Cinta Mati Dokter Soetomo Kepada Suster Belanda

Cinta beda agama dilakoni sejumlah tokoh pergerakan Indonesia. Pendiri Boedi Oetomo, dokter Soetomo menjalani pernikahan dengan Everdina Broering hingga maut memisahkan. Sedangkan pernikahan Sutan Syahrir dengan Maria Johanna Duchateau harus pupus karena tekanan politik.

Wabah pes yang melanda beberapa tempat di Hindia Belanda pada 1917 membuat dr Soetomo harus pontang-panting. Ia datang ke berbagai lokasi untuk melayani penderita pes. Di tengah penanganan wabah itu, Blora menjadi kota paling berkesan bagi Soetomo.

Ia bertemu dengan perawat de Graff, tenaga medis yang didatangkan pemerintah Hindia Belanda membantu para dokter menangani wabah ini. Soetomo menjemput perawat itu di stasiun. Perempuan yang memiliki nama kecil Everdina Broering itu langsung membuatnya jatuh cinta.

“Untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan perawat itu ketika ditugaskan untuk menjemputnya di stasiun kereta api. Berkat ketekunan dan kerajinan Zuster de Graff, Dr. Soetomo akhirnya berniat untuk mempersuntingnya,” tulis Peter Kasenda dalam buku Dokter Soetomo yang diterbitkan oleh Museum Kebangkitan Nasional.

Awalnya hubungan Soetomo-Everdina ditentang oleh kerabat mereka. Namun cinta yang terjalin sudah terlanjur erat. Keduanya menikah di Blora sebelum Soetomo ditugaskan ke Batujajar, Palembang.

Pada 1919, Soetomo berangkat ke Belanda bersama Everdina. Soetomo mendapat beasiswa memperdalam ilmu kedokteran di Universitas Amsterdam. Keberadaan Everdina tak menghalangi studi dan aktivitas Soetomo, bahkan rekan-rekannya sesame aktivis pergerakan sangat menanti masakan Everdina saat bertandang ke rumah mereka.

Pada 1923 keduanya pulang ke Surabaya. Soetomo mendapat tugas menjadi dokter di Rumah Sakit Simpang. Selain itu, pada 31 Juli 1923 ia mendapat tugas tambahan di sekolah kedokteran di Surabaya NIAS (Nederlandsche-Indische Artsen School). Sedangkan sore hari ia meluangkan waktu membuka praktek di rumahnya.

Namun udara Surabaya tak cocok untuk Everdina. Ia menderita penyakit asma akut. Rekan-rekan dokter Soetomo menyarankan agar Everdina tinggal di Malang agar menghirup udara segar kawasan pegunungan. Everdina-pun tinggal di Claket, Malang, tiap dua kali dalam sebulan Soetomo menjenguknya.

Pada 13 Februari 1934 pukul 09.10 pagi Everdina Soetomo menghembuskan nafas terakhir. Koran Algemeen Handlesbladmengumumkan pada 19 Februari 1934 Nyonya Soetomo meninggal dunia akibat penyakit pernafasan. Soetomo melanjutkan hidup tanpa menikah lagi walau tak dikarunia anak.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *