Donald Trump dan Presiden Putin Bakal Bertemu Minggu Depan

Presiden Donald Trump akan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin pada pekan mendatang. Informasi ini diungkapkan oleh penasihat keamanan nasional Gedung Putih pada Kamis 29 Juni 2017.

Pertemuan ini digelar di tengah-tengah tensi yang meningkat terkait isu intervensi Rusia terhadap pemilihan presiden AS 2016 lalu. Juga, di saat investigasi hubungan Trump dengan Moskow.

Dikutip dari NYTimes, pada Jumat (30/6/2017), Gedung Putih tidak mengatakan apakah Trump berencana menekan Putin atas isu intervensi Kremlin dalam Pilpres AS tahun lalu. Topik ini sangat dihindarkan oleh Trump meskipun ada banyak keprihatinan di kalangan pejabat AS serta Capitol Hill (Senat).

Adapun rencana pertemuan ini digelar di tengah-tengah Konferensi Group of 20 (G20) di Hamburg, Jerman.

“Tak ada agenda spesifik. Pembicaraan akan mengalir begitu saja, terserah presiden mau berbicara apa,” kata Let. Jen H.R McMaster, penasihat keamanan nasional Trump.

Pertemuan ini adalah pertama kalinya kedua pemimpin bertatap muka semenjak Trump dilantik. Sebelumnya, mereka hanya berhubungan lewat telepon.

Tak hanya itu, pertemuan ini di tengah panitia kongres dan penasihat khusus tengah menginvestigasi hubungan miliarder nyentrik itu dengan Moskow.

Di lain sisi, pemerintahan Trump kini jauh lebih ramah dengan Moskow jika dibandingkan dengan sebelumnya. Apalagi saat Rusia mencaplok Crimea dan intervensi Ukraina, di mana kala itu AS menjatuhkan sanksi terhadap Negara Beruang Merah.

Meski demikian, kedua negara sempat bersitegang pada April lalu yang disebabkan oleh serangan senjata kimia di Idlib, Suriah.

Washington menuding Suriah–dan Rusia dalam sejumlah kapasitas–sebagai dalang serangan yang menewaskan sekitar 100 orang itu.

Sementara itu, Kremlin menuduh AS melakukan fabrikasi serangan di Idlib –dengan mengambinghitamkan Presiden Bashir al-Assad– agar mempunyai alasan untuk melakukan serangan ke Suriah.

Jenderal McMaster mengatakan, tujuan Trump bertemu Putin adalah untuk ‘meredam kelakuan Rusia’ yang diduga terlibat ancaman siber atau subversi politik.

“Tak ada yang menginginkan perang dalam kekuatan besar,” kata McMaster.

Tak cuma meredam gejolak politik, menurut McMaster, Trump juga mencari potensi kerja sama antara AS dan Rusia.

Rusia dan AS juga sempat berada di ambang konflik terbuka ketika Presiden Trump memerintahkan lusinan misil Tomahawk ditargetkan ke sebuah pangkalan udara Suriah. Kremlin mengutuk serangan tersebut dan menyebut tindakan Presiden Trump merupakan agresi terhadap sebuah negara berdaulat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *