Belajar dari Korea Selatan

I shall make that trip. I shall go to Korea.” (Dwight D. Eisenhower).

Pagi hari adalah kunci. Dia adalah pembuka hari. Ketika pagi kita menyenangkan, maka besar kemungkinan kita akan lebih bersemangat dan ceria menjalani hari. Namun jika di “pembukaan” saja sudah “kemrungsung“, biasanya sepanjang hari akan berjalan murung. Apalagi pada hari kerja. Meskipun belum tentu senantiasa demikian, namun patut diduga bahwa suasana pagi dapat menentukan kelancaran kerja.

Bagi saya, pagi hari yang paling indah adalah pagi hari di rumah, pada akhir pekan. Home sweet home. Gubukku istanaku. Bisa bersantai menemani buah hati yang terkecil berlatih menggambar, sembari mendengarkan sang kakak memainkan jari-jemari lentiknya pada piano klasik tua kesayangannya. Komposisi musik River Flows in You karya Yiruma itu sungguh indah, dan biasanya saya tak pernah bosan meminta putri sulung saya itu untuk berulang-ulang memainkannya sampai dia merasa bosan dan minta izin untuk memainkan lagu lainnya.

Lagu instrumental piano River Flows in You karya Yiruma memang indah memanjakan telinga, dengan melodi yang ringan, santai, sedikit galau namun romantis, renyah dicerna telinga. Tak heran jika lagu ini terpilih menjadi soundtrack film Twilight yang sempat begitu populer di kalangan anak muda.

Yiruma, pianis muda Korea Selatan lulusan King’s College London yang bernama asli Lee Ru-Ma ini memang musisi cerdas yang terkenal dengan komposisi-komposisi musiknya yang simpel, ringan namun indah di telinga. Ia mulai bermain piano sejak usia lima tahun, dan pada usia sebelas tahun pindah ke London untuk belajar di The Purcell School of Music. Hingga akhirnya, ketika kuliah di King’s College of London, ia menghasilkan album pertamanya yang berjudul Love Scene.

Uniknya, meski tumbuh di Inggris dan telah sukses di industri musik dalam usia muda, ia lebih memilih melepaskan kewarganegaraan Inggris dan membuktikan nasionalisme pada negeri asalnya dengan memenuhi panggilan wajib militer untuk bergabung dengan Angkatan Laut Korea Selatan selama dua tahun. Sebuah contoh anak muda yang telah berprestasi “mendunia”, namun tetap mencintai negaranya.

Memang, salah satu kunci sukses Korea Selatan menjadi negara maju adalah “self-confidence“, kepercayaan diri bangsanya yang begitu tinggi. Orang Korea Selatan terkenal tangguh, ulet, dan percaya diri, mereka tak hanya pandai meniru kemajuan negara lain, namun juga dengan bekal keuletan dan kepercayaan diri yang tinggi, mereka berhasil mendongkrak kreativitas serta “mengekspor” kemajuan teknologi dan budayanya ke negara lain. Saat ini, siapa yang tak kenal Samsung, LG, KIA, Hyundai, dan merek-merek Korea lainnya? Tak hanya industrinya, bahkan virus budaya pop Korea, “K-Pop”, pun berhasil merambah berbagai belahan dunia.

Kunci berikutnya yang membuat Korea Selatan maju adalah kemauan belajar bangsanya yang sangat tinggi. Perusahaan-perusahaan ternama Korea tidak segan mengirim kader-kadernya untuk belajar dari negara-negara maju. Salah satu contoh yang terkenal, misalnya, strategi Samsung yang mengirimkan para pegawai “bintang”-nya ke berbagai belahan dunia selama setahun melalui sabbatical program, terbukti berhasil membawa Samsung menjadi merek kelas dunia menyaingi Apple. Langkah Samsung yang brilian ini terpilih menjadi salah satu keputusan bisnis terbesar dalam buku The Greatest Business Decisions of All Time terbitan Fortune Books, New York.

Ketika berkesempatan berdiskusi dengan Duta Besar Korea Selatan di Geneva, Swiss saya mengajukan sebuah pertanyaan klise, apa rahasia sukses Korea Selatan bisa menjadi salah satu kekuatan industri teknologi seperti sekarang ini? Beliau menjawab, Korea Selatan bisa maju berkat fokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas utama strategi pembangunannya. Dengan terbatasnya sumber daya alam yang dimiliki, memang logis jika strategi nasionalnya bertumpu pada daya saing sumber daya manusia.

Beliau lalu menceritakan, betapa jiwa kompetitif ditanamkan sejak dini pada setiap anak-anak di sekolah sejak level dasar melalui beban kurikulum yang begitu berat dan padat, yang menurut beliau pun, kadang terlalu berat sehingga seringkali muncul berbagai kritik yang menganjurkan sekolah-sekolah di Korea Selatan untuk lebih mengurangi beban stres anak-anak didiknya. Yang jelas, anak-anak di Korea Selatan memang terbiasa digembleng keras sejak dini sesuai minat dan bakatnya.

Tak hanya bagi mereka yang berbakat di bidang sains dan teknologi. Bagi anak-anak yang ingin berkarier di olahraga golf, misalnya, latihan berjam-jam memukul bola golf di driving range menjadi menu setiap harinya. Bagi yang punya bakat musik, dance, sepakbola, dan bidang-bidang lain pun demikian. Tak heran jika Korea Selatan berhasil mencetak bakat-bakat yang kompetitif di banyak bidang, tak hanya di bidang industri dan teknologi, namun juga golf, sepakbola, dan musik.

I shall make that trip. I shall go to Korea.” Entah apa yang ada dalam pikiran Dwight D. Eisenhower, Presiden ke-34 Amerika Serikat ketika mengucapkan hal ini di masa lampau. Namun, memang nyatanya saat ini produk-produk Korea mulai merangsek menyaingi produk-produk Amerika, dan negeri kecil ini telah berkembang menjadi salah satu destinasi favorit untuk berkunjung, bukan hanya untuk berwisata, namun juga untuk belajar. Terlepas dari ketegangan yang belum kunjung terselesaikan antara Korut dan Korsel, namun ternyata rakyat Korea Selatan berhasil mengelola kondisi yang unfavorable itu menjadi kemajuan yang luar biasa.

Selalu ada aspek positif dan negatifnya, namun tak ada salahnya jika kita belajar dari hal-hal yang positif dari bangsa lain, seperti Korea Selatan. Jika saja negeri yang dilimpahi rezeki sumber daya alam seperti Indonesia dibarengi dengan etos kerja, semangat belajar, dan daya saing sumber daya manusianya, insya Allah negeri tercinta ini benar-benar dapat menjadi kekuatan dahsyat ekonomi di masa depan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *