Berdamai dengan Taliban?

Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, berencana mengambil langkah besar untuk memulai lembaran baru dalam lanskap politik di negaranya, yaitu berdamai dengan Taliban.

Langkah tersebut mendapat perhatian dunia, karena Afghanistan saat ini dianggap sebagai salah satu negara yang paling tidak aman akibat banyaknya aksi bom bunuh diri, konflik, perang, dan berbagai macam kekerasan lainnya. Pada 2017, PBB mencatat setidaknya ada sekitar 10.000 warga korban konflik di Afghanistan: 7,015 orang di antaranya luka-luka dan 3,438 orang tewas. Perempuan dan anak-anak termasuk korban dari konflik tersebut.

Afghanistan sedang berada di persimpangan, akan menjadi negara yang bisa bersaing dengan negara-negara Asia lainnya atau justru sebaliknya terus terpuruk dalam kubangan konflik yang berkepanjangan.

Proposal damai yang ditawarkan oleh Presiden Ashraf Ghani merupakan sebuah terobosan penting dalam rangka mengakhiri konflik dengan Taliban. Pasalnya Taliban selama ini dianggap sebagai musuh negara, pemberontak, bahkan teroris.

Proposal yang ditawarkan Ashraf Ghani akan mengubah citra buruk yang selama ini disandang oleh Taliban, termasuk di dalamnya gencatan senjata dan pembebasan para tahanan politik. Taliban akan diakui sebagai organisasi yang mempunyai legitimasi politik. Karena itu diperlukan sebuah pembicaraan yang serius dan proses perdamaian yang terbuka di antara kedua belah pihak.

Dari proposal tersebut, Presiden Ahraf Ghani berharap Taliban juga mengakui pemerintah yang sah dan menghargai hukum yang berlaku di Afghanistan. Intinya, Taliban harus bersama-sama kelompok yang lain turut serta membangun Afghanistan dari puing-puing kehancuran akibat konflik yang berkepanjangan. Pertanyaannya, mungkinkan proposal damai dengan Taliban ini terwujud?

Tidak ada yang tidak mungkin dicapai jika semua pihak mempunyai itikad baik untuk mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok. Setelah lama terlibat dalam kubangan konflik, maka saatnya kembali ke meja perundingan untuk mewujudkan perdamaian.

Apalagi sekarang India dan Pakistan memberikan dukungan politik dan ekonomi kepada Afghanistan. Minggu lalu, Afghanistan baru membuka pipa gas ke Tukmenistan, Pakistan, dan India senilai USD 10 Miliar dollar Amerika Serikat. Konon, Taliban akan mendapatkan fee dari traksaksi bisnis tersebut.

Hal tersebut membuktikan, bahwa negara-negara yang berbatasan langsung dengan Afghanistan juga mempunyai kepentingan yang sama, yaitu stabilitas politik yang akan mendukung sepenuhnya stabilitas ekonomi.

Namun yang menjadi hambatan besar dalam konteks perdamaian dengan Taliban adalah Amerika Serikat. Jantung konflik sebenarnya bukan pemerintah Afghanistan dengan Taliban, melainkan Amerika Serikat dengan Taliban. Sejak 2001, AS dan NATO melakukan serangan ke kantong-kantong Taliban. Tragedi runtuhnya Menara Kembar World Trade Center di New York telah menjadikan Taliban sebagai musuh utama AS dan sekutunya. Taliban ditengarai sebagai aktor di balik aksi terorisme yang sangat mematikan itu.

Sebagai balasannya, AS dan sekutunya mengirimkan pasukan militer dalam jumlah yang sangat besar untuk menggempur Taliban. Namun operasi militer yang dilakukan AS tidak menjadikan Taliban semakin lemah, melainkan justru semakin kuat dan eksis melakukan aksi bom bunuh diri dan serangan terhadap tentara AS dan sekutunya.

Taliban tidak hanya menganggap AS sebagai musuh utama, melainkan pemerintah Afghanistan yang selama ini mendukung AS. Karena itu, bagi Taliban menentang pemerintah Afghanistan sama halnya menentang AS, karena mereka berada dalam satu persekongkolan.

Kondisi objektif politik dan ekonom dalam negeri AS yang semakin terpuruk membuat Taliban semakin leluasa melakukan konsolidasi, karena Obama mengambi kebijakan untuk menarik sebagian besar militernya dari Afghanistan. Faktanya, Taliban sejak itu justru semakin kuat melakukan konsolidasi internal dan semakin mudah melancarkan aksi bom bunuh diri dan serangan mematikan. Sementara Presiden Donald Trump tidak mempunyai strategi yang jelas dalam menghadapi Taliban.

Saat ini belum ada sikap resmi dari AS terkait proposal damai dengan Taliban. Padahal inti masalahnya adalah perseteruan antara Taliban dengan AS. Sepertinya AS akan sangat berat berdamai dengan Taliban, karena Donald Trump akan berada di balik kubu konservatif yang selama ini mempunyai doktrin perang dengan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Kabarnya Trump akan mengirimkan militer tambahan ke Afghanistan untuk menggempur Taliban.

Maka dari itu, Presiden Ashraf Ghani tidak bisa berdiri sendiri dalam mewujudkan perdamaian dengan Taliban. Dari pihak Taliban pun sudah memberikan syarat, bahwa perdamaian hanya bisa dilakukan dengan pihak AS yang selama ini telah melakukan operasi militer ke kantong-kantong mereka.

Bagi Taliban, perdamaian dengan pemerintah Afghanistan lebih mudah, karena mereka dapat menjadikan kepentingan dalam negeri sebagai pijakan bersama. Namun perdamaian dengan AS pasti akan lebih rumit karena terkait dengan pangkalan militer AS di Afghanistan. Jika mereka masih berada di sana dalam jumlah yang besar, maka perdamaian akan jauh api dari panggangnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sedang berada di Afghanistan untuk membantu proses perdamaian di antara berbagai suku, termasuk dengan suku Pashtun yang merupakan basis kekuatan Taliban selama ini. Kehadiran Jusuf Kalla dapat menjadi oase bagi Afghanistan dalam rangka menindaklanjuti kunjungan Presiden Jokowi beberapa minggu lalu.

Itu maknanya, Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi Afghanistan dalam merajut kebhinnekaan sebagai kekuatan utama membangun solidaritas kebangsaan. Namun yang paling berat dalam mewujudkan perdamaian adalah faktor-faktor geopolitik dan eksternal yang sedang bermain di Afghanistan. Maka dari itu, diperlukan diplomasi yang serius khususnya dengan AS untuk mendorong sepenuhnya perdamaian di Afghanistan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *