Bencana Kekeringan di Trenggalek Meluas

Trenggalek Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek terus meluas. Dari semula hanya tiga desa, kini bertambah menjadi 13 desa.

Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus menggelontorkan bantuan air bersih kepada warga terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Joko Rusianto mengatakan, ke13 desa adalah Mlinjon, Suruh, Jatiprahu, Prambon, Ngrandu, Wonocoyo, Cakul, Puru, Gador, Karangtengah, Timahan, Bogoran dan Desa Gading.

“Jadi memang benar, untuk kekeringan terus bertambah, tapi kami berupaya keras untuk membantu masyarakat dengan mengirimkan air bersih. Begitu ada surat resmi yang masuk, kami akan segera tindaklanjuti dengan pengiriman,” katanya, Jumat (22/9/2017).

Menurutnya tambahan desadesa terdampak tersebut seluruhnya merupakan wilayah yang rutin mengalami kekeringan setiap kali musim kemarau. Dijelaskan, saat ini BPBD setempat bekerjasama dengan PDAM Trenggalek untuk membantu distribusi air bersih kepada warga.

“Mana yang dikirim PDAM dan mana yang dikirim BPBD semuanya sudah terjadwal dengan baik, sehingga semua desa terdampak tersebut bisa terlayani. Bantuan ini sifatnya gratis,” ujarnya.

Lebih lanjut Joko menjelaskan, khusus untuk wilayah Kecamatan Panggul pihaknya menyiapkan tiga unit mobil tangki untuk melayani desadesa di sekitarnya. Mengingat wilayah tersebut lokasinya jauh dari pusat kota.

“Tiga mobil itu menginap di sana dan mengambil air dari PDAM Panggul, karena kalau mengambil dari Trenggalek tidak mungkin, terlalu jauh,” jelasya kepada sejumlah wartawan.

Sementara itu Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengaku terus berupaya untuk mengangani bencaa kekeringan di wilayahnya, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang.

“Di beberapa wilayah yang terdampak ini kami sedang lakukan langkahlangkah teknis, seperti di Desa Terbis Kecamatan Panggul, di sana itu sumber airnya sudah berpindah lokasi lebih atas, sehingga kemungkinan akan bisa dilakukan pemipaan,” katanya.

Selain itu saat ini petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) juga tengah melakukan proses penelitian untuk mendeteksi titiktitik sungai bawah tanah yang kemungkinan bisa dijadikan sumur.

“Untuk proses distribusi air ke titik kekeringan tetap kami lanjutkan hingga bencana krisis air selesai,” jelasnya.

Sesuai dengan data di BPBD Trenggalek, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan mencapai 75 desa tersebar di 13 kecamatan. Kawasan rawan krisis air tersebut ratarata berada di wilayah pegunungan tandus.