Di Tengah Ketegangan, Korut Tak Ingin Bahas Pembebasan Tahanan AS

Pyongyang Korea Utara (Korut) tampaknya mengaitkan nasib warga Amerika Serikat (AS) yang ditahannya dengan ketegangan yang meningkat. Korut menyatakan, sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas pembebasan para tahanan AS itu.

Hingga kini, tiga warga AS masih ditahan rezim Korut atas berbagai tudingan pelanggaran hukum. Nasib ketiganya dikhawatirkan setelah ketegangan kedua negara meningkat, yang dipicu perang katakata antara Presiden AS Donald Trump dengan pemimpin Korut Kim JongUn.

“Isu soal warga Amerika yang ditahan, bukanlah subjek pembahasan, merujuk pada situasi terkini,” ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut, seperti dikutip kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA) dan dilansir AFP, Selasa (15/8/2017).
Otoritas Korut telah menangkap dan memenjarakan sejumlah warga AS dalam satu dekade terakhir. Beberapa di antaranya dibebaskan setelah dilakukan kunjungan pejabat tinggi AS atau mantan Presiden AS ke Pyongyang.

Pada Juni lalu, mahasiswa AS bernama Otto Warmbier yang divonis 15 tahun kerja paksa, diperbolehkan pulang ke AS atas alasan kemanusiaan. Warmbier diterbangkan ke Ohio, AS, dalam kondisi koma. Mahasiswa berusia 22 tahun ini akhirnya meninggal dunia seminggu usai dibebaskan Korut.

Warmbier diadili karena tudingan mencuri slogan propaganda di hotel tempatnya menginap selama berlibur di Korut. Pembebasannya terjadi melalui jalur perundingan dengan Korut, yang dipimpin utusan AS untuk Korut, Joseph Yun. Laporan berbagai media AS, perundingan serupa untuk tahanan AS lainnya, terus berlanjut beberapa pekan terakhir.
Ketegangan meningkat setelah Trump memperingatkan Korut akan menghadapi api dan kemarahan jika terus mengancam AS dengan uji coba rudalnya. Menanggapi hal itu, Korut mengancam akan menembakkan empat rudal balistik ke Guam, wilayah AS di Pasifik.

Tak terima dengan ancaman Korut yang terangterangan, Trump balik mengancam dengan menyatakan opsi militer AS untuk Korut telah terkunci dan siap jika rezim komunis itu bertindak tidak bijaksana. Kekhawatiran pecahnya perang antara ASKorut bermunculan. Namun pekan ini, Kim JongUn memutuskan menunda serangan rudal ke Guam, dengan alasan ingin mengawasi AS yang disebutnya akan melakukan tindakan bodoh.