbeda dengan pengakuan Jianto (65) warga Desa Kedawung, Kanigoro. Dia sudah mempersiapkan fisik sejak awal. Katanya, selain mental perlu ditambah jamu untuk memperkuat stamina.

“Saya biasa nelan kuning telor sebelum tanding. Nanti lukaluka itu bisa sembuh sendiri tanpa diobati. Paling nanti malam sudah kering sembuh sendiri,” katanya.

Berbeda dengan ritual minta hujan di daerah lain. Seni Tiban ini murni permainan, bukan lomba ketangkasan dan tak ada pemenang dalam permainan ini. Aturannyapun juga berbeda. Tiban di Blitar hanya memperbolehkan tiap pemain menyabet cemeti ke lawan sebanyak tiga kali. Pemain yang mendapat giliran menyabet cemeti, biasanya akan dipasang sabuk kain merah di celananya.

Walaupun permainan Tiban dijadwalkan akan berlangsung selama hampir tiga pekan, namun akan langsung dihentikan ketika hujan tibatiba turun. Masyarakat akan menggelar selamatan di sawah dan ladang perkebunan mereka, sebagai simbol syukur akan anugerah Sang Pencipta.