Begini Penampakan Artefak Kepala Naga dari Gunung Lalakon

Bandung Museum Sri Baduga memiliki koleksi baru yang berasal dari penemuan warga di Gunung Lalakon, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung berupa artefak yang menyerupai kepala naga.

Artefak berwarna coklat pudar itu memiliki panjang sekitar 110 cm, diameter terkecil 20 cm dan terbesar 25 cm serta memiliki bobot tak kurang dari 30 kg. Belum bisa dipastikan apakah artefak tersebut dibuat dari bongkahan batu atau berupa cetakan.

bagian kepala artefak menyerupai bentuk naga dengan belalai gajah yang mengarah ke atas. Foto: Tri Ispranoto
Kurator Museum Sri Baduga Romulo membeberkan hasil pengamatan yang dilakukan setelah mendapat artefak tersebut. Pada bagian kepala artefak menyerupai bentuk naga dengan belalai gajah yang mengarah ke atas.

Pada bagian kepala juga tedapat gigigigi tajam dan lidah yang menjulur ke luar. Sementara di atasnya terdapat mahkota berbentuk teratai dengan kuncup berupa persegi enam.

“Ada tiga pasang telinga, satu telinga tengah kiri sedikit rusak diduga karena benturan. Bagian gigi depan dan ujung lidah juga sudah rusak,” beber Romulo kepada detikcom di Museum Sri Baduga, Senin (18/9/2017).

Artefak berwarna coklat pudar itu memiliki panjang sekitar 110 cm, diameter terkecil 20 cm dan terbesar 25 cm serta memiliki bobot tak kurang dari 30 kg Foto: Tri Ispranoto
Di bagian leher terdapat sejumlah lilitan seperti kalung lengkap dengan batubatu berwarna ungu dan kuning. Dari tiga lilitan hanya tersisa bagian tengah yang berisi dua batu kuning dan tiga batu ungu.

“Sisanya ini hilang diduga ada perlakuan manusia seperti dicongkel. Jadi hanya tersisa yang tengah ada lima batu yang melingkar,” katanya.

Sedangkan pada bagian belakang menyerupai ular dengan ornamen lilitan ular di atasnya. Terdapat juga aneka ornamen lain di beberapa bagian yang menyerupai sisik dengan guratgurat rapi.

“Nah di bagian ekor ini ada potongan simetris bukan karena dipotong. Diduga ini ada bekas pegangannya,” sebut Romulo.

Sejauh ini, kata Romulo, pihaknya hanya bisa menyimpan dan mengidentifikasi dari segi kasat mata. Sementara umur, bahan, dan keaslian artefak akan terkuak setelah dilakukan penelitian oleh tim Balai Arkeologi Jabar.

“Koleksi ini belum akan dipajang di museum karena harus ada penelitian yang jelas dulu. Sementara benda ini kami simpan di ruangan khusus untuk nantinya diteliti lebih lanjut,” tandas Romulo.