Demo Anti-AS Warnai Pertemuan Trump di Filipina

Para pemimpin Asia hadir bersama Presiden AS Donald Trump pada jamuan makan malam mewah di Manila, Filipina, menunjukkan eratnya persaudaraan di wilayah yang tengah dilanda ketegangan yang telah membayangi kunjungan maratonnya di kawasan ini.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memastikan keramahan tersebut menjelang pertemuan puncak dua hari yang akan dimulai Senin (13/11/2017), seakan memastikan bahwa terlepas dari perbedaan sikap mereka atas isu Laut China Selatan, para pemimpin seharusnya tidak membahas masalah ini.

“Kita harus menjadi teman. Mereka yang keras kepala menghendaki kita melawan China dan seluruh dunia dalam banyak isu,” kata Duterte dalam pertemuan dengan kalangan bisnis, di saat para kepala kepala negara dan pemerintahan mendarat di Manila.

“Laut China Selatan lebih baik dibiarkan tak tersentuh. Tidak ada yang mampu melakukan perang. Tidak ada yang bisa melakukan konfrontasi dengan kekerasan,” katanya.

Trump tiba di Filipina sekitar pukul 5:00 sore (waktu setempat) pada hari Minggu untuk bertemu dengan para pemimpin ASEAN dan negaranegara Asia Timur lainnya, yang baru saja menyelesaikan KTT Asia Pasifik dan kunjungan bilateral di Vietnam.

Sebelumnya di Hanoi pada hari Minggu, Presiden Trump menyatakan siap menengahi para pihak bersengketa di Laut China Selatan, dimana empat negara ASEAN dan Taiwan mempersoalkan klaim China atas jalur perairan sibuk tersebut.

Dituduh CEO imperialis AS
Pemrotes membakar bendera AS menentang kedatangan Presiden Trump di Filipina.

Namun tidak semua hal berlangsung aman dan damai di Manila menjelang kedatangan Trump.

Pada hari Minggu, petugas kepolisian Filipina menggunakan semprotan air dan pentungan untuk mencegah ratusan pemrotes mendekati Kedutaan Besar AS di Manila beberapa jam sebelum kedatangan Trump.

Dengan membawa poster bertuliskan “Dump Trump” dan “Turunkan Imperialisme AS”, para pemrotes dari kelompok kiri tersebut diblokir polisi anti huruhara dengan menggunakan perisai dan pentungan, kemudian disemprot air dari pemadam kebakaran.

“Trump adalah CEO Pemerintah imperialis AS,” kata seorang mahasiswa Alexis Danday (18).

“Kami tahu dia datang ke sini untuk memaksakan perjanjian tidak adil antara Filipina dan AS,” katanya.

Pada bulan Agustus, para Menlu ASEAN dan China mengadopsi kerangka perundingan untuk kode etik di Laut China Selatan, sebuah langkah yang mereka sebut sebagai kemajuan namun para pengkritik menyebutnya sebagai upaya China menunda waktu untuk mengkonsolidasikan kekuatannya.

Kerangka kerja ASEANChina tersebut berupaya melanjutkan Declaration of Conduct (DOC) of Parties in the South China Sea tahun 2002, yang sebagian besar diabaikan para pihak yang mengajukan klaim, khususnya China, dengan membangun tujuh pulau buatan di wilayah yang dipersengketakan. Tiga di antara pulau buatan itu dilengkapi dengan landasan pacu, rudal daratkeudara serta radar.

Pemrotes menendang barikade yang dipasang polisi anti huruhara.

Pada bulan Agustus Menlu Australia Julie Bishop bersama Menlu AS Rex Tillerson dan Menlu Jepang Taro Kono mendesak negaranegara tersebut untuk memastikan kode etik itu mengikat secara hukum.

Menurut sumber, kerangka kerja tersebut akan disahkan oleh China dan 10 negara ASEAN di Manila pada hari Senin ini.

Perhentian terakhirTrump

Filipina menjadi tujuan terakhir kunjungan Presiden Trump setelah sebelumnya mengunjungi Jepang, Korea Selatan, China dan Vietnam.

Terlepas dari kebijakan Trump mengenai “America First”, kunjungan ini harus memastikan bahwa Washington tetap berkomitmen pada wilayah yang dipandang Beijing sebagai wilayah strategisnya.

Meningkatnya penggunaan istilah “IndoPasifik” oleh Trump dan timnya selama tur Asia pekan ini, dan bukan istilah “Asia Pasifik” yang lebih umum, menurut para analis merupakan upaya untuk menggambarkan kawasan ini lebih daripada sebagai kawasan yang didominasi China.

Para pemimpin Pacific Rim di Vietnam pada hari Sabtu sepakat membahas “praktik perdagangan yang tidak adil” dan “subsidi yang mendistorsi pasar”, istilah yang menunjukkan upaya Trump membentuk kembali lanskap perdagangan global.

Presiden Trump saat meninggalkan Vietnam menuju Filipina.

KTT negaranegara AsiaPasifik Economic Cooperation (APEC) di Vietnam menunjukkan visi kontras dari kebijakan America First yaitu konsensus tradisional yang mendukung kesepakatan multinasional yang sekarang ingin dimenangkan China.

Trump akan mengadakan pembicaraan dengan Duterte di Manila, dan dia akan berusaha memperkuat hubungan yang tegang oleh sentimen antiAS dari Duterte dan antusiasmenya bagi hubungan yang lebih baik dengan Rusia dan China.

Pemimpinan lainnya yang akan hadir dalam pertemuan puncak termasuk PM China Li Keqiang, PM Rusia Dmitry Medvedev dan pemimpin dari Jepang, Kanada, Korea Selatan, India, Australia, Selandia Baru serta negaranegara anggota ASEAN.