Gang Keramat Tanpa Nama di Cirebon Ini Diyakini Bikin Apes

Gang tanpa nama di Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat disebut keramat. Banyak larangan dan mitos terkait jalan tersebut. Penasaran? Yuk telusuri kisahnya.

Jalan sempit itu lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Balai Desa Lurah. Ada dua makam keramat di jalan tersebut. Masyarakat sekitar meyakini bagi orang yang memiliki hajat, baik itu menikah, ibadah haji, maupun mencalonkan diri jadi kepala desa dilarang melewati gang tersebut.

Dua makam di jalan sempit tersebut merupakan makam Ki Telar Basah dan makam benda pusaka milik Syekh Maghribi. Jalan tersebut dikenal sebagai Jalan Ki Telar Basah, karena lokasinya berada di dekat makam Ki Telar Basah. Suasana jalan memang terlihat sepi, karena bukan merupakan jalur utama desa. Gang tersebut penghubung antar dusun, persis di sebelah masjid utama Desa Lurah.

Salah seorang warga yang dipercaya sebagai tokoh masyarakat yang merawat makam Ki Telar Basah, Muslim (54) mengatakan hingga saat ini masyarakat Desa Lurah masih meyakini tentang mitos wilayah Telar Basah. Menurutnya, masyarakat yang memiliki hajat, seperti hendak menikah, ibadah haji, dan mencalonkan sebagai kepala desa tak berani melewati jalan tersebut.

Pasalnya, sambung Muslim, masyarakat meyakini akan datang musibah ketika melewati jalan tersebut. “Ya dulu diyakini bikin apes, kalau maksa lewat situ bagi yang punya hajat. Dan, sampai sekarang juga meyakini itu,” kata Muslim saat ditemui detikcom di kediamannya, Jumat (16/3/2018).

Kediaman milik Muslim berada di jalan Ki Telar Basah, sekitar 10 meter dari makam Ki Telar Basah. Muslim menceritakan banyak masyarakat yang memiliki hajat, yang berada di dusunnya memilih jalan memutar alias menghindari jalan Ki Telar Basah. Saat pencalonan kepala desa, lanjut Muslim, tak ada calon yang berani melewati jalan tersebut.

“Kalau pengantennya dilarang lewat, begitu juga calon kepala desa. Tapi yang tamu undangan hajatan sih boleh. Ya itu sih tergantung keyakinan kitanya saja. Semua kembali ke diri masing-masing,” ucap Muslim.

Larangan untuk melawati jalan Ki Telar Basah itu berawal dari kisah rombongan masyarakat Desa Lurah pada zaman dulu yang hendak bertamu ke kekeratonan Cirebon. Muslim tak menyebutkan secara spesifik keraton yang dituju oleh rombongan itu. Kisah tersebut, lanjut dia, merupakan cerita masyarakat yang hingga kini masih diyakini.

Lebih lanjut, Muslim mengatakan rombongan masyarakat tersebut membawa sebuah nangka untuk disantap saat sampai di keraton. Namun, ketika baru sampai di wilayah Ki Telar Basah, nangka yang dibawa itu jatuh ke balong yang ada di wilayah Ki Telar Basah.

“Nangka jatuh ke air, zaman dulu katanya di situ ada balong (kolam). Terus diambil lah sama rombongan itu, pas sampai di keraton nangka itu tak bisa di makan. Tak bisa dikupas karena kebal, berkali-kali dibacok pakai pedang tetap tak mempan. Katanya karena jatuh ke balong (kolam) itu. Cerita masyarakat mah begitu,” beber Muslim.

Muslim mengatakan Ki Telar Basah diyakini sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah Desa Lurah pada zaman dulu. Sedangkan, makam benda pusaka milik Syekh Maghribi yang lokasinya berdampingan dengan Ki Telar Basah itu, sambung Muslim, sebagai bukti jika Syekh Maghribi sempat menyiarkan Islam di Desa Lurah.

“Kaitannya antara benda pusaka sama Ki Telar Basah kurang begitu paham. Tapi, sama-sama menyebarkan Islam. Setiap malam Jumat juga ada yang ziarah ke sini,” ucapnya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *