Belasan Warga Rusia Nyoblos 2 Kali di Pilpres, Benarkah?

Presiden Vladimir Putin memenangkan Pilpres Rusia 2018 dengan perolehan suara lebih dari 70 persen. Namun, kemenangan Putin diwarnai dugaan beberapa warga Rusia mencoblos 2 kali.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (22/3/2018), reporter dari Reuters memotret setidaknya 17 orang yang mencoblos di dua tempat berbeda. Lokasi pencoblosan yakni di Kota Ust-Djeguta, sisi selatan Rusia dekat Georgia.

Foto-foto tersebut kemudian ditunjukkan ke salah satu anggota pemilihan, Leila Koichuyeva. Koichuyeva menyebut mereka adalah orang kembar.

“Mereka bisa jadi kembar,” kata Koichuyeva.

Petugas pemilihan yang bertugas di TPS 217, Zukhra Chomaeva, meragukan orang yang mencoblos dua kali itu adalah orang yang sama.

“Bagaimana kita tahu mereka orang yang sama? Mereka mungkin terlihat sama,” ujar Chomaeva.

Reuters setidaknya merilis 4 foto dari 17 foto yang diyakini menampilkan orang yang sama namun memilih lebih dari sekali.

Salah seorang di antara 17 orang itu adalah Ludmila Sklyarevskaya. Sklyarevskaya memilih di TPS 215 dan 216. Dia telah membantah mencoblos dua kali.

Mereka yang diyakini mencoblos dua kali kebanyakan merupakan PNS. Seseorang mengidentifikasi Sklyarevskaya sebagai wakil direktur untuk kesehatan dan keselamatan.

Sklyarevskaya bersama 8 wanita lain dan satu orang pria mendatangi TPS 216. Namun 20 menit kemudian mereka mencoblos lagi di TPS 215 yang berjarak hanya beberapa meter dari TPS sebelumnya.

Sklyarevskaya menegaskan dia hanya mencoblos sekali di TPS 217. Sklyarevskaya justru balik bertanya ke reporter Reuters yang coba menanyainya.

“Siapa yang mengarahkan Anda untuk melakukan penyelidikan ini? Anda tidak memiliki hak untuk terlibat dalam sistem pemilihan,” tutur Sklyarevskaya.

KPU Rusia merilis hasil resmi Pilpres 2018 dengan Putin meraup perolehan mayoritas 76,7%. Jumlah pemilih nasional tercatat mencapai 67%. Sedangkan di tiga TPS di kota Ust-Djeguta sendiri jumlah pemilih mencapai 81,5%. Di tiga lokasi itu Putin menang dengan 89,86%.

Kremlin menanggapi laporan ini dengan menyatakan, apabila laporan Reuters didukung petugas di area pemilihan, maka hal itu merupakan hal yang harus diwaspadai. Sebaliknya apabila tak ada dukungan tersebut, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dari laporan Reuters.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *