Cerita Siti Romlah 5 Tahun Tak Digaji dan Disiksa di Malaysia

Seorang TKW asal Dusun Jati Agung, Desa/Kecamatan Gumuk Mas, pulang dengan kondisi memprihatinkan. Tubuhnya terlihat sangat kurus dan terdapat sejumlah bekas luka. Selain itu, wanita ini juga mengalami guncangan jiwa. Kuat dugaan dia mengalami perlakuan kasar dari majikan.

TKW tersebut bernama Siti Romlah (35). Dia sebelumnya bekerja di Johor, Malaysia. Ibu satu anak itu bekerja di negeri jiran sejak tahun 2012. Tiga bulan setelah bekerja di sana, pihak keluarga kehilangan kontak. Upaya untuk mendapat informasi mengenai keberadaan Romlah juga tak membuahkan hasil.

Hingga pada Sabtu (4/11) malam, salah seorang perangkat Desa Gumuk Mas, Roni mendapat telepon dari sebuah agen travel di Surabaya. Pihak travel menyampaikan sedang mengantar Siti Romlah dan meminta Roni menjemput di jalan raya Desa Gumuk Mas.

“Saat ketemu saya, dia langsung menangis sambil terus berkata,Pak, saya Romlah. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus sekali. Terdapat bekas luka di dahi, tangan dan kaki,” kata Roni ditemui wartawan di rumah Siti Romlah, Senin (6/11/2017).

Sementara Siti Romlah susah diajak komunikasi. Wanita itu tampak masih trauma. “Sejak pulang kemarin lebih banyak diam di kamar,” kata suami Romlah, Nursalam.

Namun setelah dibujuk, Siti Romlah akhirnya mau sedikit bicara. Menurut wanita ini, selama 5 tahun bekerja di Malaysia, dia tidak pernah menerima gaji.

“Saya pulang dikasih uang Rp 3 juta. Saya tidak digaji selama 5 tahun,” katanya.

Dia juga menceritakan kondisi temantemannya yang mengalami nasib serupa. “Teman saya juga bernasib sama. Sampai sekarang masih bekerja di sana dan menerima perlakuan kasar majikan. Dan ada salah satu teman saya jari kakinya diamputasi karena sakit akibat perlakuan kasar majikan,” ucap Romlah sambil terisak.

Camat Gumuk Mas, Suparno yang juga menjenguk Romlah berjanji akan membantu pengobatan. Dia juga berharap apa yang dialami Romlah ditindaklanjuti oleh pihak berwajib. Tujuannya agar hal serupa tidak kembali terjadi.

“Kami sendiri selaku Muspika akan memberikan naungan untuk TKI di wilayah kecamatan Gumuk Mas, agar para calo atau lembaga penyalur tak resmi tidak bisa masuk,” kata Suparno.