Bangladesh Terima 10 Ribu Rohingya yang Tertahan di Perbatasan

Dhaka Ribuan pengungsi Rohingya yang sebelumnya tertahan di perbatasan Bangladesh, kini telah diperbolehkan masuk ke kampkamp pengungsian. Namun mereka harus menjalani pemeriksaan ketat terlebih dahulu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (20/10/2017), badan Perserikatan BangsaBangsa (PBB) menyatakan kekhawatiran terhadap gelombang baru sekitar 10 ribu pengungsi Rohingya dari Myanmar yang dihentikan saat akan melintasi perbatasan Bangladesh.

Para pengungsi, termasuk anakanak dan lansia, yang tertahan di perbatasan Bangladesh, terpaksa menunggu sambil berjongkok di lahan persawahan setempat yang becek. Kebanyakan dari mereka mengalami dehidrasi dan lapar setelah menempuh perjalanan panjang dari Myanmar.

[Gambas:Video 20detik]

Tidak diketahui pasti mengapa gelombang baru pengungsi Rohingya itu tertahan di perbatasan. Badan Pengungsi PBB atau UNHCR telah menyerukan kepada otoritas Bangladesh untuk ‘segera menerima’ gelombang pengungsi itu.

Juru bicara Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB), Mayor Iqbal Ahmed, menuturkan kepada AFP bahwa gelombang pengungsi yang sempat tertahan di Anjumanpara dekat kota perbatasan Ukhiya, telah menjalani pemeriksaan ‘sangat hatihati’ untuk mencegah ‘pengunjung tak diinginkan’.

“Setelah pemeriksaan ketat, mereka dibawa ke perluasan kamp Kutupalong, tempat mereka akan menerima kebutuhan pokok dan kemudian digeser ke kamp lainnya,” tutur Ahmed dalam pernyataannya.

Terpisah dari gelombang baru ini, PBB menyebut sekitar 582 ribu pengungsi Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak akhir Agustus, saat konflik kembali pecah di Rakhine, Myanmar. Konflik diawali dengan serangan kelompok militan Rohingya (ARSA) yang memicu operasi militer besarbesaran.

Bangladesh yang kewalahan menampung gelombang pengungsi Rohingya, mengkhawatirkan keberadaan militan radikal yang ikut masuk ke kamp pengungsian di wilayah mereka, dengan menyusup di antara para pengungsi Rohingya.

Gelombang pengungsi baru ini kebanyakan datang dari distrik Buthidaung di Rakhine, yang letaknya relatif jauh dari perbatasan Bangladesh. Beberapa pengungsi menuturkan kepada koresponden AFP, mereka menempuh perjalanan beberapa hari untuk mencapai perbatasan Bangladesh, karena desa mereka diawasi militer dan mereka kehabisan bahan makanan.

“Kami kehabisan makanan. Tidak ada pasar di desa kami. Terlalu banyak larangan. Kami tidak punya kebebasan. Lebih dari lima orang tidak bisa beribadah bersama,” tutur salah satu pengungsi, Shamse Alam (21), dari desa Yin Ma Kyaung Taung, dekat distrik Buthidaung.

Sanjida Khatun dari desa Phone Nyo Lake melarikan diri bersama suaminya, Mohammad Amin, ketiga putranya dan seorang bayi berusia 15 hari. Dia mengaku diserang priapria bersenjata saat dalam perjalanan ke perbatasan Bangladesh. “Mereka tanpa pandang bulu membacok suami saya hingga tewas. Saya berhasil kabur dengan anakanak saya,” ucapnya.

(nvc/ita)