Cerita Korban Pemerasan Gambar Seksual Lewat Internet

Mengapa ada orang yang mau mengirim foto mereka yang telanjang ke orang lain yang tidak dikenal lewat internet?

Dan setelah itu, malah kehilangan pekerjaan, juga kehilangan uang, dan bahkan bisa mengalami gangguan kejiwaan?

Pertanyaan seperti inilah yang masih menghantui Kate (bukan nama sebenarnya) selama setahun terakhir, setelah mengalami hal yang mengubah hidupnya secara drastis.

Kate adalah satu dari belasan perempuan di Australia yang menjadi korban pemerasan pria yang menggunakan internet untuk memeras korban, setelah mereka bertemu di situs kencan online.

“Kami hidup dalam ketakutan.” kata Kate kepada program televisi ABC Australia 7.30.

“Ini susah dijelaskan dan diceritakan kepada orang lain, yang tidak pernah merasakan ketakutan seperti ini.”

Salah seorang pria tersebut, Leigh Abbot mengancam dan melakukan pemerasan menggunakan foto telanjang yang dikirim Kate, setelah mereka berteman lewat online.

Program 7.30 sekarang mendapat informasi bahwa Abbot sedang mengajukan banding terhadap keputusan pemenjaraan yang dijatuhkan Pengadilan Distrik Perth bulan Mei lalu.

Bagi Kate, banding itu merupakan tamparan berikutnya bagi dirinya.”

“Dia seharusnya menjalani penjara lebih lama untuk perbuatannya.” kata Kate.

“Dihukum lima tahun sembilan bulan penjara merupakan hukuman ringan.”

“Diperlukan waktu lebih lama untuk membuat kehidupan saya normal kembali.”

“Dia mengatakan segala hal yang ingin kamu dengar”

Ketika mereka masih berkencan, Kate memiliki pendapatan gaji sangat memadai bekerja di sebuah perusahaan tambang di Australia Barat.

Sekarang dia bangkrut, dan harus meminta bantuan dinas sosial untuk membayar sewa rumah dan kebutuhan lain.

Kate menunjukkan percakapannya dengan Leigh Abbott (ABC News)

Selama masa delapan bulan, Kate memberikan uang sebesar $ 115 ribu (sekitar Rp 1,1 miliar) kepada Abbott.

Dan Kate tidak menyadari uang itu digunakan Abbott untuk berjudi dan narkoba.

Semuanya berawal dari bulan Juni 2015 ketika dia mengenal Abbott lewat situs kencan Tinder.

“Kesan pertama saya, Leigh adalah orang baik.” kata Kate.

“Dia sangat ramah, dan mengatakan segala pujian yang ingin kamu dengar.”

“Leigh kemudian menyarankan kami bertukar nomor hp dan mulai ngobrol lewat SMS.”

Pada awalnya pembicaraan hanya berkisar mengenai bagaimana kabar mereka masingmasing hari itu.

“Beberapa bulan kemudian, setelah ngobrol lewat SMS, di saat saya merasa kesepian.”

“Leigh mengirim foto dirinya sendiri, dan saya menjawab dengan mengirim foto telanjang ke dia. Bagi saya ini cuma tindakan iseng.” kata Kate.

“Saya tidak menyadari bahwa fotofoto itu kemudian digunakan untuk memeras saya.”

Leigh Abbot mengancam akan mengirim foto telanjang perempuan yang dikenalnya online untuk memeras. (Facebook: Leigh Abbot)

Abbot memang pintar merayu dan kemudian Kate setuju untuk meminjamkan uang bagi Abbot untuk membayar sewa rumah dan yang lain.

Namun utang itu tidak pernah dibayar kembali dan bujukan kemudian berkembang menjadi ancaman.

“Ancamannya kemudian adalah dengan fotofoto yang saya kirim di hpnya, yang akan dikirimnya ke tempat kerja, bahwa dia akan memuat di sosial media, dia akan mengirimkan ke keluarga untuk menunjukkan betapa buruknya saya.” kata Kate.

“Saya menangis setiap malam. Saya akan mendengar suara beep di hp saya dan jantung saya langsung berdebar.”

“Dia kemudian juga mengancam anakanak saya, bahwa dia akan membakar rumah dengan anakanak saya di dalamnya.”

“Saya akan tidur dengan pisau di kasur, dan anakanak saya tidur di kamar saya.”

Abbot dengan fotonya tanpa baju yang dimuat di Facebook baru akan mendapat kemungkinan pembebasan awal di tahun 2020. (Facebook: Leigh Abbot)

Kate tidak mengetahui ketika itu bahwa dia bukanlah satusatunya yang diperas Abbott.

Abbott memiliki 11 korban lain yang tersebar di Australia Barat, Queensland dan Tasmania.

Tiga diantaranya diperas karena foto telanjang.

Yang lainnya diancam bahwa mereka akan didatangi anggota gang dari kelompok motor gede (moge).

Kepolisian Australia Barat berhasil mengumpulkan belasan ribu percakapan SMS untuk membuktikan tindak kriminal yang dilakukan Abbott.

“Dia pada dasarnya berusaha menyebar pesona ke banyak orang, karena mengetahui beberapa di antara mereka akan tertarik dengannya.” kata Detective Senior Constable Andrew Curtis.

“Pada akhir penyelidikan, ketika dia ditangkap polisi, dia sama sekali tidak memiliki aset, tidak memiliki mobil., dia tidak memiliki mobil, tidak memiliki uang.”

“Dia tidak punya apaapa.”

Tidak adanya hukum yang konsisten di Australia

Para peneliti di Australia mengatakan apa yang mereka sebut sebagai sextortion (pemerasan menggunakan bahanbahan bernada seksual) semakin meningkat.

Dukungan terhadap korban juga meningkat, tetapi Dr Nicola Henry dari RMIT di Melbourne, mengatakan perlunya kampanye penyadaran dengan fokus pada pelaku, bukan pada korban.

“Banyak orang yang menyalahkan korban mengenai adanya pemerasan menggunakan gambar bernada seksual ini.”

“Misalnya dalam survei yang kami lakukan, 70 persen responden mengatakan setuju dengan pernyataan bahwa kita seharusnya lebih sadar untuk tidak mengirimkan gambar telanjang ke orang lain.”

“Kita harus mengirim pesan bahwa mengambil foto orang lain tanpa ijin mereka adalah hal yang keliru.”

“Kita juga harus mengirim pesan bahwa membagibagikan gambar adalah hal yang salah.”

Dia mengatakan bahwa hukum yang konsisten di seluruh Australia akan bisa membantu.

“Sebagian dari masalahnya adalah kita baru dalam tahap awal memahami dampak dan keburukan yang dirasakan korban.”

“Di beberapa negara bagian, sudah ada hukum mengenai larangan penyebaran gambar tanpa persetujuan, sementara di tempat lain belum ada.”

Ini membuat susah untuk mengajukan pelakunya ke pengadilan.

Diperlukan waktu tujuh bulan sejak Kate melaporkan kasusnya sampai kepolisian Ausralia Barat untuk melihat adanya pola pemerasan, dan polisi berhasil menangkap Abbott, dan menetapkannya sebagai tersangka, dan dia akhirnya mengaku bersalah.

Pemerintah Australia Barat mengatakan berencana menerapkan peraturan khusus mengenai penyebaran gambar bernada seksual tahun depan.

Diterjemahkan pukul 13:00 AEST 7/9/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak beritanya dalam bahasa Inggris di sini