Beras Kemasan Tak Berizin Ini Diedarkan di Sejumlah Kota di Jatim

MK, tersangka yang diduga memproduksi beras kemasan secara ilegal di Trenggalek mengaku megedarkan beras produksinya di sejumlah pasar tradisional dan toko kelontong.

“Saya menjalankan usaha pengemasan beras sudah tiga tahun, kalau penggilingannya sejak tahun 2009 lalu,” kata MK saat ditemui detikcom di rumahnya, Kamis (13/7/2017).

Menurutnya, bahan baku beras serta gabah yang diproduksi didapatkan dari berbagai pihak, mulai petani hingga masyarakat yang menjual dalam skala kecil. Beras tersebut selanjutnya dilakukan pemilahan sesuai dengan kulitas serta jenisnya dan dilakukan pemutihan melalui mesin penggilingan.

“Kalau jenis Bengawan saya ambil dari wilayah Trenggalek, kemudian Bramo dari Nganjuk, sedangkan jenis Mentik Wangi dari wilayah Ponorogo,” ujarnya.

Ditambahkan, terdapat beberapa merek yang sengaja tersangka gunakan untuk mengemas beras yang diproduksi. Di antaranya Mangga Legi, Melon, Raja, Bianglala, serta Bintang Mas.

Berbagai kemasan bermerek itu didapatkan dari salah satu pedagang di Trenggalek, sedangkan khusus untuk merek Bintang Mas, MK mengaku melakukan pemesanan sendiri kepada tukang sablon.

Pihaknya mengklaim seluruh bahan baku beras masih layak untuk dikonsumsi, namun ia mengakui tidak memiliki perizinan yang lengkap untuk memproduksi beras dalam kemasan maupun penggunaan merek tersebut.

“Saya tahu kalau ada aturan sendiri untuk produksi dan peredarannya ya baru ini, karena selama ini kami kira ijinnya cukup penggilingan padi, berupa SIUP dan HO,” jelasnya.

MK memastikan tidak memakai bahan kimia dalam proses pemutihan beras, namun hanya menggunakan air sumur tanpa ada bahan campuran lainnya. Air sumur tersebut dialirkan pada saat proses penggilingan.

Sebelumnya, Polres Trenggalek menggerebek gudang sekaligus tempat produksi beras dalam kemasan milik MK di Desa Sambirejo, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek. Dari tempat kejadian, polisi menyita belasan ton beras berbagai jenis dan merek, alat produksi serta berbagai kemasan kosong.

“Kami menjerat tersangka dengan Undang-Undang Pangan, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, serta UU Perdagangan. Nanti juga akan kami lihat hasil dari uji laboratorium, kalau terbukti memakai kimia maka akan dikenak juga Undang-undang Kesehatan,” kata Kasatreskim Polres Trenggalek, AKP Sumi Andana.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *