AS, China, dan Rusia Sama-sama Hindari Sanksi Militer untuk Korut

Tiga negara besar membahas sanksi terhadap Korea Utara di forum Dewan Keamanan (DK) PBB. Korea Utara jadi objek bahasan karena uji coba rudal antarbenua yang diluncurkan Kim Jong-Un sebagai hadiah untuk “Amerika brengsek”.

Dilansir AFP, Kamis (6/7/2017) Amerika Serikat mendesak DK PBB untuk memberi sanksi lebih keras ke Korea Utara. Bahasan ini menghangat usai AS dan Korea Selatan memaksakan penembakan rudal untuk simulasi serangan melawan Korea Utara pada Selasa (4/7).

Duta Besar AS Nikki Haley mengatakan Washington sedang mengerjakan draf resolusi berisi sanksi baru untuk rezim Kim, menyebut rudal antarbenua sebagai ‘eskalasi militer’ yang bisa membuat ‘dunia menjadi semakin berbahaya’.

“Dalam hari-hari mendatang, kami akan membawa sebuah resolusi ke DK PBB yang proporsional untuk eskalasi Korea utara,” kata dia.

AS menghindari konfrontasi militer dan fokus pada peningkatan sanksi. Mereka melihat China punya peran kunci dalam jalan ini, karena 90 persen perdagangan Korea Utara adalah dari China.

“Kami akan bekerjasama dengan China,” kata Haley.

China mengatakan kepada DK PBB, sanksi militer bukanlah sebuah pilihan untuk mengakhiri permasalahan soal Korea Utara. Duta Besar China, Liu Jieyi, mengatakan hal ini.

“China selalu tegas melawan kekacauan dan konflik di semenanjung Korea. Aksi militer pasti bukanlah opsi dalam hal ini,” kata Liu Jieyi.

Rusia menyatakan melawan sanksi terhadap Korea Utara. Sikap ini dinyatakan ke DK PBB. Menurutnya, opsi militer terhadap Korea Utara tidak dapat diterima.

“Semua harus paham bahwa sanksi tak akan mengurai masalah,” kata Wakil Deputi Duta Besar Rusia Vladimir Safronkov pada sesi dewan darurat. Dia menambahkan, “Kami dengan sederhana bergegas menuju jalan buntu.”

“Semua usaha untuk membenarkan solusi militer tidaklah dapat diterima,” kata Safronkov.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *