Film Festival asal Indonesia Cari Ruang di Negeri Sendiri

Tantri dan Tantra adalah anak kembar buncing dari Bali. Tantri, anak perempuan usia 10 tahun itu sadar, dia tak punya banyak waktu lagi dengan saudara kembarnya, Tantra. Terbaring lemah di rumah sakit, kondisi Tantra makin tak berdaya, bahkan mulai kehilangan kemampuan inderanya satu per satu.

Suatu malam, Tantri terbangun dari mimpi dan menemui Tantra. Lewat ekspresi tubuh, Tantri mengalami perjalanan magis dan relasi emosional. Sepotong kisah Tantri dan Tantra itu adalah penggalan dari film Sekala Niskala, yang belum lama ini diputar di Plaza Indonesia Film Festival.

Gaungnya memang tak terdengar nyaring di Indonesia, namun film ini menjadi diva di mancanegara. Sederet prestasi membanggakan ditorehnya. Sebut saja Tokyo Filmex 2017, Best Youth Film di ajang Asia Pasific Screen Award, dan yang terbaru The Grand Prix pada kategori Generation Kplus International Jury di ajang Festival Film Berlinale, Berlin, Jerman.

Film yang punya judul lain The Seen and Unseen ini juga jadi favorit CEO Toronto International Film Festival (TIFF), Piers Handling. Dia menyebut, Sekala Niskala adalah film terpanas yang membuatnya memahami lebih dalam dunia anak-anak.

“Pertama kali saya menonton film ini, saya sangat terkesima dengan sensitivasnya dalam memahami dunia anak-anak. Film ini menuturkan imajinasi, kreativitas sinema, kesederhanaan, sekaligus hal-hal magis di dalamnya,” kata Piers dalam siaran pers.

Film Sekala Niskala menang di Festival Film Berlinale

Bukan pertama kalinya film Indonesia dipuji di luar negeri. Sudah banyak jika mengurutkan daftarnya. Tapi yang masih hangat terdengar ada Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang memboyong penghargaan di berbagai negara. Beberapa misalnya, Five Flavours Asian Film Festival, Tokyo Filmex International Film Festival, dan lainnya.

Dianugerahi beragam penghargaan membanggakan, film-film tersebut sayangnya masih sepi penonton di negeri sendiri. Kamila Andini, sebagai sutradara film Sekala Niskala, juga mengakuinya. Dia sendiri tak yakin, Indonesia punya ruang apresiasi yang sepadan untuk film semacam ini.

“Apabila melalui penghargaan ini saya bisa berkontribusi untuk Indonesia dan industri filmnya, ini tentu sesuatu yang membahagiakan, karena sejak awal, saya membuat film ini sebagai persembahan untuk budaya Indonesia, walaupun saya tidak tahu apakah Indonesia dan masyarakatnya punya ruang untuk film-film seperti ini,” katanya usai pemutaran film tersebut di XXI Plaza Indonesia, 26 Februari 2018.

Mengapa Kurang Diminati?

Pada dasarnya, film-film festival memang berbeda dengan film komersil. Pengamat film dan penulis, Noorca Massardi, menjelaskan, film-film yang disebut juga sebagai film arthouse memang dibuat untuk kepentingan festival yang lebih mementingkan estetika dan ide-ide yang unik.

Festival-festival di luar negeri, selain Cannes, memang menomorduakan aspek komersil pada penilaiannya. Cannes Film Festival, menurutnya, adalah satu-satunya festival film besar dunia yang mengedepankan nilai komersil, juga estetika, di dalamnya. Karena itulah, film yang menang di Cannes, biasanya juga laris secara komersial.

“Film-film festival punya nilai estetika, seni yang tinggi. Di luar negeri, populasi penikmat film-film ini sudah banyak, berbeda dengan negara berkembang, termasuk di Indonesia. Latar belakang pendidikan juga memengaruhi, jadi susah mencernanya. Wajar kalau masih belum diterima masyarakat Indonesia,” kata Noorca melalui sambungan suara, Rabu, 28 Februari 2018.

Film-film festival memang punya penonton yang terbatas, namun bukan berarti tak punya tempat di bioskop Indonesia. Masih menurut Noorca, bioskop tak pernah punya hak untuk menolak film apa pun, namun selalu ada komprominya.

“Film apa pun selalu diberi kesempatan, tayang di beberapa layar, lalu nanti dilihat. Apakah ada penontonnya atau tidak, kalau ada ya terus ditayangkan, kalau tidak, ya harus turun,” ujarnya menambahkan.

Senada dengan Noorca, Corporate Secretary Cinema 21, Catherine Keng, mengatakan, selama penontonnya masih banyak, film festival pasti akan tetap ada di layar bioskop. Namun ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan.

“Soal kasih berapa layar tergantung dengan banyak aspek dari sebuah film. Apakah film termasuk komersial atau arthouse atau festival, lalu apakah film tersebut menggunakan bahasa daerah? Karena faktor-faktor di atas akan membuat penonton lebih mengerucut,” katanya menerangkan, via aplikasi obrolan instan WhatsApp.

Di Indonesia, menurut Catherine, film-film festival masih lebih banyak terpusat di Jakarta. Terkait faktor-faktor di atas, biasanya, film festival punya penonton langganan di beberapa titik bioskop, yakni Taman Ismail Marzuki dan Plaza Senayan. Kedua tempat ini, juga menurut Noorca, dinilai punya basis penonton film elit, seni, yang cukup kuat.

Dengan kualitas sinema yang baik seperti film-film yang sudah ada, butuh kerja sama banyak pihak agar bisa merangkul lebih banyak penonton dari negeri sendiri. Pemerintah hingga para sineas sendiri harus bersinergi agar penonton Indonesia bisa menikmati film-film seni tersebut.

Mempopulerkan Film Festival

Film-film festival memang hanya dinikmati di segmen penonton terbatas. Di sinilah dibutuhkan peran pemerintah untuk mengedukasi dan menyebarluaskan film-film seni semacam ini. Noorca berpendapat, pemerintah punya kapasitas untuk membuat film-film ini bisa dinikmati hingga pelosok-pelosok Indonesia.

“Sineas kita sudah banyak jaringan internasionalnya. Mereka buat sinema sendiri, ke luar negeri juga sendiri. Daripada pemerintah ikut mempromosikan film ke sana, lebih baik dananya untuk mempromosikan di dalam negeri,” katanya.

Dengan memfasilitasi penonton menikmati film-film festival, diharapkan, masyarakat Indonesia punya banyak referensi film yang nantinya bisa mendorong mereka menjadi calon penonton atau bahkan calon sineas itu sendiri.

Tak hanya itu, televisi juga bisa mendongkrak minat menonton film-film festival. Salah satu kontribusinya adalah dengan ikut menyediakan slot untuk film-film tersebut.

“Caranya bisa dengan membeli atau membayar, ikut mempopulerkan film-film seperti ini. Subsidinya berupa penayangan dengan atay tanpa iklan. Kalau di bioskop kan waktunya terbatas, kalau bisa dinikmati di televisi, jangkauan penonton lebih luas lagi,” kata Noorca menambahkan.

Dari segi produksi, dia mengatakan, alangkah baiknya jika sineas ikut mempertimbangkan aspek penonton. Selama ini, para sineas yang menggarap film-film festival banyak yang tak mempedulikan masalah ada atau tidaknya penonton film mereka, karena yang terpenting adalah estetika yang ingin ditampilkan.

Meski masih harus berjuang keras, sutradara Sekala Niskala, Kamila Andini tak menyerah. Baginya, budaya yang dimiliki Indonesia punya pesona tersendiri untuk dapat apresiasi. Catherine Keng pun optimis, karena sebenarnya sudah makin banyak penonton yang menghargai film-film festival.

“Penonton sudah mulai bisa menghargai film festival. Dulu penontonya sangat sangat terbatas atau niche. Sekarang sudah mulai lebih banyak penonton yang ke bioskop untuk mencari film-film yang mendapatkan penghargaan luar negeri,” ujarnya menutup wawancara.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *