Bebas dari Kebahagiaan

Sejak mengenal huruf saya sudah didoktrin agar rajin belajar, terus berlatih, pantang menyerah agar bisa sukses sehingga masa depan bahagia sampai detik terakhir kematian tiba. Karena alasan itulah banyak orangtua yang mempersiapkan anakanaknya sejak awal dengan menyekolahkan ke tempat terbaik, termoderen dan tereksklusif.

Banyak yang berhasil; mereka sukses dan bahagia. Namun, tak sedikit yang sukses tapi tak bahagia. Dan, yang paling celaka tentunya mereka yang tidak sukses dan tidak bahagia. Sementara ukuran kesuksesan dan kebahagiaan kebanyakan hanya berdasar pada banyaknya jumlah ilmu dan harta yang mereka miliki, lebih utama penampakannya, visual semata.

Sukses dan bahagia, tentu saja itu keren tidak ada yang salah dengan itu. Ironisnya, untuk tujuantujuan tersebut tidak sedikit orang yang berusaha mencapainya dengan caracara yang justru tidak membahagiakan teman, tetangga, kolega, hingga keluarga.

Beberapa orang mencari kebahagiaan dengan cara instan seperti mengikuti seminarseminar, workshop, pelatihan berbayar yang dilakukan di hotel berbintang. Atau, melampiaskannya dengan mengkonsumsi narkoba yang pertaruhannya sangat besar.

Yang lebih menyedihkan, beberapa orang menipu dirinya sendiri dengan mengakungaku dan meyakinyakinkan orang lain bahwa dirinya bahagia. Misalnya, dengan pamer kebahagiaan di sosial media. Tentu tidak bisa digeneralisasi juga. Namun, kalau kita perhatikan setiap detik, menit, sepanjang hari banyak status warganet yang mengabarkan bahwa dirinya sedang berbahagia.

Mereka memposting dan menyebarkan aura positif dengan misalnya mengatakan, Senin pagi adalah hari paling membahagiakan sedunia karena tanpa Senin tak akan pernah ada Jumat ceria. Atau, senang dan bangga karena tetap bersemangat bekerja lembur sampai tengah malam tiba. Maksud mereka tentu saja baik, menyebarkan semangat untuk terus berbahagia dengan caracara yang sederhana.

Postingan semacam ini memang lebih diminati dan direspons oleh warganet dibanding postingan yang menyebarkan kebencian, mencari kesalahankesalahan orang atau melakukan penyinyiran.

Sementara, statusstatus “jujur” yang mengabarkan kerumitan, kegelisahan dan kegalauan hidup “tidak laku”, tidak menarik dan tidak viral. Mungkin warganet bosan, dari pagi sampai pagi terusmenerus telah dihajar berbagai persoalan yang nyaris tak pernah kelar.

Tekanan pekerjaan, deadline, targettarget mingguan, bulanan yang harus dicapai, belum lagi tekanan dari lingkungan pertemanan, politik kantor, jalan yang macet, lalu lintas yang semrawut adalah situasi yang bisa membuat warganet lebih merasakan ketidakbahagiaan.

Banyak yang sepakat, untuk bisa bahagia perlu pengorbanan, kerja keras, konsisten yang intinya harus melewati proses yang tak menyenangkan. Berakitrakit ke hulu, berenangrenang ketepian, walau kadang tak jarang juga hanya capek endingnya.

Meski begitu, sampai hari ini nyaris semua makhluk penghuni bumi bulat ingin hidupnya bahagia. Benarkah bahagia adalah pilihan hidup yang tepat? Bagi mereka yang setuju, tampaknya harus meredefinisi, menetapkan ulang tujuan hidupnya.

Bayangkan jika Anda saat ini menginginkan barang kesukaan yang harganya tak terjangkau dibayar tunai. Maka dengan segala cara, entah mencicil atau menabung sedikitdemi sedikit, berbulanbulan atau bahkan bertahuntahun. Setelah terkumpul datang ke tempat penjualan dan terpenuhilah keinginan itu.

Dia perlu waktu bertahuntahun merasakan penderitaan dan ketidaknyamanan untuk meraih kebahagiaan yang hanya beberapa menit, saat ia memperoleh barang yang diinginkan. Setelahnya, ia harus menabung atau mencicil lagi, harus mengalami penderitaan lagi, untuk membeli barang lain untuk mendapatkan kebahagiaan lagi.

Apakah kebahagiaan seperti itu sebanding dengan penderitaan yang dialami? Memang, semesta telah mempunyai sistem yang tak bisa diubah, kebahagiaan dan penderitaan bak dua sisi selembar mata uang, tak bisa dipisahkan. Selama kita terus memburu kebahagiaan, penderitaan juga terus akan menyertai ke mana pun kita pergi.

Agar kita terbebas dari penderitaan, satusatunya cara adalah dengan menghilangkan (keinginan untuk mengejar) kebahagiaan. Apapun situasinya, badai menghantam atau kebanjiran keberuntungan, sikap kita tetap cool, netral dan “biasa saja”.

Caranya sebenarnya cukup gampang, dengan mengelola emosi dan mengubah pola pikir. Hanya saja, “sebenarnya cukup gampang” itu artinya “nggak gampanggampang amat juga” bukankah mengubah pikiran itu sama dengan sulitnya mengcrack sebuah password? Memang, ternyata sulit, tapi bukan berarti tak mungkin.

Orang yang telah terbebas dari penderitaan dan kebahagiaan, bisa menjalani hidup, melakukan aktivitas keseharian bukan berdasarkan keinginankeinginan namun karena hal itu memang harus dilakukan. Bukan pula melakukan sesuatu karena pencitraan, agar dipuji oleh atasan, dianggap baik oleh calon pasangan atau calon mertua.

Sederhananya, kalau ada status warganet di media sosial yang mencari tahu bank mana saja yang buka di hari Minggu, kita bisa memberikan informasi kepadanya tanpa berpikir apakah dia lakilaki, perempuan atau transgender, dia berasal dari Waingapu atau Wonogiri, dia penyembah pohon atau barangbarang branded.

Jika ada kucing kedinginan, terlantar di jalanan sebisa mungkin kita membantunya. Minimal dengan memotret dan memposting ke sosial media agar warganet pecinta binatang atau garda satwa bisa menyelamatkannya. Lepas dari kita penyayang kucing atau tidak suka kucing. Segampang dan sesederhana itu.