Banyak Senyum, Kim Jong-Un Bikin Warga Korsel Terpesona

Pertemuan bersejarah antara pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in baru saja usai. Pertemuan itu disambut oleh warga Korsel yang terpesona melihat sikap Kim Jong-Un yang berbeda, yang selama ini dianggap sebagai pemimpin otoriter, dingin dan menakutkan.

Penampilan Kim dalam pertemuan bersejarah kemarin, Jumat (27/4) disiarkan langsung oleh stasiun televisi Korsel dan disaksikan oleh jutaan warga Korsel. Banyak warga Korsel menganggap, Kim menunjukkan sisi berbedanya yang selama ini tak pernah ditunjukkannya ke publik.

Kim Jong-Un
Kim Jong-Un dan Moon Jae-in (Foto: Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters)

Dalam lawatannya ke Korsel, Kim terlihat bersikap hangat dengan senyum terus menghiasi wajahnya. Pemimpin Korut itu juga beberapa kali berkomentar lucu dan tertawa.

“Saya dengar Kim Jong-Un membuat lelucon dan mendengar itu membuat saya sadar bahwa dia juga manusia biasa,” kata Choi Hyun-ah, warga Korsel berumur 24 tahun seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (28/4/2018).

Suara serak Kim juga menarik perhatian warga Korsel. “Sangat, sangat aneh mendengar suara Kim Jong-Un di TV,” cetus Kim Kyung-ah, seorang ibu berumur 32 tahun di Seoul.

“Maksud saya, saya tahu dia ada. Namun hari ini pertama kali saya merasa “Oh Tuhanku, Kim Jong-Un adalah orang yang nyata,” katanya kepada media Korea Herald.

“Sebelum hari ini, rasanya seperti Kim itu sejenis karakter kartun. Menyenangkan melihat dia bicara hal-hal normal seperti mi dingin, bukan senjata nuklir atau perang,” imbuhnya.

Pada Jumat (27/4), Kim Jong-Un menjadi pemimpin Korut pertama yang menginjakkan kaki di wilayah Korsel sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata sekitar 65 tahun silam. “Saya berjalan sekitar 200 meter, dibanjiri dengan emosi,” ujar Kim sebelum memulai pertemuan bersejarah dengan Moon di desa gencatan senjata Panmunjom di Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea.

Kim mengatakan, berjalan melintasi perbatasan kedua Korea ternyata “begitu mudah” hingga membuatnya heran “mengapa butuh waktu lama untuk melakukannya setelah 11 tahun,” ujarnya mengacu ke pertemuan puncak terakhir di Pyongyang, Korut pada tahun 2007.

Dalam dua pertemuan puncak sebelumnya pada tahun 2000 dan 2007, ayah Kim, Kim Jong Il bertemu para pemimpin Korsel saat itu, namun hubungan kedua Korea kemudian memburuk setelah pemerintahan konservatif berkuasa di Seoul pada tahun 2008 dan Pyongyang memacu program senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *